Jabar Hari Ini: Heboh Keranjang Sultan Tabrakan di Atas Langit Sukabumi!

Jabar Hari Ini: Heboh Keranjang Sultan Tabrakan di Atas Langit Sukabumi!

Tim detikJabar - detikJabar
Rabu, 17 Jun 2026 22:00 WIB
Wahana Keranjang Sultan Langit di Sukabumi
Wahana Keranjang Sultan Langit di Sukabumi (Foto: Siti Fatimah/detikJabar).
Bandung -

Berbagai peristiwa menarik terjadi di Jawa Barat hari ini, Rabu (17/6/2026), beberapa di antaranya memantik perhatian pembaca detikJabar. Kabar soal korban tawuran tertahan di RS Sukabumi, Keranjang Sultan tabrakan di lokasi wisata, hingga kabar soal jemaah haji asal Indramayu meninggal dunia saat perjalanan pulang.

Berikut ringkasan berita yang dihimpun dalam Jabar hari ini:

Korban Tawuran Tertahan Tagihan di RS

Nasib malang bertubi-tubi menimpa Muhammad Fatar Firmansyah (18) dan Muhammad Richo (17). Setelah menjadi korban kebrutalan kelompok pelajar yang salah sasaran di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kedua remaja ini kini harus menghadapi kenyataan pahit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka tertahan di rumah sakit akibat keluarga tak mampu melunasi biaya pengobatan yang menembus puluhan juta Rupiah.

ADVERTISEMENT

Sebagai pengingat, insiden nahas ini bermula pada Kamis (11/6/2026) malam lalu. Kala itu, Fatar dan Richo tengah berkumpul di belokan Jalan Nagrak, Kecamatan Cibadak, bersiap untuk pergi merayakan ulang tahun salah seorang rekannya. Tiba-tiba, mereka didatangi oleh segerombolan pelajar bermotor yang langsung menyerang secara membabi buta menggunakan celurit tanpa gagang.

Akibat kebrutalan itu, tangan kanan Fatar yang baru saja lulus sekolah nyaris putus terkena sabetan, sementara tulang tangan Richo patah akibat luka bacok yang terlampau dalam. Para pelaku yang berstatus pelajar di bawah umur kini telah diamankan oleh pihak kepolisian.

Setelah menjalani penanganan intensif, kondisi fisik Fatar dan Richo perlahan membaik. Secara medis, mereka sebenarnya sudah diperbolehkan pulang sejak Sabtu pekan lalu.

Namun, masalah baru yang tak kalah berat justru mengadang. Kuasa hukum korban dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pro Umat, Rangga Suria Danuningrat, mengungkapkan bahwa kliennya tidak bisa meninggalkan ruang perawatan karena kesulitan melunasi biaya administrasi.

"Biaya rumah sakit sampai hari ini untuk yang perawatan dan operasi saja, itu sampai Rp 14 juta sekian untuk Fatar, dan untuk Muhammad Richo hampir Rp 14 juta. Jadi, kurang lebih untuk dua orang itu Rp 28 juta," ungkap Rangga saat dikonfirmasi, Rabu (17/6/2026).

"Rumah sakit tetap minta bayar minimal 50 persen. Artinya dalam hal ini rumah sakit 'menyandera' pasien secara tidak langsung. Padahal dia sudah mengajukan SKTM, seharusnya bisa. Penjaminan orang tua dengan KTP ditolak juga oleh rumah sakit," sesalnya.

Namun hal itu dibantah pihak RSUD Sekarwangi. Humas RSUD Sekarwangi, Muhamad Rizal Perdana, menegaskan pihaknya tidak pernah menahan atau menyandera pasien. Tertahannya kedua korban murni karena belum ada kejelasan siapa pihak yang akan melunasi biaya rumah sakit.

"Di sini kita tidak menyandera pasien. Adapun kita membantu pelayanan medis untuk korban. Yang kenapa pasien tidak bisa pulang, ini karena tidak jelas secara pembiayaan siapa yang menanggung. Makanya pasien masih belum pulang," kata Rizal dalam keterangan tertulisnya, Rabu (17/6/2026).

