Suara bising knalpot dan kepulan asap kendaraan bermotor mendominasi setiap kali konvoi kemenangan Persib Bandung digelar. Namun, terdapat suasana berbeda bagi para pesepeda yang memilih cara sendiri untuk mengekspresikan kegembiraan terhadap tim kebanggaan mereka yang berhasil meraih gelar juara tiga kali berturut-turut pada Minggu (24/5/2026).
Kehadiran para pesepeda ini tidak muncul secara acak, melainkan terorganisasi dengan baik. Seperti halnya Kang Idu dan Memet, yang tergabung ke dalam Forum Komunikasi Sepeda (Forkom) Bandung Raya, sebuah wadah besar yang menjadi tempat bernaung bagi sekitar 300 komunitas sepeda di wilayah Bandung Raya.
"Kita kan dari Forkom, Forum Komunitas Sepeda Bandung Raya. Jadi infonya kita kumpul di sepanjang Jalan Merdeka untuk meramaikan acara hattrick. Dari pesepeda Bandung Raya itu sudah 3 tahun menang itu ikut meramaikan terus kalau konvoi" ujar Memet saat ditemui di sela-sela kemeriahan konvoi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di dalam forum tersebut, para ketua atau minimal koordinator komunitas saling berjejaring agar setiap ada informasi atau pengumuman bisa langsung disebarluaskan ke anggota di komunitasnya masing-masing. Secara spesifik, Kang Idu dan Pak Memet sendiri merupakan bagian dari komunitas bernama Batu Lintang.
"Forkom tadi kan banyak komunitasnya, kalau kita komunitasnya Batu Lintang atau Baturan Tujuh Lintas Angkatan, dan minimal koordinatornya ada tergabung di Forkom, jadi kalau ada pengumuman nantinya disebarkan" tambah Memet.
Pengalaman mendampingi konvoi dari tahun ke tahun membuat mereka khatam dengan perubahan rute perayaan. Kang Idu mengenang, pada tahun-tahun sebelumnya mereka berkumpul di titik yang berbeda lantaran menyesuaikan rute yang dilalui para pemain Persib.
"Tahun sebelumnya kita kumpulnya di Taman Radio waktu itu, karena kan lewat. Kalau sekarang kita kumpul di Jalan Merdeka karena beda jalur konvoinya" tutur Kang Idu.
Meski saat ini bergabung bersama massa umum, Forkom biasanya memiliki agenda internal tersendiri setelah euforia konvoi utama mereda. Menurut Kang Idu, biasanya akan ada koordinasi lanjutan untuk menggelar konvoi khusus yang seluruh pesertanya menggunakan sepeda.
"Persiapan khusus mungkin setelah ini, biasanya ada konvoi khusus sepeda. Sepeda semua biasanya. Jadi lebih seru lah mungkin ya kalau pesepeda mah. Kemungkinan di minggu depan, kita bisa ngadain lagi lah" tambah Kang Idu.
Lain cerita dengan Yadi, seorang pesepeda lainnya yang juga ikut meramaikan suasana. Berbeda dengan anggota Forkom yang sejak awal merencanakan hadir di pusat kota, Yadi sebenarnya memiliki agenda utama, yakni bersepeda ke area pegunungan.
"Niat awalnya sebetulnya mau naik Gunung Canar, tapi akhirnya ikut rombongan ibu-ibu ikut konvoi" jelas Yadi.
Keriuhan jalanan saat konvoi membuat Yadi dan rombongan pesepedanya sambil bersantai menepi di pinggir jalan. "Kita ikut konvoi, dari awal kita cari posisi, sepeda-sepeda berbaris, lalu cari temoat yang nyaman, ngambil momennya aja" tambahnya.
Bagi Yadi, esensi dari sebuah perayaan seharusnya membawa kebahagiaan bagi seluruh warga kota, bukan justru menimbulkan kebisingan yang mengganggu kenyamanan publik. Ia menyelipkan harapan agar aksi-aksi konvoi yang mengandalkan knalpot bising bisa segera ditinggalkan oleh masyarakat.
"Kita berharap kepada masyarakat, motor-motor dengan knalpot bising itu udah bukan zamannya. Kalau zaman dulu ya konvoi dan sebagainya itu bolehlah. Sekarang mah kita nikmatinya yang nyaman, yang santun, yang kondusif juga. Menikmati ya seperti biasa, enggak usah kayak gitu, udah enggak zamannya menurut saya" pungkas Yadi.
Meskipun menyadari bahwa setiap kelompok masyarakat memiliki cara dan preferensi yang berbeda-beda dalam mengekspresikan kegembiraan, para pesepeda di sudut jalanan kota ini membuktikan bahwa dukungan besar terhadap Persib Bandung tetap bisa disalurkan walau dengan cara yang berbeda.
(dir/dir)
