Netanyahu Tegaskan Serangan ke Hizbullah Belum Berakhir

Kabar Internasional

Netanyahu Tegaskan Serangan ke Hizbullah Belum Berakhir

Novi Christiastuti - detikJabar
Senin, 01 Jun 2026 22:00 WIB
Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu arrives for a press conference in Jerusalem on March 19, 2026. Netanyahu said on March 19 that Israel and the US were winning the war against Iran, with the Islamic republic decimated and unable to enrich uranium or manufacture ballistic missiles. He insisted Israel had acted alone in striking Irans massive South Pars gas field, while confirming that the US president had asked Israeli forces to hold off on such attacks moving forward. (Photo by Ronen Zvulun / POOL / AFP) /
PM Israel Benjamin Netanyahu. Foto: AFP/RONEN ZVULUN
Jakarta -

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer Israel memperluas operasi darat di Lebanon. Perintah itu disampaikan di tengah kembali memanasnya pertempuran antara pasukan Israel dan kelompok Hizbullah meski gencatan senjata telah diumumkan lebih dari enam pekan lalu.

Konflik di Lebanon terus berkembang sejak Hizbullah melancarkan serangan roket dan drone ke wilayah Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Teheran. Sejak 2 Maret lalu, lebih dari 1,2 juta warga Lebanon terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat serangan Israel dan perintah evakuasi.

Data pemerintah Lebanon mencatat lebih dari 3.370 orang tewas akibat serangan Israel sejak awal Maret. Sementara itu, pemerintah Israel melaporkan 24 tentaranya dan empat warga sipil tewas dalam periode yang sama. Serangan Hizbullah juga memaksa puluhan ribu warga Israel di wilayah utara mengungsi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam perkembangan terbaru, militer Israel mengumumkan keberhasilannya merebut Kastil Beaufort, benteng berusia sekitar 900 tahun yang berada di kawasan perbukitan strategis Lebanon selatan. Operasi tersebut berlangsung sehari setelah serangan besar-besaran menghantam wilayah utara Israel dan menyebabkan penutupan sekolah serta pembatasan aktivitas masyarakat.

"Saya telah menginstruksikan (militer Israel) untuk memperluas manuver darat di Lebanon," kata Netanyahu dalam pernyataan terbaru pada Minggu (31/5), seperti dilansir Reuters dan Al Arabiya, Senin (1/6/2026).

ADVERTISEMENT

Pasukan Israel dan pejuang Hizbullah terus terlibat serangan balasan sejak gencatan senjata diumumkan pada pertengahan April. Hizbullah menggunakan drone kamikaze yang relatif murah dan mudah dirakit, tetapi sulit dideteksi sistem pertahanan udara. Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan sejumlah tentara Israel yang bertugas di Lebanon selatan.

Militer Israel sebelumnya telah menguasai wilayah hingga Sungai Litani di Lebanon selatan. Kini, pasukan bergerak menuju kawasan Sungai Zaharani yang berjarak sekitar 10 kilometer lebih ke utara.

Netanyahu menegaskan tujuan operasi tersebut adalah memperluas kontrol Israel di wilayah yang selama ini berada di bawah pengaruh Hizbullah.

Dalam pernyataan video yang dirilis setelah pengumuman keberhasilan merebut Beaufort, Netanyahu menyampaikan optimisme terhadap operasi militer yang sedang berlangsung.

"Kita telah kembali bersatu, bertekad, dan lebih kuat dari sebelumnya."

"Sekarang, arahan saya adalah untuk memperdalam dan memperluas cengkeraman kita di tempat-tempat yang berada di bawah kendali Hizbullah. Direbutnya Beaufort merupakan tahap dramatis dan perubahan dramatis dalam kebijakan yang kita pimpin," tegasnya.

Secara terpisah, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan pasukan Israel telah kembali menguasai puncak Beaufort dan mengibarkan bendera Israel di lokasi tersebut.

"telah kembali ke puncak Beaufort dan sekali lagi mengibarkan bendera Israel di sana".

Menurut Katz, militer Israel akan mempertahankan kawasan tersebut sebagai bagian dari zona keamanan Israel di Lebanon selatan.

"Kampanye ini belum berakhir. Kita semua bertekad untuk menghancurkan kekuatan Hizbullah," tegas Katz.

Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini.

(nvc/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads