Miftahul Jannah kembali menantang batas. Mantan atlet judo disabilitas nasional yang dikenal setelah didiskualifikasi di Asian Para Games 2018 karena mempertahankan hijabnya itu kini bersiap menjalani ekspedisi bersepeda lintas Pulau Sumatra sejauh kurang lebih 2.800 kilometer.
Perjalanan panjang tersebut bukan sekadar tantangan olahraga. Miftah membawa misi besar tentang inklusivitas, aksesibilitas, hingga pembuktian bahwa penyandang disabilitas mampu menembus batas yang selama ini dianggap mustahil.
Ekspedisi itu dijadwalkan berlangsung selama sekitar 60 hari pada Juni hingga Juli 2026. Dalam sehari, Miftah menargetkan mampu menempuh jarak 75 hingga 100 kilometer dengan didampingi tim pendukung untuk keamanan dan dokumentasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kegiatan ini adalah ekspedisi bersepeda jarak jauh lintas Sumatera yang dilakukan oleh Miftahul Jannah, seorang atlet disabilitas/netra. Program ini bukan sekadar olahraga endurance, tapi juga membawa misi sosial tentang aksesibilitas, inklusivitas, dan pemberdayaan penyandang disabilitas," kata Miftah, Jumat (15/5/2026).
Perjalanan akan dimulai dari Bogor menuju Banten, lalu menyeberang ke Lampung sebelum melintasi Sumatra Selatan, Jambi, Sumatra Barat, Sumatra Utara hingga berakhir di Aceh.
Selama perjalanan, Miftah tak hanya fokus mengayuh sepeda. Ia juga berencana melakukan kampanye sosial, bertemu masyarakat, hingga membuat dokumentasi digital di setiap daerah yang disinggahi.
"Jadi bukan hanya gowes, tetapi juga ada unsur edukasi sosial, branding, dan engagement dengan masyarakat," ujarnya.
Bagi Miftah, ekspedisi ini memiliki makna personal yang sangat dalam. Pengalaman pahit saat Asian Para Games 2018 menjadi salah satu titik balik yang membentuk tekadnya hingga hari ini.
"Latar belakang utamanya berasal dari pengalaman pribadi sebagai atlet disabilitas. Saya pernah mengalami momen berat ketika didiskualifikasi di Asian Para Games 2018 karena mempertahankan prinsip pribadi," ucapnya.
Dari pengalaman tersebut, Miftah mengaku ingin bangkit dan membuktikan diri lewat tantangan baru di luar cabang olahraga yang selama ini digelutinya.
"Dari pengalaman itu, muncul keinginan untuk bangkit, membuktikan kapasitas diri di cabang olahraga lain, dan menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya dan berprestasi," katanya.
Miftah juga ingin menjadikan ekspedisi ini sebagai pesan terbuka bagi masyarakat bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk bermimpi besar dan menembus batas.
"Motivasi lainnya adalah memberikan inspirasi kepada anak-anak berkebutuhan khusus, membuktikan bahwa atlet disabilitas juga bisa melakukan ekspedisi ekstrem, dan mengangkat isu kesetaraan serta aksesibilitas ruang publik," ujarnya.
Menurut Miftah, ekspedisi lintas Sumatra ini bukan hanya tentang mencapai garis akhir di Aceh. Ada pesan yang lebih besar yang ingin ia suarakan sepanjang perjalanan.
"Tujuan kegiatan ini yaitu membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berprestasi, mengkampanyekan pentingnya aksesibilitas fasilitas umum bagi penyandang disabilitas, serta menginspirasi generasi muda untuk berani bermimpi dan melampaui batas," tuturnya.
Ia berharap perjalanan tersebut bisa menjadi ruang interaksi sosial yang lebih luas antara penyandang disabilitas dengan masyarakat umum.
"Secara singkat, kegiatan ini bukan hanya soal mencapai garis finish di Aceh, tetapi juga tentang membawa pesan bahwa inklusivitas, keberanian, dan mimpi itu milik semua orang," pungkasnya.
Simak Video "Video: Upaya Pemerintah Akomodasi Penyandang Disabilitas di Dunia Kerja"
[Gambas:Video 20detik]
(bba/mso)
