Kisah Jenaka Sastrawan Mark Twain Nyalon Presiden Amerika

Kisah Jenaka Sastrawan Mark Twain Nyalon Presiden Amerika

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Minggu, 14 Jun 2026 20:00 WIB
Ilustrasi tiga dosa Mark Twain.
Ilustrasi tiga 'dosa' Mark Twain. (Foto: ChatGPT)
Bandung -

Siapa tak kenal Mark Twain? Pencinta sastra dunia pasti mengenal karya-karyanya yang berkategori klasik, misalnya The Adventures of Huckleberry Finn atau The Adventures of Tom Sawyer.

Sastrawan Amerika bernama asli Samuel Clemens itu memang mendunia. Namun, meski sehari-hari mencurahkan hidupnya pada aktivitas menulis 'dunia rekaan', Twain pernah juga terpikir untuk nyalon presiden.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisahnya jenaka! Meski sebetulnya bernada satiris. Kisah ini berjudul 'A Presidential Candidate' yang dimuat dalam buku The 50 Funniest American Writers, disusun oleh Andy Borowitz (2011).

Twain menulis bahwa ia sudah bolak-balik berpikir dan memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika. Sebab, syarat utama menjadi presiden di AS sudah dimilikinya.

ADVERTISEMENT

Dia mengatakan bahwa negara hanya membutuhkan presiden yang tidak punya dosa pada masa silam, sehingga ketika partai politik oposisi mengorek kesalahannya, mereka tidak akan menemukannya.

Twain-lah orangnya yang tidak punya dosa sejarah, kecuali tiga dosa yang dia sendiri simpan sangat rapi. Karena itu, tidak mungkin seorang pun tahu dan dapat menggagalkannya dalam proses pencalonan. Namun, dalam rencana pencalonannya ini, tiga dosa itu malah dikisahkannya. Kisah ini ditulis Twain pada 1879.

Tiga Dosa 'Politik' Mark Twain

1. Menjahili Kakek Rematik

Dosa pertama, pada musim salju 1850 dia mengurus kakeknya yang menderita rematik akut. Karena rematik, sang kakek sangat takut memanjat pohon.

Suatu sore, Twain mengambil senapan yang hanya tersisa satu peluru. Moncong senapan diarahkan kepada kakeknya sehingga orang yang ditodong itu lari ke arah pohon dan mendadak bisa memanjat.

Sang kakek sampai bermalam di atas pohon. "Aku tembak ke arah bawah kakinya yang menggelantung karena kakekku mengantuk. Kalau aku punya kakek lain yang semisal ini, aku juga akan membuatnya begitu," kata Twain.

2. Kabur dari Perang

Dosa kedua, dia pernah lari dari medan perang Gettysburg pada tahun 1850 pula. Alasannya, dia bergaya seperti yang dilakukan Washington yang pergi ke hutan Valley Forge untuk berdoa.

Padahal, itu hanya dalih karena ketika berada di Garis Balik Utara, dia sangat ketakutan. "Aku ingin negaraku selamat, tapi aku lebih ingin orang lain yang menyelamatkannya," kata Twain.

"Kalau saja gelembung prestasi bisa didapat hanya dengan diam di pinggir meriam, aku mau saja tetap bertahan. Tapi kalau tahu meriamnya berisi, mending pulang saja," katanya, seraya menyebut dengan bangga bahwa dia selalu membawa pulang dua per tiga pasukan lebih banyak ketimbang saat para prajurit itu datang.

3. Menanam Anggur di Atas Kubur

Dosa ketiga yang tak ingin diketahui dalam pencalonannya sebagai presiden adalah penguburan jenazah bibinya di bawah pohon anggur. Twain takut hal itu dianggap sebagai pelecehan terhadap kemanusiaan. Apalagi, hal itu sudah menjadi rumor.

Namun, Twain punya alasan yang jelas terkait rumor tersebut. Jika ditanya apakah itu benar, Twain akan mengakuinya.

"Jenazah bibiku perlu dikubur, dan pohon anggurku perlu tanah subur. Bukankah aku sudah menempatkan bibiku pada tujuan mulia?" kata Twain.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads