Eropa Dikepung Panas Ekstrem, Ilmuwan: Ini Ulah Manusia

Kabar Internasional

Eropa Dikepung Panas Ekstrem, Ilmuwan: Ini Ulah Manusia

Fino Yurio Kristo - detikJabar
Minggu, 28 Jun 2026 15:01 WIB
Ilustrasi gelombang panas
Ilustrasi (Foto: Dok. Detikcom).
Bandung -

Eropa tengah dikepung gelombang panas ekstrem minggu ini. Tak hanya menjadi yang terpanas sepanjang sejarah, fenomena ini juga tercatat sebagai yang paling lembap hingga berisiko memicu ribuan kematian.

Meski saat ini potensi 'Super El Nino' tengah membayangi Samudra Pasifik, para ilmuwan dari jaringan World Weather Attribution menegaskan bahwa fenomena tersebut bukan biang keroknya. Berdasarkan temuan studi terbaru, pemanasan global akibat ulah manusia jelas menjadi penyebab utamanya.

Studi ini membedah data suhu pada tiga hari terpanas yang terjadi antara 22 hingga 29 Juni di wilayah Eropa Barat dan Tengah. Pola cuaca 'kubah panas' (heat dome) bertekanan rendah memang kerap menjebak udara panas dari selatan, namun suhu yang dihasilkan kali ini benar-benar di luar nalar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika menengok ke belakang, gelombang panas Juni pada 50 tahun lalu biasanya bersuhu 3,5 derajat Celsius lebih dingin. Tanpa krisis iklim, suhu ekstrem yang terjadi belakangan ini adalah peristiwa langka yang peluangnya kurang dari sekali dalam 10.000 tahun. Bayangkan saja, suhu siang hari di salah satu kota di Prancis menembus 44 derajat Celsius, sementara di Spanyol, suhu malam hari tetap 'membara' di atas 30 derajat Celsius.

"Peristiwa ini tidak akan mungkin terjadi pada bulan Juni tanpa adanya perubahan iklim. Suhu malam hari selama tiga hari tersebut tidak akan mungkin terjadi kapan pun sepanjang tahun tanpa adanya perubahan iklim." kata Theodore Keeping dari Imperial College London, dikutip detikINET dari New Scientist.

Kondisi makin parah karena tingkat kelembapan juga pecah rekor. Di banyak kota di Inggris, kelembapan menembus angka 50%. Suhu titik embun pun merangkak naik ke level 20-an rendah, sangat kontras jika dibandingkan dengan angka satu digit saat gelombang panas Juli 2022 yang sempat memecahkan rekor suhu di Inggris.

Tingginya kelembapan ini menjadi ancaman serius bagi kesehatan. Pasalnya, kelembapan menghambat proses penguapan keringat, sehingga tubuh gagal mendinginkan suhu secara alami. Selain lansia dan pengidap penyakit kronis, kelompok migran serta tunawisma menjadi pihak yang paling terancam nyawanya.

"Hal itu benar-benar menunjukkan ketidaksetaraan yang semakin melebar akibat perubahan iklim. Karena tentu saja orang-orang yang sangat rentanlah yang paling berisiko kehilangan nyawa," ungkap Friederike Otto, peneliti dari Imperial College London.

Artikel ini sudah tayang di detikInet, baca selengkapnya di sini.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Rekor Suhu Terpanas Pecah"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads