Bagi sebagian besar warga Tasikmalaya, nama Sambong tentu sudah tak asing. Ini adalah nama daerah yang berada di wilayah Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.
Di balik nama ini, tersimpan beragam fakta unik yang menarik untuk dikupas. Salah satu keunikannya, yakni soal banyaknya kampung atau lingkungan berawalan kata Sambong ini.
Artinya jika kita menyebut nama Sambong saja itu akan menimbulkan kebingungan, karena di wilayah ini setidaknya ada belasan kampung yang berawal kata Sambong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara resmi atau merujuk dokumen administrasi kependudukan, memang hanya ada 2 Sambong, yakni Sambongpari dan Sambongjaya. Keduanya adalah nama Kelurahan yang berada di wilayah Kecamatan Mangkubumi. Tapi jika ditelisik ke wilayah tersebut, ternyata ada banyak nama Kampung Sambong.
Berdasarkan hasil penelusuran detikJabar, berikut daftar nama kampung yang berada di wilayah tersebut.
1. Sambongpari (nama kelurahan)
2. Sambongjaya (nama kelurahan)
3. Sambongpari Kaler
4. Sambongpari Kulon
5. Sambongpari Kidul
6. Sambongpari Warung
7. Sambong Tengah
8. Sambong Hilir
9. Sambong Girang
10. Sambong Permai
11. Sambong Sawah
12. Sambong Asem
13. Sambong Doger
14. Sambong Nyalindung
15. Sambong Gunung Malati
16. Sambong PLN
17. Sambong Bencoy
18. Sambong Babakan Tempe
"Kalau nanya alamat hanya Sambong saja, pasti bingung soalnya ada macam-macam nama Sambong di sini," kata Hani, salah seorang pedagang di Kampung Sambong Sawah, Jumat (19/6/2026).
Bahkan nama kampung Sambong, tak hanya masuk wilayah Kecamatan Mangkubumi saja, ada 2 Sambong yang masuk ke wilayah Kecamatan Kawalu, yakni Sambong Permai dan Sambong Gunung Malati.
"Sambong Permai itu berasal dari nama perumahan. Nah itu sama Sambong Gunung Malati, masuknya Kecamatan Kawalu. Nggak masuk Kecamatan Mangkubumi. Jadi Sambong itu luas," kata Hani.
Berdasarkan data geografis, luas wilayah Kelurahan Sambongjaya mencapai 2,3 kilometer persegi sementara Kelurahan Sambongpari seluas 1,9 kilometer persegi.
Toponimi Sambong
Sementara itu terkait asal usul nama Sambong sendiri, terdapat 2 pendekatan. Yang pertama pendekatan dengan cerita rakyat yang berkaitan dengan legenda danau Situ Gede yang berada di wilayah Kecamatan Mangkubumi, terutama berkaitan dengan meninggalnya sosok Prabu Ardilaya. Perspektif ini menduga adanya pergeseran pelafalan dari kata Sambung menjadi Sambong. Dikisahkan ketika Prabu Ardilaya meninggal dunia, para pengikutnya menandu jenazah untuk dibawa ke Situ Gede. Di perjalanan keranda jenazah patah, sehingga harus disambung. Dari moment inilah kata Sambong itu muncul.
Versi kedua dari toponimi Sambong, berkaitan dengan tanaman yang konon dulu banyak terdapat di wilayah tersebut. Di masyarakat Sunda ada tanaman yang disebut tanaman Sambong, ini adalah tanaman yang memiliki khasiat mengobati batuk. Di masyarakat Jawa, tanaman ini dikenal dengan sebutan Sembung Utan.
"Sambong atau sembung itu bentuknya seperti rumput liar, di kebun biasanya banyak tumbuh. Ciri khas daun dan batangnya ada bulu halus, kalau diremas ada wangi balsem, wangi hangat. Makanya suka dijadikan obat batuk atau obat "balur" (obat gosok)," kata Hamim (65) warga Kecamatan Indihiang.
Dia juga berpendapat nama tempat di Jawa Barat banyak yang berasal dari nama pepohonan atau vegetasi. Sehingga dia meyakini nama Sambong berasal dari nama tumbuhan itu.
"Kan di Sunda lazim seperti itu, ada pohon waru miring, jadi nama tempat Waru Doyong. Banyak daun tarum yang ungu, jadi Pataruman. Ada pohon beringin, jadi Caringin. Ya sama dengan Sambong," kata Hamim.
