Dunia tengah bersiap menghadapi potensi kemunculan El Nino yang sangat kuat pada 2026. Namun, para ilmuwan berharap fenomena tersebut tidak berkembang menjadi bencana iklim seperti El Nino 1997-1998, salah satu yang paling dahsyat dalam sejarah pengamatan modern.
Tanda-tanda kemunculan El Nino sebenarnya mulai terlihat sejak akhir 1996. Melalui jaringan pelampung yang tersebar di Samudra Pasifik, para ahli meteorologi mendeteksi kenaikan suhu laut yang tidak biasa.
Pada Februari 1997, hamparan air hangat membentang di Pasifik khatulistiwa, dari pesisir Peru hingga Papua Nugini, dengan panjang lebih dari 11.000 kilometer.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memasuki Mei 1997, massa air hangat itu bergerak ke Pasifik timur dan mendorong anomali suhu bawah permukaan laut hingga lebih dari 6 derajat Celsius di atas kondisi normal.
Baca juga: Israel Ngambek gegara Masuk Daftar Hitam PBB |
Dikutip dari IFL Science, air hangat tersebut kemudian naik ke permukaan dan menyebabkan lonjakan tajam suhu permukaan laut di kawasan timur Pasifik. Kondisi itu menjadi sinyal kuat bahwa El Nino besar sedang berlangsung.
Para ilmuwan sebenarnya telah memantau El Nino menggunakan pelampung laut sejak pertengahan 1980-an. Sistem pemantauan itu dikembangkan setelah El Nino 1982-1983 terjadi tanpa banyak terdeteksi sebelumnya dan menimbulkan dampak besar.
Ketika seluruh jaringan pelampung selesai dipasang pada pertengahan 1990-an, kemampuan pemantauan meningkat signifikan. Karena itu, El Nino 1997-1998 dikenal sebagai peristiwa pertama yang dapat diamati secara ilmiah dari awal hingga akhir.
Cuaca Ekstrem Melanda Berbagai Belahan Dunia
Dampak El Nino 1997-1998 terasa hampir di seluruh dunia. Pada periode tersebut, suhu global melonjak dan menjadikan tahun itu sebagai yang terpanas dalam catatan sejarah hingga 2016.
Di kawasan Tanduk Afrika, peningkatan curah hujan memicu banjir besar yang diikuti wabah malaria, demam Rift Valley, dan kolera. Di berbagai wilayah Amerika Latin, pola serupa juga terjadi, dengan meningkatnya penyakit yang ditularkan melalui air dan nyamuk.
Sementara itu, curah hujan yang lebih tinggi memicu lonjakan kasus penyakit di sejumlah wilayah Indonesia, Papua Nugini, dan Filipina. Di China, Jepang, dan Korea Selatan, badai topan terjadi secara beruntun sepanjang musim panas.
Di wilayah lain, masalah utama justru berasal dari kekeringan. El Nino tidak menciptakan tambahan air, melainkan mengubah distribusinya. Akibatnya, sebagian daerah mengalami hujan berlebih, sementara wilayah lain kehilangan pasokan air dalam jumlah besar.
Salah satu kawasan yang terdampak paling parah adalah Lembah Amazon. Kekeringan ekstrem memicu kebakaran hutan berkepanjangan. Kondisi serupa juga terjadi di Indonesia, Malaysia, dan Filipina setelah sebelumnya mengalami banjir pada awal tahun.
Di Korea Utara, kekeringan berkepanjangan bahkan dikaitkan dengan merebaknya wabah kolera.
Amerika Serikat juga mengalami dampak besar. Negara bagian California dan wilayah selatan diterjang badai serta banjir, sementara kawasan utara mengalami salah satu musim dingin paling hangat yang pernah tercatat.
Para ahli saat itu bahkan menyebutnya sebagai 'tahun tanpa musim dingin' karena suhu yang jauh lebih hangat dibandingkan kondisi normal.
Ribuan Korban dan Kerugian Triliunan Dolar
Rangkaian bencana yang dipicu El Nino 1997-1998 menelan korban besar. Banjir, kekeringan, kebakaran hutan, gelombang panas, kelaparan, dan berbagai wabah penyakit menyebabkan ribuan orang meninggal dunia di berbagai negara.
Meski tidak ada angka pasti yang secara langsung mengaitkan seluruh kematian dengan El Nino, estimasi yang paling sering digunakan menyebut sekitar 23.000 orang meninggal selama periode tersebut.
Selain dampak kemanusiaan, El Nino juga memukul perekonomian global. Sejumlah negara yang terdampak mengalami peningkatan tingkat kemiskinan hingga 15 persen.
Kerugian ekonomi global akibat fenomena itu diperkirakan mencapai 5,7 triliun dolar AS.
El Nino 2026 Mulai Dipantau
Kini perhatian dunia kembali tertuju pada perkembangan El Nino 2026. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah lembaga meteorologi memperkirakan fenomena tersebut berpotensi muncul pada Juli 2026.
Sebagian ilmuwan bahkan menilai El Nino kuat sedang dalam proses pembentukan.
Meski demikian, kondisi saat ini belum menunjukkan tingkat keparahan seperti yang terjadi pada awal 1997.
"Meski fenomena tahun ini dimulai sedikit lebih lambat daripada El Nino besar 2015 dan 1997, intensitasnya mulai menyusul. Kita akan lihat seberapa besar dampaknya nanti," ungkap Josh Willis.
Pernyataan peneliti dari NASA Jet Propulsion Laboratory itu menjadi salah satu indikator bahwa perkembangan El Nino 2026 masih terus dipantau secara ketat oleh para ilmuwan di seluruh dunia.
Artikel ini telah tayang di detikINET. Baca selengkapnya di sini.
(fyk/sud)
