Pemkot Bandung menargetkan pengurangan volume sampah hingga 250 ton per hari. Rencananya, Pemkot akan membangun 220 titik pengolahan di kewilayahan untuk mempercepat target tersebut.
Ketua Tim Pengurangan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung Syahriani menjelaskan, timbulan sampah di Kota Bandung mencapai 1.511 ton per hari. Sementara itu, Kota Bandung harus mengurangi ketergantungan pembuangan sampah ke TPA Sarimukti.
"Pembatasan kuota TPA Sarimukti harus menjadi momentum perubahan. Kota Bandung tidak bisa lagi bergantung pada pola lama 'kumpul, angkut, buang'. Ke depan, sampah harus diselesaikan sedekat mungkin dengan sumbernya melalui pengelolaan di tingkat rumah tangga dan kewilayahan," katanya, Kamis (2/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, Pemkot Bandung sedang menginventarisasi calon lokasi pembangunan 220 titik pengolahan sampah di berbagai wilayah. Program ini dirancang untuk menghadirkan fasilitas pengolahan yang lebih dekat dengan masyarakat sehingga pengurangan sampah dapat dilakukan sejak dari sumbernya.
Selain itu, pembangunan fasilitas pengolahan sampah juga didukung berbagai pihak. Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah menyiapkan bantuan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) yang saat ini masih dalam tahap uji coba. Sementara itu, Mabes TNI AD juga memberikan dukungan rencana bantuan mesin pengolahan sampah.
"Pembangunan hingga 220 titik pengolahan sampah bukan sekadar menambah infrastruktur, tetapi membangun ekosistem pengelolaan sampah yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Harapannya, setiap wilayah mampu mengolah sebagian besar sampahnya sendiri sehingga hanya residu yang dikirim ke TPA," ujarnya.
Pemkot Bandung pun menargetkan pengurangan sampah sebesar 125 hingga 250 ton per hari. Pengurangan ini diharapkan mampu memperpanjang umur layanan TPA Sarimukti sekaligus menekan risiko penumpukan sampah akibat keterbatasan kapasitas.
Untuk mencapai target tersebut, DLH menerapkan pendekatan pengelolaan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah. Sampah organik akan diolah menjadi kompos maupun melalui teknologi pengolahan lainnya. Sampah anorganik bernilai ekonomi akan diarahkan ke jalur daur ulang melalui bank sampah dan mitra pengelola, sedangkan sampah anorganik bernilai rendah akan diolah menjadi bahan bakar alternatif melalui teknologi RDF.
"Kami menargetkan pengurangan sampah sebesar 125 hingga 250 ton per hari. Namun, keberhasilan target ini tidak hanya bergantung pada teknologi seperti RDF, melainkan juga perubahan perilaku masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah sejak dari sumber," pungkasnya.
(iqk/iqk)
