Dulu Ramai-ramai Pecat Karyawan demi AI, Kini Muncul Penyesalan

Kabar Teknologi

Dulu Ramai-ramai Pecat Karyawan demi AI, Kini Muncul Penyesalan

Fino Yurio Kristo - detikJabar
Kamis, 02 Jul 2026 14:00 WIB
Ilustrasi kecerdasan buatan
Ilustrasi kecerdasan buatan (Foto: Getty Images/CHOLTICHA KRANJUMNONG)
Bandung -

Menjamurnya tren penggunaan kecerdasan buatan (AI) membuat beberapa perusahaan memecat karyawannya, demi menerapkan teknologi tersebut. Namun seiring waktu, keputusan itu tak selalu berjalan sesuai harapan.

Dikutip dari detikINET, beberapa perusahaan kini mengubah pandangannya. Mereka meyakini bahwa AI memang luar biasa, tetapi tak bisa melakukan segalanya. Alhasil, perusahaan tersebut merekrut kembali karyawan manusia seiring dengan kekhawatirna investor terhadap daya tahan tren AI.

Ford adalah salah satu perusahaan yang berbalik arah. Perusahaan otomotif ini dilaporkan mempekerjakan kembali ratusan insinyur manusia berpengalaman untuk menangani masalah kualitas yang tak dapat diselesaikan sistem otomatis. "AI tool luar biasa, tapi ia hanya sebaik informasi yang Anda gunakan untuk melatihnya," kata Charles Poon, vice president of vehicle hardware engineering Ford.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perusahaan lain yang juga lebih fokus pada sumber daya manusia termasuk Commonwealth Bank of Australia dan raksasa software IBM. Tahun lalu, CBA memberhentikan lebih dari 40 staf layanan pelanggan dan menggantinya dengan bot suara AI.

Namun, sistem AI tersebut tidak mampu mengatasi permintaan, berujung pada peningkatan jumlah panggilan, sehingga mendorong CBA membatalkan pemangkasan staf. "Membuat CBA membatalkan pemutusan hubungan kerja ini adalah sebuah kemenangan besar," kata serikat pekerja sektor keuangan Australia.

ADVERTISEMENT

CBA mengakui tidak mempertimbangkan semua pertimbangan bisnis yang relevan saat mengumumkan PHK. Di pihak lain, IBM mengganti fungsi SDM-nya dengan AI yang menangani sekitar 94% tugas rutin, tapi tidak mampu memenuhi 6% sisanya, yang sering kali mencakup dilema etis. IBM lantas mengumumkan rencana melipatgandakan perekrutan manusia.

"Jika kita tidak terus berinvestasi pada rekrutmen tingkat pemula, apa yang akan terjadi dalam 3-5 tahun ke depan?" kata kepala sumber daya manusia IBM, Nickle LaMoreaux yang dikutip detikINET dari CNBC.

Jadi, memberhentikan karyawan saat menggunakan lebih banyak AI tak selalu menawarkan rute terbaik menuju pertumbuhan bisnis. "Menganggarkan teknologi untuk menggantikan manusia tanpa berinvestasi dalam pelatihan atau peningkatan kemampuan membuat tim tidak siap untuk memanfaatkan AI," sebut Intuition Labs.

"Khususnya di antara perusahaan-perusahaan yang mendorong otomatisasi, banyak yang kemudian 'menyesali' PHK, setelah memangkas orang yang justru dibutuhkan untuk mengawasi AI," tambahnya.

Menurut laporan Orgvue, 39% pemimpin bisnis memberhentikan karyawan karena penerapan AI. Namun dari jumlah tersebut, 55% mengakui telah terjadi kesalahan keputusan terkait PHK tersebut.

"Ketika hasil AI tidak konsisten, tidak akurat, atau sulit diterapkan, perusahaan sering kali perlu menghadirkan kembali pengawasan manusia," kata Jessica Zhang, wakil presiden senior APAC di penyedia solusi SDM, ADP.

Sementara itu, 32% manajer perekrutan di AS mengatakan mereka menghapus suatu posisi pekerjaan utamanya karena AI dan kemudian merekrut kembali untuk posisi yang sama atau serupa.

Artikel ini telah tayang di detikINET.

(fyk/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads