Ada keluarga yang menghitung masa depan anaknya dengan kalender akademik. Ada pula yang harus lebih dulu menghitung apakah uang belanja pekan depan masih cukup untuk bertahan hidup. Di antara kelompok kedua itu, Muhammad Wildan Firdaus (16) dan Rizki Tami Muhammad (15) tumbuh.
Kedua remaja itu berasal dari keluarga berpenghasilan pas-pasan. Namun ketika banyak anak seusia mereka dipaksa menyesuaikan mimpi dengan keadaan, dua siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi itu justru memilih memelihara cita-cita setinggi mungkin.
Saat berbincang dengan detikJabar di Sekolah Rakyat Cibinong, Kabupaten Bogor, Selasa (2/6/2025), Wildan bercerita bagaimana dirinya sempat dihantui kemungkinan tidak bisa melanjutkan sekolah setelah lulus SMP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ayahnya bekerja serabutan, mulai dari membersihkan musala hingga pekerjaan lain yang tersedia. Ibunya merupakan ibu rumah tangga. Ketika kondisi ekonomi keluarga memburuk, ia mulai mempertanyakan apakah bangku SMA masih bisa diraihnya.
"Ekonomi keluarga memang lagi turun banget. Saya bingung mau cari sekolah di mana. Saya sempat berpikir bakal putus sekolah," ujar Wildan.
Ketakutan itu perlahan sirna setelah ia diterima di Sekolah Rakyat. Kini, Ia justru berbicara tentang mimpi yang terdengar jauh lebih besar daripada kondisi keluarganya hari ini.
Ia ingin mendirikan perusahaan teknologi pertanian atau startup agritech yang memadukan sektor pertanian dan peternakan dengan kecerdasan buatan. Mimpi tersebut lahir dari sosok ayahnya sendiri yang gemar bercocok tanam dan memelihara ayam di rumah.
"Saya tertarik melihat kerjaan ayah. Saya ingin pertanian dan peternakan dipadukan dengan teknologi, bahkan AI," katanya.
Jika Wildan memandang sawah dan peternakan sebagai masa depan, Rizki Tami Muhammad melihat harapannya di balik layar komputer.
Ia berasal dari keluarga buruh bangunan. Ayahnya bekerja sebagai kuli proyek, sementara ibunya mengurus rumah tangga dan seorang adik yang masih kecil. Dalam kondisi ekonomi yang terbatas, Rizki mengaku pernah cemas tidak dapat melanjutkan pendidikan.
"Soalnya untuk makan saja kadang kurang. Apalagi buat sekolah," ujarnya.
Yang dipikirkannya kala itu bukan uang saku atau fasilitas sekolah. Ia hanya ingin tetap bisa belajar. Kini, setelah mendapatkan kesempatan bersekolah, Rizki mulai menata mimpi baru. Ia ingin kuliah di Universitas Gadjah Mada dan mengambil jurusan teknologi informasi. Ia membayangkan dirinya belajar komputer, menulis kode program, hingga membuat robot.
"Pengen belajar komputer, coding, bikin robot," tuturnya.
Namun di balik semua cita-cita itu, ada tujuan yang lebih sederhana sekaligus paling penting bagi Rizki, yaitu memperbaiki ekonomi keluarganya. Karena itu, saat kabar diterima di Sekolah Rakyat sampai ke rumah, ia melihat kebanggaan yang terpancar dari kedua orang tuanya.
"Pastinya bangga," katanya singkat.
(sud/sud)