Rizal menjelaskan, pihak rumah sakit saat ini masih menunggu realisasi janji dari keluarga pelaku pembacokan. Sebab, dari awal keluarga pelaku disebut bersedia menanggung biaya pengobatan korban.

Rizal juga meluruskan keluhan soal penolakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari keluarga korban. Menurutnya, regulasi pembiayaan kesehatan dari pemerintah memang tidak mencakup korban tindak kejahatan.

Pernyataan pihak kuasa hukum korban yang menyebut rumah sakit mempersulit pasien dinilai menyudutkan RSUD Sekarwangi.

"Faktanya itu korban pembacokan yang mana BPJS saja sudah tidak mau cover. Dan SKTM itu peruntukannya untuk pasien life saving (sakit alami/penyelamatan nyawa darurat), bukan untuk pasien kekerasan (tindakan pidana)," pungkas Rizal.

Keranjang Sultan Tabrakan di Sukabumi

Sebuah video yang merekam insiden tabrakan antarwahana Keranjang Sultan di kawasan wisata alam Situ Gunung, Kabupaten Sukabumi, mendadak viral di media sosial.

Wahana ekstrem yang membentang di atas Lembah Purba dengan ketinggian sekitar 160-180 meter di atas permukaan tanah dengan panjang 523 meter tersebut dilaporkan sempat mengalami kendala operasional yang memicu kepanikan pengunjung.

Peristiwa menegangkan ini dikonfirmasi terjadi pada Minggu, 14 Juni 2026 lalu. Beruntung, meski sempat diwarnai kepanikan, seluruh wisatawan yang berada di atas wahana tersebut dilaporkan selamat tanpa luka.

Salah seorang wisatawan asal Jakarta sekaligus yang merekam peristiwa itu, Abdul Rozak (33), membeberkan detik-detik peristiwa yang dialaminya secara langsung di lokasi kejadian.

Hari itu, ia bersama sekitar tujuh rekan kerjanya memang tengah mengambil paket liburan di kawasan ikonik di bawah kaki Gunung Gede Pangrango tersebut.

"Jadi saya lagi naik keranjang langit itu, pas kebetulan dari arah yang berlawanan itu ada keranjang yang berhenti dan di belakangnya ada lagi keranjang yang maju, jadi ketabrak yang di depannya," ujar Rozak menceritakan kronologinya kepada detikJabar, Rabu (17/6/2026).

Rozak, yang saat itu sempat mengabadikan momen perjalanan pulangnya dalam bentuk video, menuturkan situasi di jalur keberangkatan wahana tersebut memang sempat mengalami kemacetan akibat adanya antrean keranjang yang terkendala.

"Pastinya harus ditingkatkan lagi untuk sistem pengamanannya. Iya (diduga) macet. (Keranjang sultan) arah berangkat, saya videonya arah pulang. Tapi alhamdulillah penumpangnya aman selamat semuanya," tambahnya.

Merespons video viral tersebut, Direktur Utama PT Fontis Aqua Vivam selaku pengelola kawasan wisata Suspension Bridge Sukabumi, Marcelinus, memberikan klarifikasi tegas. Pihaknya membantah narasi netizen yang menyebut insiden itu terjadi karena adanya kemacetan mesin atau malfungsi sistem pada wahana tersebut.

Menurutnya, tabrakan kecil itu murni dipicu oleh faktor ketidaksengajaan dari pengunjung sendiri yang menyenggol panel pengatur mekanis di dalam keranjang.

"Maju-mundurnya itu sama tamu. Jadi, tamu nggak tahu itu main diputar-putar kayak gitu. Di sebelah kanan tuh diputar, kan itu tuh buat muterin itu jalan sendiri. Nah itu di atas di kanan diputar, sama tamu kesenggol sama siku. Jadi bukan karena macet atau apa, bukan," jelas Marcelinus saat dikonfirmasi via telepon.

Marcelinus menegaskan, andai terjadi benturan atau senggolan antar-keranjang sekalipun, hal itu tidak akan berakibat fatal hingga memutuskan tali baja atau menjatuhkan penumpang. Pihaknya mengaku selalu memberikan edukasi dan prosedur keselamatan ketat kepada setiap wisatawan sebelum meluncur.

"Setiap orang yang naik, itu disampaikan semua dari safety apa segala macam disampaikan. Nah, mungkin kalau orang kan kalau di atas jadi rewas (panik/kaget) lah kalau di atas, udah di ketinggian, nah itu, akan lupa kayak gitu," ungkapnya.

Jemaah Haji asal Indramayu Meninggal di Perjalanan Pulang

Seorang jemaah haji asal Kabupaten Indramayu meninggal dunia saat dalam perjalanan pulang dari Arab Saudi menuju Indonesia, Selasa (16/6/2026).

Jemaah tersebut diketahui bernama Kunengsih binti Tasba Sangid (60), warga Desa Leuwigede, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu. Almarhumah merupakan anggota Kloter 21 Embarkasi Kertajati.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, Kunengsih mengembuskan napas terakhir di dalam pesawat Saudi Airlines yang melayani penerbangan dari Jeddah menuju Bandara Internasional Kertajati, Majalengka. Sebelum wafat, almarhumah masih sempat berinteraksi dengan jemaah lain sesaat setelah pesawat lepas landas.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, Boy Hari Novian, mengatakan pihaknya telah mengunjungi kediaman keluarga untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus menyerahkan sejumlah dokumen terkait.

"Kami menyampaikan dukacita yang mendalam atas wafatnya almarhumah. Beliau telah menuntaskan seluruh rangkaian ibadah haji. Semoga amal ibadahnya diterima dan memperoleh tempat terbaik di sisi Allah SWT," ujar Boy kepada detikJabar, saat dikonfirmasi pada Rabu (17/6/2026).

Menurut Boy, sebelum keberangkatan pulang ke Indonesia, Kunengsih sempat mendapatkan perawatan medis di Arab Saudi. Namun, hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan kondisinya telah memenuhi syarat untuk melakukan perjalanan udara.

"Apabila kondisi kesehatan tidak memungkinkan, tentu yang bersangkutan akan tetap menjalani perawatan di Arab Saudi. Berdasarkan hasil pemeriksaan dan rekomendasi dokter kloter, almarhumah dinyatakan layak terbang," katanya.

Sementara itu, kerabat almarhumah, Darsono, mengungkapkan bahwa keluarga rutin menjalin komunikasi selama Kunengsih menjalankan ibadah haji. Meski mengetahui almarhumah sempat mengalami gangguan kesehatan, keluarga tidak menduga kabar duka akan datang saat proses kepulangan.

"Selama di Tanah Suci komunikasi berjalan lancar melalui telepon maupun video call. Kami mengetahui beliau sempat dirawat, tetapi setelah kondisinya membaik dan tetap dapat melaksanakan ibadah, kami berharap bisa kembali ke rumah dengan selamat," tutur Darsono.

Kepergian Kunengsih meninggalkan duka bagi keluarga dan kerabat. Meski demikian, keluarga menerima musibah tersebut dengan ikhlas karena almarhumah telah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji sebelum wafat dalam perjalanan menuju Tanah Air.

Pelarian Bobi Berakhir di Kalimantan

Pelarian Bobi, pria asal Garut, akhirnya terhenti di Pulau Borneo. Lelaki berumur 28 tahun tersebut diciduk polisi setelah melakukan penganiayaan terhadap penjual domba saat mabuk akhir bulan lalu.

Peristiwa ini bermula saat malam takbiran Idul Adha, Selasa, 26 Mei 2026 lalu. Di malam hari saat itu, Bobi mengacau karena mabuk. Di sekitar kawasan Jalan Karacak, Kota Kulon, Garut Kota, Bobi bertemu Sukma, yang saat itu tengah berjualan domba.

Menurut Kapolsek Garut Kota AKP Zainuri, kala itu terjadi cekcok antara Bobi dan Sukma karena berpapasan di jalan. "Menurut keterangan yang kami himpun, saat itu tersangka berpapasan dengan korban, lalu terlibat cekcok," ujar Zainuri, kepada detikJabar, Rabu, (17/6/2026).

