Alat berat dikerahkan untuk menangani penumpukan sampah di Pasar Baleendah, Kabupaten Bandung, Rabu (3/6/2026). Sampah tersebut diangkut menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti.
Pantauan detikJabar di lokasi, satu truk tronton disediakan untuk mengangkut gunungan sampah tersebut. Alat berat berupa loader tampak mondar-mandir memindahkan sampah ke dalam bak truk.
Sampah tersebut menumpuk di depan TPS Pasar Baleendah dengan ketinggian hingga satu meter. Selain menimbulkan bau tidak sedap, tumpukan sampah ini mulai mengganggu aktivitas warga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua TPS Pasar Baleendah Indra Sukoco mengatakan, penumpukan sampah kembali terjadi di lokasi tersebut. Kini, petugas harus mengerahkan alat berat untuk mempercepat proses pengangkutan.
"Ini terakhir penarikan tanggal 18 Mei. Itu satu kontainer. Nah, setelah itu sampai sekarang tidak ada penarikan kembali. Terus sekarang saat ini kembali ditarik lagi sampahnya dan dibawa ke TPA Sarimukti," ujar Indra saat ditemui di lokasi.
Pihaknya mengungkapkan, sampah tersebut mayoritas berasal dari pedagang Pasar Baleendah. Menurutnya, sudah tidak ada warga dari luar pasar yang membuang sampah ke lokasi tersebut.
"Iya ini mah murni sampah pedagang Pasar Beleendah semuanya. Sekarang tidak ada dari di luar yang ikut membuang ke sini," katanya.
Menurutnya, penumpukan sampah di pasar tersebut dipicu oleh kendala pengangkutan ke TPA serta masalah tata kelola. Persoalan ini pun harus segera dibenahi dengan baik.
"Jadi intinya sama ada, harusnya ada pemilahan dari organik non-organik. Sesuai arahan di Dinas Lingkungan Hidup akan ditarik non-organiknya ke TPA dan organiknya akan pilah," jelasnya.
Indra, yang juga merupakan pedagang kue di Pasar Baleendah, mengaku terganggu dengan adanya penumpukan sampah tersebut. Kondisi ini membuat pembeli enggan mendatangi pasar.
"Iya berpengaruh ke penjualan. Jadi pengaruh utamanya jadi bau di sini ya. Jadi enggan melewatin pintu masuk Pasar baleendah. Itu sampahnya sampai masuk ke depan pintu tempat dagang. Sampai kami buat tulisan juga di tempat sampah di kios. Sangat terganggu apalagi yang berdampak itu yang sebelahnya TPS," tegasnya.
Dia menambahkan, tumpukan sampah tersebut membuat pendapatan pedagang menurun. Apalagi, limbah cair dari sampah itu menyumbat area drainase.
"Jadi selama ini persoalannya drainase juga sampai titik ini dan sampai ini. Jadi tidak ada tembusan ke sana, akhirnya air itu meluap ke sana, mau lari ke mana, enggak ada. Kalau hujan juga banjir. Mobil juga tidak bisa lewat (nembus ke jalan Bojongsoang)," bebernya.
Indra mengaku sempat bertemu dengan pihak Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung. Pertemuan itu menyepakati perlunya gerakan pemilahan sampah organik dan nonorganik.
"Jadi yang harus ditekankan dari mulai pedagang memilah antara organik dan non-organik. Nah, tapi di sini yang namanya personilnya kan tidak ada. perlu adanya personel itu perlu juga pembiayaan. Nah, walaupun di sini sekarang di apa ya penjagaan dari Satpol PP, tapi belum efektif belum maksimal," pungkasnya.
(iqk/iqk)
