Curhat Warga Sukabumi: Truk Tambang Lewat, Rumah Bergetar

Curhat Warga Sukabumi: Truk Tambang Lewat, Rumah Bergetar

Siti Fatimah - detikJabar
Selasa, 19 Mei 2026 15:20 WIB
Kondisi jalan yang dilintasi truk pengangkut material tambang
Kondisi jalan yang dilintasi truk pengangkut material tambang (Foto: Siti Fatimah/detikJabar).
Sukabumi -

Warga yang berada di sepanjang Jalan Veteran, Kampung Gunungguruh, Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, mengeluhkan aktivitas hilir-mudik truk pengangkut material tambang yang melintasi permukiman mereka. Selain memicu kerusakan jalan, intensitas truk yang tinggi membuat rumah-rumah warga bergetar hingga mengganggu waktu istirahat.

Ketua RW setempat, M. Syamsudin (60), mengungkapkan keresahan warga bermula sejak kendaraan besar milik perusahaan tambang mengalihkan jalurnya ke jalan permukiman. Saban hari, ada puluhan dump truck bermuatan batu kapur dan tanah yang melintas.

"Kalau misalkan satu atau dua mobil yang lewat sih enggak apa-apa. Tapi kalau banyak, itu kan merasa resahnya. Pertama, kalau datang ke sini jalannya jadi kerepotan warga. Keduanya, rumah yang berdekatan itu agak bergetar. Sampai-sampai yang punya rumah di dekat jalan merasa enggak enak," kata Syamsudin kepada detikJabar, Selasa (19/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Syamsudin menyebut truk-truk tersebut diduga berasal dari salah satu perusahaan yang mengangkut material tambang. Dalam sehari semalam, diperkirakan ada 25 hingga 30 unit truk yang melintas. Bahkan, warga terpaksa harus mengadang jika ada kendaraan jenis tronton yang nekat masuk.

Warga mengkhawatirkan kondisi jalan permukiman yang menjadi akses utama mereka akan rusak parah tanpa ada pertanggungjawaban dari pihak perusahaan. Mereka berharap pihak perusahaan mau membuka ruang musyawarah untuk memberikan kejelasan.

ADVERTISEMENT

"Yang dikhawatirkan itu kan jalan. Kalau jalan sudah jelek, takutnya kayak di Legoknyenang sekarang, siapa yang mau tanggung jawab?," tanyanya.

Menurut Syamsudin, truk tambang tersebut beralih melewati jalan permukiman warga lantaran jalur logistik utama mereka (arah Jagal) mengalami kerusakan parah. Warga pun sudah melayangkan surat pengaduan resmi yang dilengkapi tanda tangan masyarakat ke pihak desa hingga kecamatan, namun belum ada tindakan cepat.

"Jangankan sampai desa, sampai kecamatan sudah masuk semua (laporannya). Bahkan masalah ini sudah disampaikan juga ke Pak Dedi Mulyadi, karena warga pengennya cepat selesai," tuturnya.

Senada dengan Syamsudin, tokoh warga setempat, Tatang (65), membeberkan bahwa pengalihan jalur truk tambang ke jalan permukiman ini sudah berlangsung selama sekitar enam bulan. Ia menyayangkan truk-truk tersebut kerap melintas secara diam-diam pada tengah malam.

"Sudah ada 6 bulan karena jalur mereka sendiri rusak dan bergelombang dalam. Jadi lewat jalan sini 'maling-maling' tengah malam, jadi mengganggu waktu istirahat warga," keluh Tatang.

Tatang memaparkan dampak negatif lain yang membayangi warga, mulai dari polusi debu yang mengancam kesehatan pernapasan hingga risiko kecelakaan lalu lintas akibat ceceran material tanah yang dibawa truk menuju Jakarta tersebut.

"Dampaknya takut sesak napas, takut jalan rusaknya parah. Kemarin juga sempat viral di media sosial ada siswa yang jatuh. Waktu hujan, tanah (dari muatan truk) itu masuk ke jalan cor, pas lewat anak-anak jatuh tergelincir," ungkap Tatang.

Geram dengan kondisi yang tak kunjung membaik, sedikitnya 50 warga telah menandatangani petisi penolakan terhadap aktivitas truk tersebut. Warga juga menyayangkan sikap pemerintah daerah dan pihak perusahaan yang dinilai menutup mata dan belum memberikan respons konkret hingga saat ini.

"Warga sudah buat petisi berupa tanda tangan sekitar 50 orang menolak kendaraan lewat sini. Sejauh ini respons dari pemerintah belum ada. Waktu bulan Januari lalu kami juga sudah menitipkan surat pengaduan ke Pak Dedi Mulyadi biar cepat ada aksi, tapi belum ada respons juga," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Kakorlantas: Korban Tewas Kecelakaan Turun 25% saat Operasi Lilin 2025"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads