Sukabumi-Cianjur Sepekan: Duit Ratusan Miliar Pengusaha Ngendap di BGN!

Sukabumi-Cianjur Sepekan: Duit Ratusan Miliar Pengusaha Ngendap di BGN!

Tim detikJabar - detikJabar
Minggu, 14 Jun 2026 09:00 WIB
Penampakan uang pengusaha asal Sukabumi di kantor BGN.
Penampakan uang pengusaha asal Sukabumi di kantor BGN (Foto: Istimewa).
Bandung -

Beragam peristiwa terjadi di wilayah Sukabumi Raya dalam sepekan terakhir. Mulai dari kisruh dana pengusaha asal Sukabumi yang mengendap di BGN, aksi bejat ayah kandung yang memerkosa anaknya di Sukabumi, hingga amukan babi hutan di Cianjur yang melukai empat warga.

Berikut sejumlah artikel yang dirangkum detikJabar:

Aksi Bejat Ayah Perkosa Anak Kandung di Sukabumi

Sebuah kisah memilukan dari pelosok Sukabumi viral dan menggegerkan jagat media sosial. Seorang ayah diduga tega mencabuli dan memerkosa anak kandungnya sendiri yang baru berusia 11 tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kasus ini menuai sorotan tajam karena dikabarkan sempat berujung 'damai' lantaran pihak keluarga korban terkendala biaya untuk melapor ke polisi.

Informasi dugaan kekerasan seksual yang terjadi di wilayah Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi ini pertama kali mencuat melalui unggahan akun Facebook 'Chacha's Hits daily life'.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan tangkapan layar yang dilihat detikJabar, akun tersebut mengunggah foto seorang pria berkaus putih-biru yang diduga sebagai pelaku, tengah memegang anak perempuan berbaju merah. Untuk melindungi identitas korban, wajah anak tersebut ditutupi dengan stiker emoticon.

Di dalam foto tersebut juga disematkan tulisan tebal yang menohok: "bapak yg tega memprksa anak kandungnya hingga *". Sementara pada kolom keterangan, pengunggah secara gamblang menyuarakan desakan penangkapan.

"Ini adalah pelaku pmerkosa anak kandungnya di kecamatan surade sukabumi.. viralkan & tangkap pelaku sudah meresahkan warga disana. Ibu korban tidak bs melapor karena di intimidasi dan korban usia 11 tahun kelas 5 SD.. saat ini pelaku masih bebas," tulis keterangan unggahan tersebut.

detikJabar berhasil mewawancarai Eva Rosalina, ibunda dari Chacha (pemilik akun medsos tersebut), untuk mengonfirmasi rentetan informasi yang viral itu. Diketahui akun tersebut diikuti oleh sebanyak 322 ribu pengikut, sementara unggahan soal peristiwa tersebut sudah diposting ulang oleh warganet lainnya.

Kepada detikJabar, Eva menuturkan bahwa ia mendapatkan laporan tersebut langsung dari warga di kawasan Jampang pada Selasa (2/6/2026) lalu.

"Warga di sana itu banyak yang bingung mau memviralkan kasus ini dari mana. Kebetulan anak saya content creator, jadi anak saya membantu untuk mengangkat kasus ini di sosial medianya biar cepat diusut," ungkap Eva kepada detikJabar, Jumat (5/6/2026) malam.

Sementara itu, Kepala DP3A Kabupaten Sukabumi, Agus Sanusi, menegaskan bahwa pihaknya belum bisa mengonfirmasi kebenaran informasi viral yang menyebutkan alat vital korban mengalami robek parah hingga hanya diobati dengan kunyit. Kepastian tersebut mutlak harus didasarkan pada hasil pemeriksaan dokter di rumah sakit.

"Hari ini mau dibawa kan, divisum. Jadi belum bisa memberikan informasi terkait dengan kekerasan seksualnya itu. Nanti hasil visum gimana, takut salah," ungkap Agus saat dikonfirmasi, Sabtu (6/6/2026).

Setelah ramai, akhirnya kasus tersebut bergulir ke ranah hukum. Sempat santer diisukan berakhir lewat jalur 'damai', ibu korban akhirnya resmi melaporkan kasus tersebut ke kepolisian pada Sabtu (6/6).

Langkah tegas ini sekaligus memutus rantai intimidasi yang kabarnya sempat dialami oleh keluarga korban. Tak butuh waktu lama setelah laporan resmi tersebut dibuat, aparat kepolisian langsung bergerak cepat mengamankan terduga pelaku yang tak lain adalah ayah kandung korban sendiri.

Kasat Reskrim Polres Sukabumi, Iptu Dudi Suharyana, melalui Kasi Humas Polres Sukabumi, Iptu Ilham Sapta Permadi, membenarkan adanya pelaporan dari pihak keluarga serta penangkapan terduga pelaku.

"Ibu korban sudah melapor, pelaku sudah diamankan dan saat ini masih dalam pemeriksaan, masih kita mintai keterangan," ungkap Iptu Ilham membeberkan perkembangan kasus tersebut kepada detikJabar, Minggu (7/6/2026).

Investor Sukabumi Tagih Duit Ratusan Miliar ke BGN

Pengusaha asal Sukabumi, H. Munjayin, menuntut pengembalian dana ratusan miliar rupiah miliknya. Dana tersebut sebelumnya disetorkan ke Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai talangan untuk menyelamatkan proyek Dapur Perintis Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hal ini dibongkar oleh Ketua Yayasan Kharisma Cendekia Indonesia (KCI) tersebut bersama tim kuasa hukumnya dalam konferensi pers di Sukabumi, Minggu (7/6/2026).

Kuasa Hukum Investor, Ahmad Yazdi, membuka pemaparan dengan membeberkan bukti Nota Kesepahaman Nomor 02/MoU.02/IX/2025 tertanggal 2 September 2025.

Dokumen itu diteken oleh Munjayin dan Lodewyk Pusung yang saat itu menjabat Wakil Kepala BGN.

MoU tersebut mengatur pengambilalihan hak pengelolaan 97 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mandiri oleh Yayasan KCI dengan syarat penyetoran sejumlah dana talangan.

"Jadi uang total sebagaimana tertulis, sebagai kontrak, Rp 218 miliar 250 juta. Kemudian dibayarkan secara tahap satu itu Rp 62 miliar 250 juta rupiah pada Agustus 2025," beber Yazdi.

Sisa komitmen, lanjut Yazdi, dibayar dalam bentuk cek senilai Rp 99 miliar dan Rp 66 miliar. Namun, janji BGN untuk menyerahkan hak kelola 97 dapur dalam dua minggu pascapembayaran tak pernah terwujud.

"Faktanya, zonk," tegas Yazdi.

Saat ditagih, para petinggi BGN kala itu disebut Yazdi malah saling lempar tanggung jawab.

"Pak Dadan Hindayana bilang PKS-nya bodong. Pak Sony Sanjaya bilang ini sah, karena ditandatangani oleh Waka Badan Pusung. Ibu Nanik Deyang bilang, 'yang mana itu, coba saya mau lihat'. Akhirnya data kami dipakai buat laporan ke presiden jadi dia aman, kita diblokir," bebernya.

Tangis Nadia Gagal Olimpiade Sains Gegara Listrik Mati

Air mata Nadia Putri Muda Paramita tak terbendung saat detik-detik akhir Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat SD ditutup. Siswi kelas 5 SDN Gandasoli, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi ini terpaksa mengubur mimpi emasnya dalam-dalam akibat mati lampu.

Insiden yang terjadi pada OSN daring hari Senin (8/6/2026) lalu itu mendadak viral di media sosial. Video yang memperlihatkan isak tangis Nadia mengundang simpati luas dari warganet yang menyayangkan adanya kendala teknis di tengah perjuangan keras sang siswi.

Pengawas OSN SDN Gandasoli, Isop Sopiah, menceritakan bahwa ujian sebenarnya berjalan mulus sejak sesi pertama pada pukul 08.00-09.00 WIB. Petaka baru muncul di sesi terakhir yang dijadwalkan pukul 13.00-14.00 WIB. Tepat pukul 13.45 WIB, aliran listrik mendadak terputus.

"Mati lampu itu kejadiannya di menit-menit akhir sebetulnya, sekitar 15 atau 20 menit lagi ke sesi akhir selesai. Awalnya ada murid yang bilang nge-freeze, kemudian sempat logout sendiri. Setelah berhasil login kembali dan berjalan beberapa menit, tiba-tiba listrik padam total," ujar Isop, Kamis (11/6/2026).

Pihak sekolah sempat berupaya menahan siswa dan berharap listrik segera menyala kembali. Sialnya, hingga 3 jam ditunggu, ruangan kelas tetap gelap gulita.

"Memang kaget gitu ya, siswa nggak nyangka, terus bingung aja, bingung ini gimana. Kami menenangkan para siswa, 'Tunggu aja dulu barangkali nanti ada kebijakan lain atau misalnya nyala lagi lampunya.' Tapi ternyata ditunggu-tunggu sampai beberapa waktu tidak nyala lagi. Ya sudah, kami suruh tutup aja laptopnya, pulang," keluh Isop.

Isop menyayangkan tidak adanya pemberitahuan dari pihak PLN terkait pemadaman tersebut, sehingga sekolah tidak memiliki persiapan cadangan daya. Ia berharap kejadian ini menjadi bahan evaluasi serius ke depan.

Bagi Nadia, kegagalan karena faktor teknis ini terasa sangat menyakitkan. Pasalnya, demi menghadapi OSN mata pelajaran IPS ini, ia sudah menguras energi dengan belajar intensif selama enam bulan terakhir.

Nadia mengaku sempat panik luar biasa saat menyadari waktu pengerjaan soal terus berjalan di tengah kondisi layar laptop yang mati.

"Pas awal-awal mati itu masih biasa aja, saya kira awalnya kan bakal bentar tapi ternyata pas udah denger waktu yang tersisa untuk mengerjakan soal tinggal 15 menit lagi tuh saya agak gelisah gitu. Apalagi udah disiapin dari berbulan-bulan, jadi saya juga agak panik sebenernya tuh," ungkap Nadia dengan nada sedih.

Dari total 60 soal yang diujikan, Nadia sebenarnya sudah berhasil menjawab 40 soal dengan lancar. Baginya, ajang OSN ini adalah batu loncatan besar untuk mengejar cita-citanya serta membahagiakan orang tua.

"Cita-cita aku jadi diplomat, target OSN itu jadi saya tuh mau membanggakan orang tua, jadi saking inginnya juara, jadi mempersiapkan itu dari berbulan-bulan," tuturnya.

Amukan Babi Hutan di Cianjur, Empat Warga Terluka

Empat warga Kampung Cilameta, Desa Bunijaya, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur luka-luka usai diserang babi hutan saat bekerja di lahan persawahan. Bahkan satu korban mengalami luka berat hingga dua jarinya putus lantaran digigit babi hutan.

Informasi yang dihimpun detikJabar, penyerangan babi hutan terjadi pada Rabu (10/6/2026) siang. Saat itu, korban yang bernama Misbah (64) tengah bekerja di ladang untuk membabat rumput liar tiba-tiba diserang oleh babi berukuran besar dengan tinggi lebih kurang 70 sentimeter.

Tidak hanya diseruduk, korban yang tersungkur di tanah pun digigit di bagian tangan dan kaki hingga dagingnya terkelupas. Bahkan dua jari tangan kirinya putus akibat gigitan babi hutan tersebut.

Setelah itu, babi tersebut kembali masuk ke dalam hutan dan melakukan penyerangan di lokasi lain. Kali ini Bahrudin (60) yang juga tengah bekerja di sawah diserang.

Meskipun sempat melakukan perlawanan, Bahrudin mengalami luka gigitan di kaki dan tangannya.

"Babi hutan itu tidak hanya mengamuk di satu lokasi tapi setelah menyerang satu warga, kemudian kabur dan pindah ke lokasi lainnya untuk menyerang lagi warga yang lain," ujar Kepala Desa Bunijaya, Asep Mulyadi, Jumat (12/6/2026).

Selain kedua lansia, lanjut dia, ada dua korban lainnya yakni Asep Rohimat (30) dan Saepul (50). Keduanya mengalami luka ringan akibat diseruduk babi hutan yang sama.

"Total ada empat korban, dua luka berat sampai jarinya putus. Dan dua lagi luka ringan karena diseruduk babi hutan. Diduga babi hutannya yang sama, karena ciri-cirinya juga sama. Mulai dari ukuran hingga bentuk taringnya," kata dia.

Dia menjelaskan, aksi penyerangan babi hutan baru pertama kali terjadi. Biasanya kawanan babi hutan dari hutan di dekat permukiman warga hanya berdampak ke lahan persawahan dan kebun.

"Kalau makan hasil kebun warga sudah sering terjadi. Tapi kalau sampai menyerang warga, baru pertama kali," kata dia.

Dia mengatakan, para korban saat ini sudah pulang ke rumah usai mendapatkan penanganan medis di rumah sakit. "Awalnya mau dirujuk, tapi korban memilih untuk rawat jalan setelah ditangani di RSUD Pagelaran. Kondisinya mulai membaik," tutur dia.

Menurut dia, setelah kejadian tersebut, pemerintah desa meminta bantuan kepada pihak terkait untuk memburu babi hutan yang mulai meresahkan warga.

Saat ini warga Kampung Cilameta mengaku dihantui rasa takut untuk kembali berkebun maupun mencari hasil hutan karena khawatir terjadi serangan serupa.

"Saya sudah bersurat ke beberapa instansi agar segera menangkap babi hutan tersebut. Karena warga jadi takut untuk sekadar ke sawah. Takutnya babi hutan itu muncul lagi dan menyerang dengan lebih ganas atau mungkin bergerombol nyerangnya," kata dia.

