Akhir Kasus Guru BK Potong Rambut 18 Siswi di Garut

Round-up

Akhir Kasus Guru BK Potong Rambut 18 Siswi di Garut

Tim detikJabar - detikJabar
Sabtu, 09 Mei 2026 09:00 WIB
Ilustrasi rambut rusak
Ilustrasi rambut (Foto: Getty Images/nicoletaionescu)
Garut -

Jagat maya belakangan ini dibuat heboh oleh beredarnya video belasan pelajar putri yang menangis histeris. Penyebabnya, rambut mereka dipotong paksa oleh guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolahnya lantaran diduga diwarnai atau pirang.

Insiden pemotongan rambut yang diketahui menimpa 18 siswi SMKN 2 Garut di Kecamatan Tarogong Kaler pada Kamis (30/4/2026) lalu ini seketika memantik sorotan publik luas. Peristiwa itu berbuntut panjang hingga akhirnya mengundang turun tangannya pimpinan daerah.

Razia Dadakan dan Protes Kuasa Hukum

Aksi pendisiplinan ini mulanya mencuat dari aduan para siswi ke Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Nusantara (Stainus) Garut. Asep Muhidin selaku kuasa hukum para siswi membeberkan bahwa kejadian bermula saat sekelompok pelajar putri baru saja kembali ke kelas usai mengikuti pelajaran olahraga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tiba-tiba, seorang guru BK berinisial Ani masuk sembari membawa gunting dan langsung melakukan razia paksa. Asep menilai tindakan memangkas rambut tersebut berlebihan, mengingat para siswi sehari-harinya menutupi rambut mereka dengan hijab saat berada di lingkungan sekolah.

"Alasannya, ada laporan masyarakat soal rambut. Tapi, kami pertanyakan dasar laporannya. Kenapa tidak melibatkan orang tua? Itu lebih etis," ucap Asep kepada detikJabar, Jumat pagi (8/5/2026).

ADVERTISEMENT

Kepala SMKN 2 Garut, Nur Al Purqon, membenarkan adanya insiden razia gunting rambut di sekolahnya. Ia beralasan bahwa tindakan guru BK tersebut tidak muncul tiba-tiba, melainkan buntut dari rentetan teguran.

"Akumulasi dari laporan wali kelas dan masyarakat, bahwa anak SMK katanya rambutnya berwarna bebas," ucap Purqon.

Tuai Pro Kontra di Media Sosial

Video tangisan para siswi sambil memegang seikat rambut yang telah terpotong membelah opini warganet. Banyak yang mengecam tindakan sang guru karena dianggap terlalu ekstrem, terlebih siswi tersebut berhijab.

"Udah pakai kerudung, harusnya nggak di tindak begitu," kata salah seorang warganet.

Namun, tak sedikit pula yang justru berdiri membela langkah tegas guru BK tersebut demi menegakkan aturan tak tertulis soal etika pelajar.

"Sy mendukung langkah guru BK, bukan soal sudah pake kerudung tp rambut di warnai itu jelas tdk pantas di lakukan oleh anak sekolah & melanggar tata tertib sekolah," tulis pemilik akun @sul di kolom komentar.

Sadar tindakannya telah memicu kegaduhan hingga ke luar tembok sekolah, guru bernama Ani tersebut akhirnya muncul ke publik. Melalui sebuah rekaman video, ia menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf dengan suara lirih.

"Perlu saya sampaikan, bahwa kegiatan tersebut dilakukan sebagai penegakkan tata tertib sekolah, yang telah ditetapkan. Khususnya dalam menjaga kerapian, dan kedisiplinan peserta didik. Namun demikian, saya menyadari bahwa dalam pelaksanaannya, terdapat hal-hal yang tidak berkenan dan menimbulkan berbagai persepsi di kalangan masyarakat," ucapnya.

"Dengan kerendahan hati, saya meminta maaf khususnya kepada siswa yang saya cintai, orang tua dan masyarakat yang kurang nyaman dengan tindakan saya," ungkap Ani.

Gubernur Jabar Turun Tangan Beri 'Tiket' Salon

Polemik rambut siswi SMK ini akhirnya sampai ke telinga Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Pria yang akrab disapa KDM itu langsung memanggil dan mempertemukan seluruh pihak yang terlibat, mulai dari guru Ani, 18 siswi yang dirazia, hingga para orang tua mereka.

Dalam pertemuan tersebut, Ani mencurahkan isi hatinya kepada KDM. Ia bercerita bahwa razia tersebut dipicu oleh rasa keadilannya usai menerima keluhan dari para siswa laki-laki.

Pelajar putra merasa dianaktirikan karena kerap dirazia rambut panjang, sementara pelajar putri yang rambutnya dicat merah dibiarkan begitu saja karena tertutup kerudung di sekolah.

"Ada laporan, bu kenapa laki-laki (rambut) panjang sedikit dirazia, tapi perempuan rambutnya merah dibiarkan, keluar gerbang kerudung dibuka, merah masih pakai seragam," katanya menirukan keluhan para siswa.

Mendengar kronologi dan alasan di balik insiden tersebut, Dedi Mulyadi justru menilai langkah yang diambil oleh sang guru bukanlah sebuah kesalahan.

"Menurut saya, ibu tidak salah. Kalau dalam hati, niatnya untuk memperbaiki. Karena rasa sayang, bukan karena rasa benci," ungkap KDM.

Pertemuan tersebut pun berakhir manis. Dedi Mulyadi berhasil mendamaikan sang guru dengan belasan siswinya beserta para orang tua. Sebagai bentuk hiburan dan solusi akhir, KDM juga membagikan 'tiket' perawatan salon secara cuma-cuma agar para pelajar putri tersebut bisa kembali merapikan penampilan rambutnya.

(sya/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads