Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan terbaru yang dilakukan Amerika Serikat (AS) ke wilayah Iran. Teheran menilai tindakan tersebut melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Pernyataan itu muncul setelah Komando Pusat AS menyebut pasukannya menyerang situs rudal dan kapal di wilayah selatan Iran pada Senin (25/5/2026). Target tersebut disebut tengah mencoba memasang ranjau di kawasan Teluk.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menembak pesawat AS yang mencoba memasuki wilayah udara Iran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentara teroris AS, yang melanjutkan tindakan ilegal dan tidak beralasan sejak gencatan senjata... telah, dalam 48 jam terakhir, melakukan pelanggaran berat terhadap gencatan senjata di wilayah Hormozgan," kata Kemlu Iran dalam sebuah pernyataan, Selasa (26/5/2026).
Iran menegaskan tidak akan membiarkan tindakan yang disebut sebagai kejahatan itu tanpa balasan. Teheran juga menyatakan siap membela kepentingan dan rakyat Iran.
Ketegangan tersebut terjadi ketika delegasi tingkat tinggi Iran berada di Qatar untuk menjalani pembicaraan diplomatik dengan pihak Amerika Serikat. Proses diplomatik itu bertujuan mengakhiri konflik yang pecah sejak 28 Februari lalu.
Sebelumnya, militer AS mengumumkan serangan yang disebut sebagai tindakan "bela diri" di wilayah selatan Iran. Operasi militer tersebut meliputi peluncuran rudal dan upaya pemasangan ranjau.
Serangan dilakukan "untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran," kata Juru Bicara Komando Pusat Amerika Serikat Tim Hawkins dalam sebuah pernyataan.
Ia menambahkan pihak militer AS tetap "menggunakan pengendalian diri selama gencatan senjata yang sedang berlangsung".
Meski demikian, rincian teknis terkait pelaksanaan operasi tersebut belum dijelaskan lebih lanjut. Dampak serangan terhadap pembicaraan diplomatik antara kedua negara juga masih belum diketahui.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran masih terbuka meskipun serangan terbaru telah terjadi.
"Ada beberapa pembicaraan yang berlangsung di Qatar hari ini, jadi kita lihat apakah kita bisa membuat kemajuan," kata Marco Rubio kepada jurnalis saat melakukan kunjungan resmi ke India.
"Saya pikir ada banyak pembicaraan berulang tentang bahasa spesifik dalam dokumen awal, jadi akan memakan waktu beberapa hari," sambungnya. "Presiden telah menyatakan keinginannya untuk menyelesaikan itu. Dia akan membuat kesepakatan yang bagus atau tidak ada kesepakatan sama sekali."
Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini.
(fca/sud)