Tragedi Anjani dan Cici di Perlintasan Kereta di Sukabumi

Tragedi mengerikan terjadi di perlintasan liar kereta api di Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi. Dua orang wanita yang berboncengan tewas tertabrak kereta hingga terseret 10 meter.

Kasi Humas Polres Sukabumi Kota, Ipda Ade Ruli, mengungkapkan bahwa kecelakaan maut tersebut terjadi di Perlintasan JPL Km 55, Kampung Benteng Bruney RT 05/09, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi. Peristiwa memilukan ini berlangsung pada Kamis (11/6/2026) siang.

Kedua korban yaitu Murni Anjani (30), seorang ibu rumah tangga asal Kampung Cikaret, Desa Nyalindung, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. Sementara rekannya bernama Cici Rahmawati (17), warga Babakan Garung, Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi.

Berdasarkan keterangan saksi di lokasi kejadian, kecelakaan bermula saat kereta api yang diawaki oleh masinis berinisial MP dan asisten masinis GD tengah melaju dari arah Sukabumi menuju Bogor. Secara mengejutkan, sepeda motor yang dikendarai korban mendadak melintas dari arah bawah.

"Menurut keterangan saksi, pada saat kereta api melintas dari arah Sukabumi menuju Bogor, tiba-tiba pengendara motor dari arah bawah langsung melintas," kata Ade Ruli.

Akibat jarak yang sudah terlalu dekat, benturan keras pun tak terhindarkan. Sepeda motor korban langsung tertabrak hingga sempat terseret sejauh kurang lebih 10 meter dari titik lokasi benturan. Warga sekitar yang berada di lokasi langsung bergegas memberikan pertolongan.

Usai kejadian, pihak kepolisian bersama warga langsung mengevakuasi kedua korban yang mengalami luka berat ke Rumah Sakit (RS) Asyifa Sukabumi untuk mendapatkan penanganan medis darurat.

Dokter jaga IGD RS Asyifa, dr. Eva Tantika, menyebutkan kedua korban tiba di rumah sakit dalam kondisi sudah tidak sadarkan diri. Kedua korban mengalami luka parah di bagian kepala, lengan, hingga kaki, serta pendarahan aktif dari mulut dan telinga.

"Tadi sekitar jam 11.45 WIB dalam keadaan sudah tidak sadar. Yang satu mengeluarkan darah dari kepala dan telinga, kemudian ada multiple injury (luka parah di beberapa bagian). Yang satu lagi sama ada penurunan kesadaran juga, tidak sadar, terdapat patah tulang juga," urai dr. Eva.

Pihak penanganan darurat dan dokter spesialis saraf RS Asyifa telah melakukan upaya penanganan medis secara maksimal. Namun, kondisi kesehatan kedua korban terus merosot hingga mengalami henti napas dan henti jantung.

"Kita sudah ikhtiar maksimal, namun keadaannya terjadi penurunan, ada desaturasi, henti napas, ada henti jantung. Pasien dinyatakan meninggal," jelas dr. Eva.

Nyawa kedua korban akhirnya tidak tertolong. Korban pertama dinyatakan meninggal dunia lebih dulu, sedangkan korban kedua menyusul pada pukul 13.52 WIB. Pihak rumah sakit juga telah mengonfirmasi situasi kritis ini kepada keluarga korban sebelum keduanya mengembuskan napas terakhir.

Saat ini, pihak kepolisian telah mendatangi TKP, mengamankan barang bukti, memeriksa sejumlah saksi, dan berkoordinasi dengan Unit Laka Lantas Polres Sukabumi Kota untuk penanganan hukum lebih lanjut.

Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, mengatakan masinis KA Pangrango sebenarnya sudah melihat adanya pergerakan kendaraan roda dua yang hendak melintas.

Sesuai prosedur, masinis langsung membunyikan klakson lokomotif atau Semboyan 35 sebagai tanda agar pengendara berhenti.

"Berdasarkan laporan yang diterima, masinis KA Pangrango telah membunyikan Semboyan 35 sebagai peringatan. Namun kendaraan roda dua tetap berada pada jalur kereta api sehingga terjadi temperan," kata Franoto, Kamis (11/6/2026).

Atas kejadian memilukan ini, KAI Daop 1 Jakarta menyampaikan rasa prihatin yang mendalam kepada pihak keluarga korban. "Kami turut prihatin atas kejadian yang terjadi. Saat ini korban telah dievakuasi dan KAI berkoordinasi dengan pihak terkait dalam penanganan," imbuh Franoto.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Heboh Babi Hutan Masuk Rumah Warga di Serdang Bedagai, 1 Orang Terluka"
[Gambas:Video 20detik] (sya/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads