Jabar Hari Ini: Tragedi Bocah Jasinga Digigit Anjing Pemburu

Jabar Hari Ini: Tragedi Bocah Jasinga Digigit Anjing Pemburu

Tim detikJabar - detikJabar
Senin, 08 Jun 2026 22:00 WIB
Ilustrasi penyakit anjing gila
Ilustrasi (Foto: Edi Wahyono)
Bandung -

Beragam peristiwa terjadi di Jawa Barat hari ini, mulai dari bocah di Bogor tewas digigit anjing liar hingga orang tua di Jawa Barat mengeluhkan website Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang mengalami gangguan. Berikut rangkuman Jabar hari ini:

Bocah Tewas Diserang Anjing Pemburu

Polres Bogor memeriksa 57 orang saksi terkait kasus bocah berusia 9 tahun tewas digigit anjing pemburu babi di Jasinga, Bogor, Jawa Barat (Jabar). Selain itu, polisi mengamankan 21 unit mobil yang digunakan mengangkut anjing pemburu babi.

"Dalam perkembangan pemrosesan kasus ini, pihak kepolisian total telah memeriksa dan mengamankan sebanyak 57 orang saksi maupun pihak terkait, serta menyita barang bukti berupa kendaraan roda empat sebanyak 21 unit mobil," kata Kapolres Bogor AKBP Wikha Ardilestanto dalam keterangan tertulis hari ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wikha mengungkapkan bahwa ia terjun langsung mengawal penanganan kasus tersebut. Wikha memastikan penanganan kasus tersebut dilakukan secara transparan. Ia mengimbau masyarakat, khususnya warga Jasinga, untuk tetap tenang dan tidak berspekulasi liar di media sosial, karena penanganan perkara terukur secara hukum maupun medis.

"Seluruh barang bukti kendaraan, pemeriksaan 57 orang, hingga uji laboratoris terhadap ratusan hewan ini menjadi pijakan kuat bagi penyidik untuk mengusut tuntas perkara secara profesional dan transparan. Kami minta masyarakat mempercayakan sepenuhnya proses ini kepada petugas dan bersama-sama menjaga kondusivitas wilayah," ungkap Wikha.

ADVERTISEMENT

Korban disebut tewas karena digigit anjing pemburu babi. Penemuan mayat anak laki-laki itu dibenarkan oleh Kapolsek Jasinga Iptu Agus Hidayat. Korban berinisial MAS disebut sedang memancing, lalu digigit anjing.

"Betul, ada ditemukan mayat. Lokasi penemuannya di Desa Sipak, Jasinga. Korban usia 9 tahun, informasi dari keluarga usianya 9 tahun. Korban atas nama MAS," kata Iptu Agus, Minggu (7/6) kemarin.

"Informasi awal dari warga, korban lagi mancing, digigit anjing (pemburu babi). Ini kan baru informasi awalnya, baru diduga. Setelah anggota cek ke lokasi, memang betul ada mayat anak kecil," tambahnya.

Ayah korban, Solehudin (40), mengaku mengetahui kabar duka itu bukan dari lokasi kejadian, melainkan dari informasi warga. "Kalau cerita saya juga nggak tahu kejadiannya. Saya dapat kabar dari warga kampung sebelah kalau anak saya sudah meninggal," kata Solehudin di Polres Bogor, Senin (8/6/2026).

Saat peristiwa terjadi, Solehudin sedang berada di rumah. Sementara putranya memancing bersama seorang temannya di saluran irigasi persawahan yang tak jauh dari permukiman warga. Lagi mancing sama temennya. Di irigasi sawah," ujarnya.

Menurut Solehudin, berdasarkan informasi yang diterimanya, sang anak berangkat memancing sekitar pukul 09.00 WIB. Kabar duka kemudian sampai kepadanya sekitar pukul 12.00 WIB.

Korban mengalami luka serius terutama di bagian kepala. "Dari kepala kelupas semua. Kulit kepala yang paling parah," tutur Solehudin.

Meski masih diselimuti duka, Solehudin mengaku mempertimbangkan langkah hukum terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kematian putranya. "Kemungkinan bisa saya tuntut, tapi semuanya balik lagi ke proses hukum yang berlaku," katanya.

Ia berharap penyelidikan yang kini ditangani kepolisian dapat mengungkap secara jelas penyebab kematian anaknya sekaligus memberikan kepastian hukum bagi keluarga. "Harapannya ya biar kasus begini terkelar. Harapan saya jangan sampai mandek, lancar aja," ujarnya.

Di sisi lain, polisi menyatakan telah menemukan pemilik anjing yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut. Kapolsek Jasinga AKP Agus Hidayat mengatakan keterangan saksi dan warga mengarah pada identitas pemilik anjing yang saat itu dilepas untuk berburu babi hutan. "Dari pihak pemilik anjing tersebut mengakui bahwa itu anjingnya," kata Agus.

Menurut Agus, pemilik anjing telah diamankan dan saat ini kasusnya dilimpahkan ke Polres Bogor untuk penanganan lebih lanjut. "Sementara satu orang dulu yang kami amankan. Untuk proses selanjutnya sudah kami limpahkan ke Polres," ujarnya.

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, perburuan babi hutan memang kerap dilakukan di kawasan tersebut. Para pemburu biasa melepaskan anjing untuk mengejar babi liar di area hutan dan perkebunan.

"Karena memang di tempat itu sudah biasa mereka melepaskan anjing untuk perburuan babi liar. Mereka tidak mengecek langsung ke medan bahwa di lokasi itu ada anak yang sedang mancing," kata Agus.

Polisi menyebut ini merupakan kejadian pertama yang menyebabkan korban jiwa di wilayah tersebut. Pascainsiden, warga meminta agar aktivitas perburuan dihentikan sementara. "Yang pastinya karena permintaan dari warga juga, untuk sementara jangan dilakukan," kata Agus.

Dalam penyelidikan kasus ini, polisi telah mengamankan sekitar 50 ekor anjing pemburu. Namun keempatnya yang diduga menyerang korban sudah mati saat dibawa menggunakan kendaraan. "Sudah mati empat-empat karena dalam satu mobil. Kemungkinan sopir lupa membuka kaca saat perjalanan," ujar Agus.

Ia menambahkan anjing yang digunakan untuk berburu bukan jenis ras khusus, melainkan anjing kampung yang biasa dipelihara warga dan dilatih untuk membantu perburuan babi hutan. "Anjing kampung," kata Agus singkat.

Video Dugaan Pesta Gay di Karawang

Jagat media sosial di Karawang mendadak gempar. Sebuah unggahan video pendek yang merekam dugaan aktivitas tak senonoh di salah satu tempat hiburan malam (THM) viral dan memicu gelombang protes netizen.

Video tersebut mulai menyebar luas sejak Minggu (7/6). Meski belum diketahui pasti kapan waktu perekamannya, tayangan itu memperlihatkan adegan yang diduga melibatkan pasangan sesama jenis di tengah suasana pesta.

Dalam rekaman yang beredar, tampak suasana ruangan dengan pencahayaan khas kelab malam. Beberapa pria terlihat menari bersama dan saling berpelukan mengikuti dentuman musik. Hingga kini, pihak pengelola THM yang diduga menjadi lokasi kejadian belum memberikan pernyataan resmi.

Merespons keresahan publik, Bupati Karawang Aep Syaepuloh langsung melayangkan peringatan keras. Langkah tegas ini diambil setelah video yang diduga berlokasi di kawasan Jalan Tuparev tersebut menjadi bola liar di media sosial.

Bupati menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang tidak akan menoleransi aktivitas apa pun yang mencederai nilai-nilai religius daerah. Ia meminta para pelaku usaha menghormati identitas Karawang sebagai Kota Santri.

"Saya tegaskan, kasih tahu semua pengelola, kalian sudah saya berikan toleransi. Tolong dijaga, Karawang ini kota santri, banyak pesantren di kota ini. Hal yang seperti itu sangat tidak elok dan tidak wajar," ujar Aep hari ini.

Sesuai prosedur administrasi, kata Aep, Pemkab Karawang akan melayangkan surat teguran secara bertahap. Ia juga memastikan sanksi terberat berupa pencabutan izin permanen jika peringatan tersebut diabaikan.

"Kami akan menjatuhkan sanksi administratif berupa teguran pertama hingga ketiga. Mengingat kewenangan perizinan THM melibatkan pemerintah pusat, saya siap berkoordinasi langsung ke Jakarta untuk mencabut izin operasional pengelola seperti ini, saya gak mau neko-neko," kata dia.

Pihaknya mengklaim telah mengantongi sejumlah bukti awal untuk memperkuat langkah penindakan. Ia juga telah memerintahkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Karawang untuk mengusut tuntas kebenaran video tersebut secara objektif.

"Satpol PP sudah saya perintahkan. Kita punya bukti awal, kita harus sampaikan teguran, dan jika mereka masih melakukan hal seperti itu, saya tidak akan ragu meminta izin itu dicabut. Kita harus ingat, Karawang rumah bagi 514 pondok pesantren," pungkasnya.

