Fenomena mengejutkan melanda perairan Tanggul Johar, Kelurahan Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang. Pada Selasa (2/6/2026) pagi, warga disuguhi pemandangan ratusan ekor ikan yang mengambang tak bernyawa di sepanjang aliran air tersebut.
Peristiwa ini mendadak viral dan menjadi pusat perhatian warga sekitar serta pengguna jalan yang melintas. Berbagai jenis ikan air tawar, mulai dari Baung hingga Tawes, tampak memenuhi permukaan air dalam kondisi mati massal.
Kondisi ini memicu dugaan kuat di tengah masyarakat bahwa aliran sungai telah tercemar limbah, baik dari aktivitas industri maupun domestik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan kesaksian warga Johar, Kelurahan Karawang Wetan Kabupaten Karawang, Rohendi (35) menuturkan, tanda-tanda air mulai berubah dan ikan mulai mati sebenarnya sudah terdeteksi sejak Senin (1/6/2026) malam.
"Kejadian ini dari tadi malam kita melihat ikan mulai mati dan sampai sekarang ini kita juga mengambil ikan yang mengapung. Tapi di sisi lain, kami bertanya-tanya kenapa ikan ini bisa mati? Apakah ada yang mencemari dari limbah ataupun apa, kita kan tidak tahu," ujar Rohendi, di lokasi kejadian, Selasa (2/6/2026).
Atas kejadian ini, ia berharap pemerintah segera turun tangan. "Mungkin yang lebih tahu adalah, pemerintah, saya harap segera ambil tindakan," tuturnya sembari mengumpulkan ikan-ikan yang masih mengambang di sekitar pintu air irigasi KW 5.
Merespons kegaduhan ini, warga mendesak Pemerintah Kabupaten Karawang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), dan Perum Jasa Tirta (PJT) untuk segera melakukan uji sampel air di laboratorium.
Langkah cepat ini krusial untuk memastikan apakah kematian massal ini murni faktor alam atau akibat kontaminasi zat kimia berbahaya.
Sementara itu, Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Penataan Peraturan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Karawang, Luky Matenra Dwiputra Romly, memastikan pihaknya sudah bergerak ke lapangan untuk melakukan investigasi awal.
"Kejadian (kematian ribuan ikan) ini kita sudah terjun ke lokasi, sementara kita cek dengan parameter pH air tadi pagi itu normal di angka 6,0 tapi kita juga sudah amankan sampel air, dan ikan untuk uji lab lebih terperinci," kata Lucky saat dihubungi detikJabar.
Luky menjelaskan, titik awal kematian ikan di irigasi Tarum Utara Barat ini diduga bermuara dari wilayah Leuweung Seureuh, Kecamatan Klari. Ada indikasi kuat bahwa pencemaran ini bukan berasal dari pipa pabrik langsung, melainkan praktik ilegal pembuangan limbah cair.
"Ini diduga cemaran limbah industri, yang awalnya dari pintu air Leuweung Seureuh, tapi kemungkinan dibawa mobil sistemnya kencing (dibuang dari tangki mobil) tidak langsung dari pabrik," ungkapnya.
Saat ini, DLH Karawang bersama Satgas Citarum Harum Sektor 10 tengah memburu pelaku yang nekat membuang limbah tersebut. "Kami bersama dengan Satgas Citarum Harum juga sedang berupaya mencari pelaku pembuang limbah tersebut, karena kemungkinan ini dibuang Senin (1/6) malam, atau Selasa dini hari, jika melihat dari sampel pH air yang sudah normal," tambah Luky.
Di akhir keterangannya, Luky memberikan peringatan keras kepada warga agar tidak tergiur mengonsumsi ikan-ikan hasil "panen dadakan" tersebut demi keselamatan kesehatan.
"Kami juga mengimbau, kami sudah turun ke lapangan mengamankan ikan-ikan itu, kami minta masyarakat agar tidak mengkonsumsinya, sebab kemungkinan ikan itu tercemar zat berbahaya," pungkasnya.
(yum/yum)
