Kisah Macan Kumbang Penghuni Gunung Koneng yang Tersangkut Jerat

Round-Up

Kisah Macan Kumbang Penghuni Gunung Koneng yang Tersangkut Jerat

Tim detikJabar - detikJabar
Sabtu, 04 Jul 2026 10:30 WIB
Ilustrasi Macan Kumbang.
Ilustrasi macan kumbang (Foto: Istimewa).
Sukabumi -

Suara embikan domba yang bersahutan riuh memecah keheningan di batas Kampung Cikurutug, Desa Cirendang, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Kepanikan hewan-hewan ternak itu bukan tanpa alasan.

Di balik rimbunnya semak belukar, tak jauh dari pagar pembatas lahan, sesosok bayangan hitam pekat tampak meronta tak berdaya. Sosok itu bukanlah babi hutan yang kerap menjadi sasaran jerat warga, melainkan sang penguasa rimba, seekor macan kumbang.

Pemandangan langka sekaligus menegangkan pada Kamis (2/7/2026) itu terekam jelas lewat kamera ponsel warga. Jerat kawat yang sejatinya ditebar untuk menghalau hama babi perusak ladang, justru menjerat kaki sang predator eksotis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Andri Firmansyah, warga setempat yang paham betul topografi wilayah tersebut, menceritakan bagaimana macan kumbang itu bisa sampai terperangkap di area yang nyaris bersinggungan langsung dengan permukiman.

"Jadi ceritanya itu teh, itu bukan di dalam kawasan ya, di luar kawasan Taman Nasional di daerah perkampungan warga. Tepatnya di Kampung Cirendang Atas, kalau orang sini bilang itu daerah Puncak Angin, tempat main kolecer (baling-baling bambu). Tapi masuk ke kawasan perkebunan Sanghyang PT Yanita," kata Andri saat memberikan keterangannya, Jumat (3/7/2026).

ADVERTISEMENT

Mengingat jarak kandang domba yang begitu dekat dari lokasi terjeratnya hewan buas tersebut, warga meyakini sang macan tengah mengendap-endap di bawah gelapnya malam demi mencari mangsa, sebelum akhirnya langkah kakinya terhenti oleh perangkap kawat.

"Jadi ada warga masang jerat babi di jalur yang biasa dilintasi, cuman kebetulan di situ tuh ada kandang domba. Mungkin si hitam itu lewat, kena jerat," tambah Andri.

Kabar terperangkapnya satwa langka pembawa karisma hutan ini pun dengan cepat sampai ke telinga petugas Taman Nasional. Pada siang harinya, tim evakuasi meluncur ke area perkebunan Sanghyang bermodalkan senapan bius. Skenario awalnya, sang macan akan ditidurkan sementara demi memastikan keselamatan bersama saat melepaskan jeratan.

Namun, insting liar sang macan rupanya berkehendak lain. Tepat sebelum jarum bius melesat mencari sasaran, ia meronta hebat.

"Kemarin sudah ada petugas dari Taman Nasional, katanya mau dilumpuhkan menggunakan tembakan bius. Cuma enggak tahu terkesima atau gimana, macannya keburu jatuh terpeleset. Dan setengah satu (12.30 WIB) tadi, si kumbang itu berhasil melarikan diri kembali ke arah gunung, ke arah gunung melarikan dirinya," beber Andri.

Kembalinya sang macan ke pelukan Gunung Koneng sebenarnya menyisakan cerita unik tentang koeksistensi warga pinggiran hutan dan satwa liar. Bagi warga Desa Cirendang dan Gandasoli, fenomena turunnya macan tutul maupun macan kumbang adalah siklus alamiah tahunan. Saat musim kemarau tiba atau bertepatan dengan bulan Safar, pakan alami di atas gunung diperkirakan menipis, memaksa satwa ini turun takhta.

Menariknya, alih-alih menganggapnya sebagai monster yang harus diburu, warga lokal seperti Andri justru memiliki julukan khusus untuk predator tersebut.

"Sebenarnya dia tuh 'anak soleh', cuman karena mungkin ketersediaan makanannya atau apalah, enggak tahu di gunungnya itu. Emang sering pribadi saya sendiri yang emang suka survival ke hutan, sering ketemu. Biasa gitu, jarak 100 meter lah ketemu. Biasa emang sering menampakkan," ungkap pria yang gemar menjelajah hutan ini.

Kendati dijuluki 'anak soleh' karena instingnya yang cenderung menghindari interaksi langsung dengan manusia, tuntutan untuk bertahan hidup nyatanya kerap memicu konflik. Dorongan rasa lapar membuat sang predator beberapa kali terpaksa merugikan warga sekitar.

Teror senyap 'si hitam' ini setidaknya terekam dalam dua pekan terakhir, di mana ia sempat mengincar kandang di Cisagu, Desa Margalaksana, hingga nekat turun ke sumber air di Cirendang untuk menggondol anjing peliharaan.

Puncaknya, menjelang musim panen tiba, dua ekor anjing yang bertugas menjaga sawah warga di daerah Cijemlong dilaporkan lenyap.

"Ketika ditelusuri oleh warga, termasuk sayalah ada di dalamnya itu, ternyata anjingnya itu sudah habis dimakan. Ada satu kilo ke atas dagingnya dibawa ke arah daerah Leuwi Awi, di situ ditemukan bekas-bekas si anjing yang dimakan itu," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Warga Sumedang Dikejutkan Kemunculan Macan Kumbang di Pekarangan Rumah"
[Gambas:Video 20detik]
(sya/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads