Mengupas Fragmen Sejarah Perang dari Deretan Nisan di Ereveld Kerkhof

Mengupas Fragmen Sejarah Perang dari Deretan Nisan di Ereveld Kerkhof

Whisnu Pradana - detikJabar
Selasa, 02 Jun 2026 09:00 WIB
Deretan nisan putih tanda korban perang yang disemayamkan di Ereveld Kerkhof
Deretan nisan putih tanda korban perang yang disemayamkan di Ereveld Kerkhof. (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Cimahi -

Hamparan rumput hijau yang dipotong rapi, di atasnya berderet nisan-nisan putih. Bentuknya berbeda, ada yang salib dengan ujung runcing dan bunga, bintang david, serta serupa perisai segilima bagi mereka yang beragama muslim.

Ereveld mematahkan stereotip soal pemakaman itu seram. Seperti Ereveld Kerkhof, salah satu taman makam kehormatan Belanda yang tersebar di beberapa daerah di tanah air. Ada di pinggiran Kota Cimahi, nyempil di ujung TPU Kerkhof untuk nonmuslim.

Ereveld sendiri berarti Taman Makam Kehormatan khusus bagi korban perang dan warga sipil. Pemakaman itu dikelola langsung oleh Yayasan Makam Kehormatan Belanda (Oorlogsgravenstichting) atau OGS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak sembarangan orang bisa mengakses Ereveld Kerkhof dan ereveld lainnya di tanah air. Kita bakal dibuat terpana dengan kerapian penataan makam. Untuk masuk ke ereveld, pengunjung akan melewati satu pintu semacam lorong berbentuk benteng pertahanan.

ADVERTISEMENT

Berjalan sekitar 100 meter, lalu tiba di gerbang ereveld yang megah berwarna hitam dengan lambang Groot Rijkswapen atau Lambang Agung Kerajaan Belanda. Di tengah-tengahnya, ada sebuah monumen bertuliskan 'Ter eerbiedige nagedachtenis aan de vele ongenoemoen die hun leven offerden en niet rusten op deerevelden'. Atau berarti 'Untuk mengenang dengan hormat mereka yang tak disebut tetapi telah mengorbankan dirinya dan tidak bisa beristirahat di taman-taman kehormatan'.

Ereveld Kerkhof sendiri diresmikan pada 20 Desember 1949, yang dikelola oleh Yayasan OGS di bawah naungan Kedutaan Belanda. Ereveld Kerkhof berdiri di atas tanah Indonesia yang kemudian dihibahkan ke Pemerintah Belanda. Otomatis, status ereveld tersebut saat ini menjadi milik Pemerintah Belanda.

Berdasarkan catatan, di Ereveld Kerkhof hingga saat ini berdiri sebanyak 5.200 nisan yang menandakan banyaknya orang yang disemayamkan di tempat tersebut. Jumlah itu tidak akan pernah bertambah.

Di taman itu pula, bersemayam jasad tentara Koninklijk Nederlandshe Indische Leger atau KNIL yang gugur saat masa penjajahan. Setiap 4 Mei, digelar Dodenherdenking atau The Commemoration of the Fallen. Upacara resmi nasional Belanda yang digelar untuk mengenang pihak sipil maupun militer yang gugur dalam Perang Dunia II pada 1945 silam.

Deretan nisan putih tanda korban perang yang disemayamkan di Ereveld KerkhofDeretan nisan putih tanda korban perang yang disemayamkan di Ereveld Kerkhof Foto: Whisnu Pradana/detikJabar

Direktur Oorlogsgravenstichting (OGS) atau Yayasan Makam Kehormatan Belanda Indonesia, Eveline de Vink, mengatakan sebelum tahun 1950-an di Indonesia ada 22 ereveld yang tersebar dari ujung Sumatera hingga ke tanah Papua.

"Lalu di tahun 1950-an, pemerintah Indonesia meminta pemerintah Belanda untuk memindahkan makam-makam tersebut. Kami juga berpikir bahwa akan lebih mudah merawat jika tidak tersebar di 22 lokasi di seluruh Indonesia, karena jumlahnya terlalu banyak," kata Eveline saat dikonfirmasi, Senin (1/6/2026).

Selama kurang lebih sepuluh tahun, proses pemakaman kembali dilakukan. Jasad demi jasad diangkut dari liang lahad lalu dipindahkan dan disatukan lagi ke dalam satu lubang di lingkungan yang baru dan lebih layak.

"Dari sebelumnya 22 lokasi, kemudian menjadi 12 makam korban perang, dan setelah itu menjadi 7 makam korban perang Belanda yang ada sampai sekarang," ujar Eveline.

Ereveld yang cukup terkenal di Jakarta yakni Menteng Pulo dan Ancol dengan lokasi cukup istimewa. Ereveld Ancol dianggap berbeda lantaran punya sejarah sebagai tempat eksekusi selama Perang Dunia Kedua.

Lalu di Bandung ada dua, yaitu Ereveld Leuwigajah dan Ereveld Pandu. Kemudian ada dua di Semarang yaitu Ereveld Kalibanteng dan Ereveld Candi. Serta satu ereveld di Surabaya yaitu Ereveld Kembang Kuning yang berfokus pada angkatan laut.

Di ereveld-ereveld tersebut, korban perang yang dimakamkan berasal dari tiga periode, yaitu Perang Dunia Kedua, periode revolusi nasional, dan pertempuran untuk Irian Barat.

"Sebagai contoh, di (ereveld) Kembang Kuning terdapat korban dari ketiga periode tersebut. Sementara di sini (Ereveld Kerkhof) lebih berfokus pada Perang Dunia Kedua dan revolusi nasional, begitu juga di Pandu," kata Eveline.

"Korban yang dimakamkan terdiri dari warga sipil maupun militer. Secara keseluruhan di seluruh ereveld di Indonesia, kira-kira 75 persen adalah sipil dan 25 persen militer," imbuhnya.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads