Tradisi Berburu Layangan Putus yang Tetap Hidup di Ciamis

Tradisi Berburu Layangan Putus yang Tetap Hidup di Ciamis

Dadang Hermansyah - detikJabar
Minggu, 21 Jun 2026 07:30 WIB
Anak-anak di Rancatunjung Ciamis terlihat sedang berburu layangan putus di sekitar kolam.
Anak-anak di Rancatunjung Ciamis terlihat sedang berburu layangan putus di sekitar kolam. (Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar)
Ciamis -

Sore yang tenang di Blok Rancatunjung, Dusun Majalaya, Desa Imbanagara Raya, Kecamatan Ciamis, mendadak ramai oleh teriakan anak-anak. Bukan karena permainan modern atau gawai, melainkan karena sebuah layangan putus yang melayang terbawa angin.

Sejumlah anak tampak berlarian dari area persawahan Ranca menuju permukiman warga. Mata mereka terus menatap langit, mengikuti arah terbang layangan yang sesekali bergerak tak menentu diterpa angin musim kemarau.

Di tepi kolam, beberapa anak bersiaga menunggu kemungkinan layangan jatuh. Sementara yang lain menyusuri pematang sempit dan jalan setapak di antara rumah-rumah warga. Mereka saling memberi aba-aba, menunjuk ke arah layangan yang terus bergerak menjauh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seorang anak berbaju oranye terlihat membawa bambu panjang. Alat sederhana itu biasa digunakan untuk meraih layangan yang tersangkut di pohon atau jatuh ke kolam ikan. Namun kali ini mereka belum beruntung. Layangan yang mereka incar justru tercebur ke dalam kolam dan gagal didapatkan.

ADVERTISEMENT

Meski demikian, raut kecewa mereka hanya terlihat sesaat. Tak lama kemudian mereka kembali berlari menuju area persawahan untuk menunggu layangan putus berikutnya.

Pemandangan seperti itu hampir setiap sore terlihat di kawasan tersebut sejak musim kemarau mulai datang. Hamparan sawah yang luas dengan hembusan angin cukup kencang menjadi lokasi favorit anak-anak untuk menerbangkan sekaligus berburu layangan.

Bagi mereka, berburu layangan putus bukan sekadar mencari benda yang bisa dimainkan kembali. Ada sensasi tersendiri saat mengejar layangan yang terbang bebas di langit.

"Nuju moro langlayangan pegat (sedang berburu layangan putus)," ujar Ubeng (nama panggilan), salah seorang anak yang ikut berburu layangan putus saat ditemui di lokasi.

Ubeng mengaku hampir setiap hari berburu layangan sejak pukul 16.00 WIB hingga menjelang magrib. Meski dalam beberapa hari terakhir baru berhasil mendapatkan satu layangan, ia tetap antusias mengikuti permainan tersebut.

"Sebetulnya bukan karena tidak punya layangan. Yang seru itu pas ngejarnya bareng teman-teman. Kalau berhasil dapat rasanya senang sekali," katanya.

Hal senada diungkapkan Acep. Menurutnya, keseruan permainan itu justru terletak pada proses mengejarnya.

"Kadang layangannya jauh, tapi tetap dikejar. Seru kalau bisa dapat. Apalagi kalau sama-sama lari dengan teman-teman. Tapi harus tetap hati-hati," ujarnya.

Bagi anak-anak di kampung itu, layangan putus memiliki nilai yang lebih dari sekadar benda permainan. Sensasi berlari, menerobos pematang sawah, hingga berebut mendapatkan layangan menjadi pengalaman yang tak tergantikan.

Di tengah ramainya penggunaan gawai dan media sosial, pemandangan anak-anak bermain di luar rumah seperti ini kini semakin jarang ditemukan. Namun di sudut Ciamis, tradisi berburu layangan putus masih bertahan dan menjadi bagian dari cerita masa kecil yang sederhana.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads