Di tengah deretan warung makan di kawasan Pantai Timur Pangandaran, sebuah papan nama sederhana kerap membuat wisatawan tersenyum penasaran. Namanya tak biasa: Ubar Puyeng.
Dalam bahasa Sunda, ubar puyeng berarti obat sakit kepala. Namun, yang dijual di warung itu bukan obat, melainkan aneka hidangan khas Sunda seperti lotek, rujak, karedok, hingga gado-gado.
Warung yang berada di Jalan Kidang Pananjung itu sudah menjadi bagian dari denyut wisata Pangandaran selama lebih dari tiga dekade. Di balik kepopulerannya, terdapat sosok Yayu Rohini (59), perempuan yang sejak muda menggantungkan hidup dari ulekan bumbu kacang dan aneka sayuran segar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yayu mulai berjualan pada 1991, tak lama setelah berumah tangga. Bersama suaminya yang saat itu bekerja sebagai tukang becak, ia merintis usaha kecil yang kemudian tumbuh menjadi salah satu kuliner legendaris di Pangandaran.
Awalnya, Yayu hanya menjual rujak dan lotek. Namun, usahanya mulai dikenal wisatawan setelah para pemandu wisata lokal kerap mengajak tamu asing mencicipi hidangan buatannya.
"Dulu memang pertama ramainya dikenalkan pemandu, mengajak wisatawan makan di sini," ucap Yayu kepada detikJabar belum lama ini.
Seiring waktu, permintaan pelanggan semakin beragam. Ia pun menambah menu seperti karedok dan gado-gado untuk memenuhi selera pengunjung.
Warung lotek Yayu di Pangandaran Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar |
Popularitas warungnya terus meningkat. Jika pada awalnya pelanggan didominasi wisatawan mancanegara, memasuki tahun 2000-an warga lokal mulai berdatangan dan menjadikan warung tersebut sebagai salah satu tujuan kuliner favorit.
"Iya alhamdulillah tahun 2000an mulai banyak dibeli warga lokal, setelah saya menyediakan gado-gado," katanya.
Kini, di era media sosial, nama Ubar Puyeng justru semakin dikenal luas. Keunikan nama warung tersebut menarik perhatian banyak kreator konten dan influencer yang datang untuk membuat ulasan maupun video singkat.
Dari situlah banyak pelanggan baru berdatangan. Bahkan, sebagian besar mengaku mengetahui warung tersebut dari media sosial.
"Katanya saya tanya tuh ke pelanggan tahu gado-gado ini darimana, kebanyakan jawabnya dari TikTok dan medsos," ucapnya.
Selama puluhan tahun berjualan, Yayu sudah beberapa kali berpindah lokasi. Ia pernah membuka usaha di depan Hotel Bahagia sebelum akhirnya pindah ke depan Kantor Pos dan bertahan hingga sekarang.
Pendapatan yang diperolehnya juga naik turun mengikuti ramai atau sepinya kunjungan wisatawan ke Pangandaran. Saat hari biasa, pelanggan lebih banyak berasal dari warga lokal. Namun ketika musim liburan tiba, warungnya hampir selalu dipenuhi pengunjung.
"Kalo hari biasa, ya paling warga lokal Pangandaran saja. Kalo lagi ramai wisatawan penuh pasti. Sehari bisa dapat Rp 500.000-800.000 kalo weekday dan saat wekeend bisa capa Rp 1 juta lebih," terangnya.
Bagi Yayu, hasil berjualan bukan sekadar soal keuntungan. Dari warung sederhana itu, ia berhasil membesarkan dan menyekolahkan ketiga anaknya hingga perguruan tinggi.
"Alhamdulillah anak sekolah semua sekarang sudah pada nikah," ucapnya.
Tak hanya itu, usaha yang dirintis dari nol juga mengantarkannya mewujudkan impian yang dulu terasa jauh, yakni berangkat umrah.
"Alhamdulillah kalau haji belum, cuman kemarin umroh dulu sudah," kata Yayu.
Perjalanan panjang itu membuatnya semakin yakin bahwa usaha kecil pun bisa membawa perubahan besar jika dijalani dengan kesungguhan. Meski dulu sempat diragukan, Yayu memilih tetap bertahan dan percaya pada hasil kerja kerasnya.
"Dulu sempat diragukan dagang gini apa bisa laku dan bikin kaya. Tapi saya selalu ikhtiar jika kita sungguh-sungguh dan jujur pasti dipermudah. Alhamdulillah sekarang satu-satu keinginan saya juga terwujud, punya rumah walaupun tidak besar sama bikin penginapan," ucapnya.
(dir/dir)