Masa Depan Bandung Zoo Masih Abu-abu

Nasib pengelolaan Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo rupanya belum mendapat kejelaaan. Pemkot Bandung masih menyeleksi calon lembaga pengelola untuk menentukan masa depannya.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan sempat memberikan kepastian soal nasib pengelolaan Bandung Zoo beberapa hari yang lalu. Rencananya, pengelola baru di kawasan wisata edukasi satwa itu bakal diumumkan pada 5 Juni 2026.

Namun kini, target Farhan itu sepertinya meleset dengan yang diharapkan. Bahkan, ia nampak belum bisa punya keyakinan mengenai siapa calon pengelola Bandung Zoo yang bakal ditentukan.

"Bandung Zoo teh hari ini sama besok akan dibuka. Dari yang saya dengar ya, laporan akan dibuka tiga peserta yang akhirnya memasukkan kembali dokumen," kata Farhan saat dikonfirmasi detikJabar di Balai Kota Bandung hari ini.

"Nah ini saya deg-degan. Soalnya saya enggak boleh lihat dokumennya, kumaha pansel (panitia seleksi) we eta mah," ungkapnya menambahkan.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan dokumen pengumuman, lelang ulang pengelolaan Bandung Zoo dimulai pada 26 Mei 2026. Penjelasan tender dilakukan pada 3 Juni 2026, disusul pemasukan dokumen penawaran pada 4 Juni 2026, dan jadwal pelaksanaan tender pada 8 Juni 2026.

Kemudian, jadwal pelaksanaan tender dilaksanakan pada 8 Juni 2026. Penetapan mitra dilakukan pada 9 Juni 2026, dan penandatanganan kerja sama dilakukan pada 12 Juni 2026

Lelang Bandung Zoo sendiri kini menyisakan tiga lembaga calon pengelola. Di antaranya Taman Safari Indonesia, Faunaland Ancol, Jakarta, hingga Gembira Loka, Yogyakarta.

Menurut Farhan, Pemkot Bandung kini punya kesempatan terakhir untuk segera menentukan calon pengelola Bandung Zoo. Jika gagal kembali, maka ia berencana menghadap ke Kementerian Kehutanan dan Pemprov Jabar untuk menentukan bagaimana konsep pengelolaan kawasan tersebut.

"Ini kesempatan terakhir, kalau gagal lelang lagi saya enggak tahu mesti ngapain," ucapnya.

"Artinya gini, kalau gagal lelang lagi, saya harus menghadap ke Menteri Kehutanan, menyampaikan semua laporan, menghadap ke Pak Gubernur, melaporkan semua perkembangan terakhir. Nanti kita bertiga akan membuat sebuah komitmen bersama soal kebun binatang," pungkasnya.

Ortu Resah Sulit Akses Web SPMB

Hari terakhir Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) tingkat SMA/SMK di Jawa Barat diwarnai kepanikan orang tua siswa. Puluhan orang tua menyerbu SMAN 4 Bandung demi memastikan proses pendaftaran buah hati mereka berjalan mulus.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Hingga hari terakhir, masih banyak akun calon murid yang belum terverifikasi. Di sisi lain, sejumlah orang tua mengeluhkan sulitnya mengakses situs Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).

Kondisi ini memaksa para orang tua memilih datang langsung ke sekolah untuk mencari kepastian. Salah satunya Ning Handayani, warga Jalan Peta, Kota Bandung, yang putranya mendaftar ke SMAN 4 Bandung melalui jalur prestasi.

Ning mengaku sempat cemas lantaran hingga Senin pagi akun anaknya belum juga terverifikasi, padahal seluruh berkas telah diunggah sejak awal masa pendaftaran. "Barusan saja diverifikasi. Saya menyelesaikan PCMB tanggal 2 Juni dan sekarang sudah hari terakhir. Jadi deg-degan, apalagi saya bekerja," kata Ning hari ini.

Ia bahkan harus mengambil cuti kerja lebih dari satu kali demi mengawal proses pendaftaran anaknya. Menurut Ning, proses tahun ini terasa jauh lebih rumit dibandingkan saat anaknya masuk SMP beberapa tahun silam. "Kemarin saya sampai cuti, sekarang cuti lagi. Benar-benar deg-degan. Sampai harus cuti untuk mengurus sekolah anak," ujarnya.

"Waktu masuk SMP tidak seribet ini. Kemarin waktu daftar PCMB web-nya error. Tanggal 2 saya juga cuti untuk mengurus pendaftaran. Tadi pagi belum diverifikasi makanya saya datang ke sini. Alhamdulillah sekarang sudah terverifikasi," tambahnya.