Kepada polisi, Bobi mengklaim digampar oleh Sukma. Namun, dalam keterangan resminya, Sukma membantah tuduhan tersebut. Singkat cerita, Bobi yang tidak terima kemudian pulang ke rumahnya. Dia kemudian mengajak sejumlah rekan untuk mendatangi Sukma.

Menurut Zainuri, Bobi dan sejumlah kerabatnya kemudian mendatangi Sukma. Di TKP, Bobi tanpa basa-basi menghantam kepala Sukma menggunakan sebilah golok yang dibawanya dari rumah.

Setelah melakukan aksi pembacokan, Bobi langsung ngacir. Sementara korban kemudian langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Sukma diketahui mengalami sejumlah luka lebam akibat pukulan, hingga luka bacokan di bagian kepala.

"Keesokan harinya korban melaporkan kejadian ini kepada kami," ungkap Zainuri.

Setelah mengumpulkan alat bukti, termasuk rekaman CCTV yang ada di sekitar TKP, polisi kemudian mengantongi identitas pelaku, yang belakangan diketahui bernama Bobi.

Upaya perburuan terhadap Bobi pun kemudian dilakukan oleh personel Unit Reskrim Polsek Garut Kota pimpinan Aiptu Banyu Rahayu. Bobi diketahui langsung tidak ditemukan saat dicari polisi di kediamannya saat itu. Dia bahkan tidak diketahui keberadaannya.

Selama hampir 3 minggu mencari, polisi kemudian mendapati jejak Bobi berada di Pulau Kalimantan. Tim dari Polsek Garut Kota lantas langsung meluncur ke Kalimantan untuk menangkap Bobi.

"Tersangka kami amankan di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah pada hari Minggu, 14 Juni lalu," ucap Zainuri.

Tongkang Batu Bara Terseret ke Pesisir Pangandaran

Sebuah kapal tongkang bermuatan 80.000 ton batu bara yang ditarik Tugboat Titan 33 kini digeser ke Pantai Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran. Sebelumnya, kapal tongkang tersebut sempat menepi di Pantai Batukaras lantaran dihantam cuaca buruk dan kehabisan bahan bakar.

Diketahui, kapal tongkang asal Palembang itu berlayar dengan tujuan Cilacap, Jawa Tengah. Selain karena faktor cuaca, kapal terpaksa menepi setelah mengalami kebocoran yang mengakibatkan posisinya menjadi miring.

Kondisi tersebut sempat membuat warga dan pemerintah setempat khawatir akan adanya potensi pencemaran laut dari muatan batu bara. Kasat Polairud Polres Pangandaran, AKP M Anang Tri, membenarkan bahwa saat ini kapal tongkang telah digeser ke arah Pantai Sukaresik guna menekan risiko pencemaran akibat posisinya yang miring.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan kemarin, tongkang yang berlayar dari Palembang menuju Cilacap tersebut mengalami kerusakan pada bagian pintu lambung kanan sehingga menyebabkan air laut masuk ke dalam badan tongkang. Kondisi tersebut mengakibatkan tongkang menjadi miring dan tidak stabil," terang Anang, Rabu (17/6/2026).

Anang menjelaskan, langkah pergeseran dan penjagaan ini turut diambil untuk mengantisipasi adanya tindak pidana, khususnya potensi pencurian serta penjarahan muatan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

"Sehingga saat ini melakukan pengamanan ketat kami jaga," ucapnya.

Di samping itu, pihak Satpolairud telah melakukan koordinasi dengan kapten kapal, agen pelayaran, serta masyarakat setempat. Hal ini bertujuan untuk menjaga status quo di lokasi kejadian sembari menunggu proses evakuasi lebih lanjut.

"Setidaknya ada 10 awak kapal, termasuk kapten. Sekarang masih berkoordinasi untuk langkah-langkah selanjutnya," ucapnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Menhaj-Dasco Lepas Kloter Pertama Haji Embarkasi Banten 2026"
[Gambas:Video 20detik] (sya/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads