Polemik antara oknum mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan Bobotoh di media sosial berbuntut panjang. Perselisihan yang awalnya dipicu unggahan bernada kontroversial itu bahkan diduga berujung aksi pelemparan bom molotov ke gerbang depan Kampus ITB Ganesha, Kota Bandung.
Informasi mengenai insiden tersebut ramai beredar di media sosial, salah satunya melalui akun Instagram @roadtoptn. Dalam unggahan itu disebutkan pelemparan bom molotov terjadi pada Senin dini hari, 25 Mei 2026 sekitar pukul 03.00 WIB dan menyebabkan kerusakan di area gerbang kampus.
Peristiwa itu diduga berkaitan dengan polemik yang sebelumnya memanas di media sosial. Awalnya, keributan dipicu dugaan aksi vandalisme di lingkungan kampus yang dikaitkan dengan oknum Bobotoh. Situasi kemudian membesar setelah muncul kritik dari seorang oknum mahasiswa ITB yang dinilai menggunakan bahasa tidak pantas hingga mengandung unsur rasis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Narasi di media sosial pun berkembang liar. Sebagian pihak mulai menggiring opini bahwa ITB anti-Bobotoh, sementara di sisi lain kemarahan suporter terus meluas hingga akhirnya muncul dugaan aksi penyerangan ke area kampus.
Sementara pantauan di lokasi, Kamis (28/5/2026), kondisi gerbang depan ITB sudah kembali normal dan tidak terlihat bekas kerusakan. Informasi dari beberapa orang di lokasi menyebut, aparat kepolisian sempat datang ke lokasi pada pagi hari setelah kejadian.
Di tengah situasi yang memanas, pihak kampus telah duduk bersama dengan Viking Persib Club untuk meredam konflik. Pertemuan dilakukan langsung bersama Rektor ITB dan perwakilan Bobotoh.
Ketua Umum Viking Persib Club, Tobias Ginanjar menegaskan, polemik di media sosial tidak boleh digeneralisasi menjadi sikap seluruh civitas akademika ITB terhadap Bobotoh.
"Kita diundang bersilaturahmi dengan Pak Rektor ITB, kaitannya terkait yang ramai di media sosial soal postingan dari ITBFest," ujar Tobias dalam keterangan video yang diberikan oleh pihak ITB.
"Terkait hal tersebut, tentunya setelah kami berdiskusi, kami perwakilan Bobotoh menyampaikan dan mengimbau bahwa ternyata di ITB itu sebenarnya tidak membenci Bobotoh, karena banyak juga Bobotoh yang kuliah di ITB karena ada juga dari Viking Ganesha," lanjutnya.
Menurut Tobias, banyak unsur di lingkungan kampus yang justru merupakan pendukung Persib. Karena itu, ia meminta Bobotoh tidak terjebak narasi yang memecah belah.
Meski demikian, Tobias menegaskan unggahan kontroversial yang memicu kegaduhan tetap tidak bisa dibenarkan dan akan diproses pihak kampus.
"Terkait tindakan yang dilakukan di ITBFess, kami sama-sama sepakat bahwa tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan dan Pak Rektor menyampaikan sebelumnya juga sudah akan dilakukan tindakan tegas sesuai aturan internal yang berlaku di lingkungan kampus ITB," jelasnya.
Rektor ITB Tatacipta Dirgantara menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi. Ia menilai polemik media sosial telah berkembang terlalu jauh hingga mengganggu kerukunan warga Bandung.
"Saya mohon maaf sekali telah terjadi kegaduhan tadi yang sudah disampaikan di media sosial, kita tahu bahwa kehidupan di media sosial kadang bergulir menjadi bola salju yang besar dan berdampak pada kerukunan," ujar Tatacipta.
Ia menegaskan ITB tidak ingin dipertentangkan dengan Bobotoh maupun Viking Persib Club. "Kita tidak ingin ITB dan Viking Bobotoh Persib kemudian saling diadukan, itu sesuatu yang sebetulnya kita tidak setuju," katanya.
Tatacipta memastikan pihak kampus akan mengambil langkah sesuai aturan internal terhadap pihak yang terlibat dalam unggahan kontroversial tersebut. Ia juga mengecam keras segala bentuk pernyataan provokatif yang berpotensi memecah belah masyarakat.
"Jadi itu adalah sesuatu yang jelas ada aturannya di lingkungan kampus. Tadi disampaikan kita akan melakukan tindakan-tindakan sesuai aturan yang berlaku di ITB," tegasnya.
"Kami sama sekali tidak membenarkan dan menyesalkan bahkan mengutuk pernyataan yang sifatnya provokatif, menghasut, memecah belah," lanjutnya.
Menurutnya, tindakan semacam itu tidak mencerminkan budaya akademik yang sehat dan beradab.
"Itu semua bukan ciri-ciri dari budaya akademik yang beradab, kita ini satu keluarga besar dan mari sama-sama membuat Kota Bandung aman kondusif," katanya.
Kesaksian Eko Maung
Sementara Eko Noer Kristiyanto, salah seorang Bobotoh yang hadir dalam pertemuan dengan ITB beberapa waktu lalu menuturkan, tidak dibenarkan adanya Bobotoh yang melakukan aksi kekerasan dan vandalisme.
"Buat bobotoh aksi kekerasan, vandalisme gak ada toleransi," ucap pria yang akrab disapa Eko Maung ini.
Ia juga meminta seluruh mahasiswa yang berkuliah di Kota Bandung maupun Jawa Barat untuk memahami kultur warganya yang sangat mencintai Persib Bandung. Menurutnya, Persib punya tempat istimewa bagi hampir seluruh masyarakat.
"Untuk mahasiswa di seluruh kampus di Jawa Barat harus paham dengan kultur warga Bandung, warga Jawa Barat. Termasuk keistimewaan Persib di hati warganya," ungkapnya.
Namun yang disayangkan Eko adalah munculnya narasi yang menyinggung SARA (suku, agama, ras, antar golongan) yang muncul dari oknum mahasiswa di media sosial. Hal itu menurut Eko sangat tidak pantas dilakukan.
"Kalau ada statemen yang sampai sara itu gak bisa ditolerir lagi, malah membahayakan diri sendiri," tegas Eko.
Eko menyebut, setelah pertemuan Bobotoh dan pihak ITB, permasalahan secara normatif telah diselesaikan secara kekeluargaan. Ia pun berharap tidak ada situasi memanas lagi yang terjadi, baik secara ril maupun di dunia maya.
"Secara normatif ya, ini namanya ikhtiar agar eskalasinya turun. Berproses ya, semoga membaik tensinya," pungkasnya.
Simak Video "Video: Persib Bandung Juara 3 Musim Beruntun!"
[Gambas:Video 20detik]
(bba/mso)