Hal serupa dirasakan Pipit, orang tua calon murid yang mendaftar melalui jalur domisili di SMAN 4 Bandung. Ia nekat mendatangi sekolah karena akun anaknya tak kunjung terverifikasi sejak beberapa hari terakhir. "Belum diverifikasi sejak tanggal 3. Makanya saya datang ke sini untuk menanyakan langsung," ujar Pipit.

Meski demikian, ia akhirnya mendapat penjelasan dari pihak sekolah bahwa proses verifikasi masih terus berjalan. "Tadi dijelaskan aman dan diminta menunggu saja sampai besok," tuturnya.

Perasaan cemas dan penuh harap juga dirasakan Santi (41), warga Manglayang, Cileunyi. dia mengaku resah setelah website SPMB Dinas Pendidikan Jawa Barat tidak dapat diakses, sehingga ia kesulitan memantau posisi anaknya dalam proses seleksi.

Anaknya, Grace Melanie Kristanto Putri (15), merupakan lulusan SMPN 3 Cileunyi yang mendaftar ke SMAN 1 Cileunyi melalui jalur prestasi rapor. Ketidakmampuan mengakses laman SPMB membuat Santi khawatir terhadap peluang putrinya untuk diterima di sekolah tujuan.

Karena diliputi rasa penasaran dan khawatir, Santi mendatangi langsung SMAN 1 Cileunyi untuk mendapatkan kepastian terkait kondisi sistem yang mengalami gangguan.

"Saya tadi malam ngecek nama anak saya, dia ikut PCMB jalur prestasi, tadi malam nama masih ada, cuman tadi pagi dibuka gak bisa website," kata Santi kepada detikJabar.

Setelah berkonsultasi dengan panitia di sekolah, Santi mendapat penjelasan bahwa gangguan yang terjadi diduga berkaitan dengan sistem atau jaringan internet.

"Kata ibunya karena ada gangguan internet, atau kemungkinan apa gitu? Terus kata si ibunya kita menunggu saja kalau ada apa-apa bakal ada notif," ujarnya.

Di tengah proses seleksi yang sangat menentukan masa depan pendidikan anaknya, Santi mengaku tidak bisa menyembunyikan rasa gugup. "Sangat deg-degan. Karen ini sangat menentukan posisi anak saya. Sebagai orang tua takutnya anak saya tidak masuk kuota," ucapnya.

Di SMAN 1 Bandung, orang tua siswa, Hesti (46) mengaku sudah datang ke Smansa Bandung sejak Jumat pekan lalu untuk memverifikasi akun anaknya akibat masalah dokumen kependudukan. Namun yang terjadi kemudian, ia belum mendapat kejelasan lantaran proses tersebut masih terkendala situs pendaftaran.

"Dari hari Jumat saya datang ke sini, ternyata ada dokumen yang salah. Jadi otomatis saya harus ke Dinas Kependudukan. Habis dari Dinas Kependudukan, saya ke sini lagi untuk perbaikan berkas. Dan ternyata server-nya itu sekarang lagi error, jadi menghambat ke orang tua juga ya," kata Hesti hari ini.

Orang tua yang telah selesai proses verifikasi, nantinya akan mendapat informasi lanjutan pada 12 Juni 2026. Namun bagi Hesti, hingga pukul 13.00 WIB, dia belum mendapat kejelasan dari tahapan yang begitu dia tunggu selama ini.

Sebab kata Hesti, ada sekitar ribuan orang tua yang hari ini berjibaku untuk tahapan verifikasi SPMB Jabar. Bahkan, ia mengkhawatirkan nasib anaknya yang mengikuti jalur domisi justru harus gugur di awal akibat kesalah tersebut.

"Apalagi kan sekarang hari terakhi, dan ini masih banyak yang belum direvisi. Nah itu sangat mengkhawatirkan. Kita kalau misalkan tidak terverifikasi, gagal," ucapnya.

Sebagai orang tua, Hesti tentu akan memperjuangkan nasib pendidikan anaknya. Ia pun berharap kendala seperti ini bisa segera dievaluasi, supaya memudahkan para orang tua untuk mendaftarkan sekolah anak-anaknya.

"Dan harusnya mereka juga memberikan kelonggaran atau misalkan ya jangan mempersepsikan seperti ini. Kan orang tua itu dari kalangan macam-macam, ada kalangan yang gaptek kayak saya. Jadi minimal dipermudah lah untuk pendaftaran gini," tuturnya.

(wip/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads