Mengenal CNG, Calon Pengganti LPG 3 Kg yang Lebih Murah & Ramah

Mengenal CNG, Calon Pengganti LPG 3 Kg yang Lebih Murah & Ramah

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Sabtu, 09 Mei 2026 07:15 WIB
Pengisian CNG di Terminal Mengwi, Kabupaten Badung, Bali
Pengisian CNG di Terminal Mengwi, Kabupaten Badung, Bali (Foto: Triwidiyanti)
Bandung -

Pemerintah tengah menguji penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti LPG 3 kg. Uji coba dilakukan pada tabung CNG ukuran rumah tangga sebelum nantinya dipasarkan secara masif kepada masyarakat.

Rencana konversi LPG 3 kg ke CNG ini pun langsung menyedot perhatian publik. Selain diklaim lebih ramah lingkungan, bahan bakar ini disebut-sebut mampu menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang terus membengkak.

"CNG ini untuk 3 kilogram, masih kita melakukan exercise dan uji coba terhadap tabungnya," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Jakarta, Rabu (6/5/2026) sebagaimana dilansir dari detikNews.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, apa sebenarnya CNG dan apa perbedaannya dengan LPG yang selama ini digunakan masyarakat? Simak ulasan selengkapnya berikut ini!

Apa Itu CNG dan Bedanya dengan LPG?

Compressed Natural Gas atau CNG adalah bahan bakar gas yang sebagian besar tersusun dari metana (CH4) dengan kadar lebih dari 95 persen. Gas ini dimampatkan pada tekanan tinggi, umumnya di atas 200 bar, sehingga dapat disimpan dalam tabung khusus untuk memudahkan distribusi.

ADVERTISEMENT

Karena berbasis gas alam, CNG dikenal sebagai salah satu bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil lainnya. Emisi karbon yang dihasilkan jauh lebih rendah, sehingga dinilai lebih bersih untuk mendukung transisi energi nasional.

Selain itu, harga CNG cenderung lebih stabil karena bergantung pada pasokan gas domestik. Faktor inilah yang membuat CNG mulai dilirik, bukan hanya sebagai bahan bakar kendaraan, tetapi juga sebagai alternatif energi rumah tangga.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2012, CNG didefinisikan sebagai bahan bakar gas yang berasal dari gas bumi dengan unsur utama metana yang dimampatkan dan disimpan dalam bejana bertekanan khusus agar lebih mudah diangkut.

Sementara itu, merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2019, Liquefied Petroleum Gas (LPG) merupakan gas hidrokarbon yang dicairkan melalui tekanan untuk memudahkan penyimpanan, dengan komponen utama berupa propana, butana, atau campuran keduanya.

Mengacu pada data PT PGN, gas alam sendiri terdiri dari berbagai unsur hidrokarbon seperti metana, etana, propana, dan butana. Dari berbagai komponen tersebut, CNG memiliki kandungan metana paling dominan, yakni mencapai 95 persen.

Gas alam yang sama juga dapat diolah menjadi berbagai produk energi lain seperti Liquefied Natural Gas (LNG), LPG, hingga CNG. Meski berasal dari sumber yang sama, ketiga jenis energi ini memiliki karakteristik dan metode penyimpanan yang berbeda.

Perbedaan utama antara CNG dan LPG terletak pada bentuk fisik dan tekanannya. CNG disimpan dalam bentuk gas bertekanan sangat tinggi, LPG dalam bentuk cair pada tekanan moderat, sementara LNG disimpan dalam bentuk cair pada suhu yang sangat rendah (kriogenik).

Dari sisi ekonomi, penggunaan CNG diklaim berpotensi memberikan penghematan biaya energi sekitar 20 hingga 30 persen dibandingkan LPG. Hal ini menjadi alasan kuat pemerintah mulai mengembangkan penggunaan CNG untuk kebutuhan rumah tangga.

Upaya Efisiensi

Pemerintah menilai pengembangan CNG sebagai pengganti LPG 3 kg menjadi langkah strategis untuk efisiensi. Selama ini, penggunaan CNG sebenarnya sudah lebih dulu diterapkan untuk tabung berukuran 12 kg dan 20 kg.

Menurut Bahlil, langkah ini didorong oleh tingginya volume impor LPG yang menjadi beban besar bagi APBN. Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada pasokan LPG dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan konsumsi domestik.

"Bayangkan kita impor per tahun itu 8,6 juta ton untuk konsumsi. Di saat bersamaan, devisa kita setiap tahun hanya untuk membeli LPG saja, sekitar Rp 130 sampai Rp 140 triliun. Apalagi kalau harga minyak dunia seperti sekarang, itu pasti lebih besar lagi. Subsidi kita, itu Rp 80 sampai Rp 87 triliun," ujarnya.

Besarnya angka impor tersebut membuat pemerintah harus mencari alternatif energi lain yang lebih efisien. Salah satu opsi yang kini didorong adalah konversi bahan baku gas dalam negeri menjadi energi substitusi LPG.

"Nah, tidak ada cara lain dalam rangka efisiensi adalah kita mencari akal agar bahan baku yang ada di negara kita itu bisa dikonversi untuk mengganti LPG. Kira-kira gitu," sambungnya.

Berapa Harga CNG?

Meski tengah mengembangkan penggunaan CNG untuk masyarakat, pemerintah memastikan skema subsidi tetap akan diberlakukan. Kebijakan ini diambil agar harga jual CNG tetap terjangkau, terutama bagi masyarakat kecil yang selama ini bergantung pada LPG subsidi.

"Arahan Bapak Presiden, baik itu CNG maupun LPG akan selalu mengedepankan untuk membantu rakyat yang memang harus kita bantu. Dengan demikian, subsidi saya pastikan masih menjadi yang harus dilakukan untuk rakyat ya," ujarnya.

Per Mei 2026, harga isi ulang gas melon 3 kg berada di kisaran Rp19.000 hingga Rp25.000 per tabung di tingkat pangkalan atau eceran. Lewat skema subsidi, harga CNG yang nantinya diterima masyarakat diharapkan setidaknya setara dengan harga LPG subsidi saat ini.

"Doakan seperti itu ya. Minimal sama (harganya dengan LPG). Minimal sama," ujarnya.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads