Menkeu Beberkan Dampak Efek Rupiah Melemah ke Utang Luar Negeri

Menkeu Beberkan Dampak Efek Rupiah Melemah ke Utang Luar Negeri

Ilyas Fadilah - detikJabar
Kamis, 04 Jun 2026 15:03 WIB
Purbaya Yudhi Sadewa
Purbaya Yudhi Sadewa (Foto: Anisa Indraini)
Jakarta -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons soal nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS menguat 77 poin atau 0,43% hingga mencapai level Rp 18.044.

Purbaya mengatakan, pengelolaan stabilitas nilai tukar merupakan kewenangan Bank Indonesia (BI). Saat ditanya apakah perlu menggelar rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyusul pelemahan rupiah, Purbaya mengaku belum melihat kondisi yang mengharuskan langkah tersebut dilakukan.

"Nanti Anda ngelihat saya panik. Pada dasarnya BI masih menjalankan kegiatan dengan baik dan semuanya masih di bawah kendali mereka. Saya serahkan rupiah ke mereka," kata Purbaya di Kompleks DPR RI, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, ia mengakui pelemahan rupiah dapat meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri dalam mata uang rupiah. Sebab, meskipun kupon atau bunga utang dalam dolar AS tetap, jumlah rupiah yang harus disiapkan untuk membayarnya akan lebih besar ketika kurs melemah.

"Harusnya sih fix kuponnya, tapi kan kalau dia jual di pembayaran utang kan lewat kupon. Kuponnya sih konstan. Cuma, pada waktu rupiah melemah ya ikut meningkat kan dalam rupiah pembayarannya," ujar Purbaya.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, kondisi tersebut masih berada dalam rentang simulasi yang sebelumnya telah diperhitungkan pemerintah. Oleh karena itu, ia memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak terdampak dan masih aman.

Purbaya menjelaskan, saat penyusunan APBN, pemerintah menggunakan asumsi dolar AS Rp 16.500, namun juga melakukan berbagai simulasi terhadap kemungkinan perubahan kondisi ekonomi, termasuk pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi.

"Kan gini, pada waktu APBN pertama kan ada asumsinya berapa? Rp 16.500, ya?T api kan terus ada simulasi pada waktu harga BBM naik tinggi kan? Ya, kita hitung di situ. Adjustment-nya cukup tinggi, tapi kan saya nggak sebutkan kan nanti rupiah melemah signifikan, tapi basically, fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang, lebih kuat dari yang sekarang," beber Purbaya.

Ia kemudian mengungkapkan pemerintah melakukan intervensi di pasar surat utang negara untuk membantu menjaga stabilitas pasar keuangan. Menurutnya, intervensi yang dilakukan mencapai lebih dari Rp 8 triliun di pasar obligasi.

"Mungkin Rp 8 triliun lebih yang di obligasi ya, tapi itu yang boleh diomongin, ya. Nggak apa-apa, biar Anda tahu, saya intervensi sedikit. Terus 10 tahun kan relatif stabil atau cenderung turun. Jadi, dampaknya ada ke surat utang kita," tutup Purbaya.

Artikel ini telah tayang di detikFinance. Baca selengkapnya di sini.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads