Bulan Perlahan 'Pamit' Menjauh dari Bumi, Ini Dampaknya

Kabar Internasional

Bulan Perlahan 'Pamit' Menjauh dari Bumi, Ini Dampaknya

Adi Fida Rahman - detikJabar
Jumat, 15 Mei 2026 20:00 WIB
Bulan purnama dengan ornamen pohon dan tanah siluet.
Ilustrasi (Foto: David Besh/Pexels).
Jakarta -

Pernah terpikir nggak kalau Bulan ternyata sedang bergerak menjauh dari Bumi? Fenomena yang sudah berlangsung selama miliaran tahun ini mulai menunjukkan dampak nyata. Salah satu yang paling bikin sedih: manusia di masa depan terancam kehilangan momen epik Gerhana Matahari Total.

Berdasarkan pengukuran ilmiah, Bulan bergeser menjauh dari Bumi dengan kecepatan rata-rata sekitar 3,8 sentimeter per tahun. Angka ini memang terdengar kecil, bahkan setara dengan kecepatan pertumbuhan kuku manusia. Namun dalam skala jutaan hingga miliaran tahun, pergeseran ini membawa konsekuensi besar bagi sistem Bumi-Bulan.

Kepastian fenomena ini bukan sekadar teori, melainkan hasil dari eksperimen canggih bernama Lunar Laser Ranging Experiment (LLRE). Dalam misi ini, ilmuwan menembakkan sinar laser dari observatorium di Bumi menuju reflektor khusus yang ditinggalkan astronot Apollo di permukaan Bulan pada akhir 1960-an dan 1970-an.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan menghitung waktu pantulan laser yang hanya butuh sekitar 2,5 detik untuk pulang-pergi, ilmuwan bisa mengukur jarak Bumi dan Bulan dengan akurasi hingga tingkat milimeter. Pengamatan selama puluhan tahun ini membuktikan bahwa jarak keduanya memang terus bertambah lebar.

Dampak paling dramatis dari menjauhnya Bulan adalah perubahan pada fenomena Gerhana Matahari Total. Saat ini, kita beruntung karena Bulan dan Matahari terlihat hampir sama besar dari Bumi berkat kombinasi jarak dan ukuran yang sangat presisi.

Secara teknis, Matahari memiliki diameter sekitar 400 kali lebih besar dibanding Bulan, tetapi jaraknya juga sekitar 400 kali lebih jauh dari Bumi. "Kebetulan" kosmik inilah yang memungkinkan Bulan menutupi seluruh piringan Matahari secara sempurna saat gerhana terjadi.

Namun, seiring Bulan yang terus menjauh, ukurannya di langit akan tampak semakin mengecil. Akibatnya, suatu saat nanti Bulan tak lagi mampu menutupi seluruh permukaan Matahari, dan Gerhana Matahari Total hanya akan tinggal sejarah.

Ilmuwan NASA Richard Vondrak pernah menjelaskan bahwa keindahan fenomena ini memang ada batas waktunya.

"Seiring berjalannya waktu, jumlah dan frekuensi Gerhana Matahari Total berkurang. Sekitar 600 juta tahun lagi, Bumi akan melihat keindahan Gerhana Matahari Total untuk terakhir kalinya," ujar Vondrak pada 2017 dikutip dari iflscience.

Artikel ini sudah tayang di detikInet, baca selengkapnya di sini.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: 5 Mitos Gerhana Matahari yang Dibantah Sains "
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads