Seni tradisional Ronggeng Gunung Pangandaran kini mulai jarang terlihat dalam pergelaran seni daerah. Namun, tarian tersebut kini kembali dipopulerkan melalui momentum acara Hajat Laut.
Antusiasme warga yang rindu akan kesenian ini berhasil menarik perhatian para pencinta tari ronggeng. Pergelaran seni ronggeng pada Selasa (16/6) malam tadi setidaknya dipadati oleh sedikitnya 500 warga.
Uniknya, tarian yang semula hanya dibawakan oleh empat penari tersebut diikuti oleh warga secara melingkar dengan nada musik yang seirama. Kesenian tari ronggeng ini tetap populer di kalangan masyarakat Pangandaran karena memiliki nilai budaya dengan akar sejarah yang panjang.
Tari Ronggeng Gunung mengalami perkembangan dan transformasi yang berbeda dari masa ke masa. Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh faktor regenerasi pelakunya.
Pada awal perkembangannya, seni tari ini memiliki tiga sebutan, di antaranya Ronggeng Gunung, Ronggeng Kaler, dan Ronggeng Amen atau Kidul. Kendati demikian, perubahan nama tersebut tidak mengubah esensi dasar dari tarian Ronggeng Gunung.
Di pesisir Pangandaran, persebaran Ronggeng Gunung semula terkonsentrasi di wilayah Kecamatan Langkaplancar, Mangunjaya, Padaherang, Pangandaran, dan Sidamulih. Cerita menegangkan di balik tari Ronggeng Gunung ini ternyata berasal dari sebuah misi penyamaran.
Kini, kesenian tersebut telah bertransformasi menjadi identitas seni budaya daerah. Mengutip buku karya Prof. Dr. Nina Herlina Lubis yang berjudul Pangandaran Dari Masa ke Masa, Ronggeng Gunung direpresentasikan sebagai seni yang lahir dari daerah pegunungan.
Dalam format pertunjukan lama, Ronggeng Gunung dimainkan oleh dua penari dengan iringan gamelan lengkap. Pertunjukan ini juga diperkaya dengan lagu-lagu kliningan pada setiap ritme musiknya.
Dahulu, nama lain dari tarian ini adalah Ronggeng Kaler, yang biasanya dikhususkan untuk perhelatan pernikahan dan khitanan, bukan sebagai bagian dari sebuah ritual.
Seiring berjalannya waktu, muncul pula sebutan Ronggeng Amen, yang merupakan pengembangan dari Ronggeng Gunung. Pada awalnya, pertunjukan ini disebut Ronggeng Ngamen, namun lama-kelamaan lebih dikenal dengan nama Ronggeng Amen.
Dalam penyajiannya, Ronggeng Amen lebih banyak melibatkan penonton untuk menari bersama. Selain itu, lagu yang dibawakan pun lebih variatif, seperti perpaduan dengan lagu dangdut atau kliningan untuk menarik minat khalayak luas.
Kepala Bidang Budaya di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pangandaran, Sugeng, menyebutkan bahwa sejarah asal-usul tarian Ronggeng Gunung memiliki banyak versi. Salah satu versi awal menceritakan tentang Dewi Siti Samboja, putri ke-38 Prabu Siliwangi.
"Dewi Siti Samboja ini suaminya bernama Anggalarang. Konon beliau terbunuh oleh Kalasamudera seorang pemimpin bajak laut," ucap Sugeng kepada detikJabar, Rabu (17/6/2026).
Simak Video "Menyantap Hidangan Enak di Cafe Hits Sambil Menikmati Pemandangan di Pangandaran"
(mso/mso)