Menteri HAM: Tanpa Pers Dunia Ini Gelap

Menteri HAM: Tanpa Pers Dunia Ini Gelap

Rifat Alhamidi - detikJabar
Rabu, 20 Mei 2026 18:43 WIB
Menteri HAM Natalius Pigai saat membuka Kelas Jurnalis HAM 2026.
Menteri HAM Natalius Pigai saat membuka Kelas Jurnalis HAM 2026. (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar)
Bandung -

Menteri HAM Natalius Pigai secara resmi membuka Kelas Jurnalis HAM 2026. Acara yang digelar di kawasan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, itu digagas sebagai upaya pembangunan peradaban di Indonesia.

Dalam paparannya, Pigai menyatakan Indeks HAM Indonesia pada 2024 sudah mencapai 63,2 poin. Dimensi sipil dan politik mencapai 58,28 poin, lalu dimensi ekonomi, sosial, dan budaya 68,97 poin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selama ini kan ada kesan pers itu dianaktirikan oleh pemerintah, oleh negara. Sebenarnya dengan agenda hari ini, itu menunjukkan bahwa pemerintah bersama pers punya kontribusi nyata dalam membangun peradaban yaitu partisipasi publik sebagai human right defenders dan juga sebagai pilar demokrasi," kata Pigai, Rabu (20/5/2026).

Pigai menyatakan Pemerintah Indonesia membutuhkan peran pers untuk mengawal demokrasi. Kementerian HAM, kata Pigai, bahkan membuka pintu lebar jika pers memberikan kritik yang tajam bagi kebijakan pemerintahan.

ADVERTISEMENT

"Boleh berupa kritikan, boleh berupa dukungan, boleh berupa tuntutan, boleh juga mengucapkan rintihan ratapan penderitaan rakyat. Itulah yang disebut media yang baik, media yang mampu mengartikulasikan kepentingan rakyat kepada pemerintah dan mengakselerasi kebijakan pemerintah langsung kepada masyarakat," ungkapnya.

"Artinya kami ingin memberi perhatian khusus supaya jangan sampai, suatu saat ada tuduhan pers busting because of the government. Itu saya tidak mau. Untuk itulah kita mau menyatakan bahwa pers tidak boleh mati. Pers harus jadi besar, tanpa pers dunia ini gelap," tambahnya.

Menutup pernyataannya, Pigai menyatakan bahwa pers di masa saat ini seperti lilin kecil yang menerangi lorong kegelapan. Sebagai mantan aktivis HAM, Pigai menyadari peran pers begitu besar dalam dinamika demokrasi di Indonesia.

"Tanpa Pers tidak mungkin lorong kegelapan itu jadi di terang. Pers itu menerangi dunia, menerangi negara, menerangi bangsa. Pers lah yang membuka pintu untuk menguasai alam semesta. Dengan pers kita bisa mengetahui tentang bagaimana mereka dan mengkreasi sesuatu," pungkasnya.

(ral/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads