Waspada Hantavirus, Ini Gejala dan Cara Mencegah Penularannya

Waspada Hantavirus, Ini Gejala dan Cara Mencegah Penularannya

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Sabtu, 09 Mei 2026 09:31 WIB
handwriting alert hantavirus on chalkboard
Ilustrasi (Foto: Getty Images/ninitta)
Bandung -

Wabah Hantavirus baru-baru ini dilaporkan terjadi di kapal pesiar mewah MV Hondius yang tengah berlayar di Samudra Atlantik pada awal Mei 2026. Dalam kejadian tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia. Selain itu, sejumlah penumpang lain dilaporkan jatuh sakit dan kritis.

Kasus tersebut membuat masyarakat mulai khawatir terhadap virus Hanta. Meski demikian, pakar menegaskan masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Pasalnya, risiko penyebarannya jauh berbeda dibandingkan COVID-19.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dominicus Husada, menilai informasi yang beredar saat ini cenderung terlalu menakutkan. Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa virus Hanta bukanlah virus baru dan sebagian besar penularannya tetap berasal dari hewan pengerat seperti tikus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebenarnya situasinya tidak sebegitu menakutkan. Ini bukan virus baru. (Hantavirus) dibawa oleh binatang pengerat, terutama tikus. Tiap tikus membawa virusnya sendiri-sendiri. Kasusnya juga enggak banyak," ujar Dominicus dalam pemaparan daringnya, Jumat (8/5/2026).

Ia menjelaskan, dari sekian banyak keluarga hantavirus, hanya Andes Virus yang diketahui dapat menular dari manusia ke manusia. Jenis Andes inilah yang diindikasikan muncul di kapal pesiar MV Hondius.

ADVERTISEMENT

Namun, penularannya juga tidak mudah. Sejauh ini, kasus terbanyak masih ditemukan di wilayah Amerika Selatan seperti Argentina dan Cile.

"Virus Andes adalah satu-satunya keluarga hantavirus yang bisa menular dari manusia ke manusia lewat kontak erat. Banyak ditemukan di Argentina dan Chile. Di Asia belum ada penularan orang ke orang," katanya.

Dominicus mencontohkan wabah Andes Virus sebelumnya pernah terjadi di Argentina pada 2018-2019. Saat itu, tiga orang yang sebelumnya terpapar virus dari tikus kemudian menularkan infeksi ke puluhan orang lain melalui kontak erat.

"Waktu wabah di Argentina, ada tiga orang yang kontak dengan tikus lalu menyebarkan virus ke 34 orang lainnya. Sebanyak 11 orang meninggal dunia," ujarnya.

Apa Itu Virus Hanta?

Berdasarkan pemaparan Dominicus, virus Hanta merupakan kelompok virus yang dibawa hewan pengerat atau rodents seperti tikus. Meski kasusnya tergolong jarang, infeksi virus ini dapat menyebabkan penyakit berat hingga kematian pada manusia, terutama bila tidak segera ditangani.

Penularan biasanya terjadi ketika seseorang menghirup partikel virus di udara yang berasal dari urin, feses, maupun air liur tikus, terutama di ruang tertutup. Virus juga dapat masuk melalui luka terbuka pada kulit, meskipun kasus seperti ini lebih jarang terjadi dibandingkan penularan lewat udara.

Terdapat lebih dari 40 jenis virus Hanta yang telah teridentifikasi. Sekitar 22 di antaranya diketahui dapat menyebabkan penyakit pada manusia.

Setiap jenis virus umumnya berkaitan dengan spesies tikus tertentu dan memiliki wilayah penyebaran yang berbeda-beda. Berikut beberapa jenis virus Hanta yang paling dikenal:

1. Sin Nombre Virus (SNV)

Virus ini menjadi penyebab utama Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) di Amerika Utara. Penularannya berhubungan dengan deer mice atau tikus rusa yang banyak ditemukan di wilayah tersebut.

2. Andes Virus (ANDV)

Andes Virus merupakan jenis hantavirus yang saat ini ramai diperbincangkan karena dikaitkan dengan kasus di kapal pesiar MV Hondius. Virus ini menjadi satu-satunya keluarga hantavirus yang diketahui dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat. Penularannya berkaitan dengan tikus long-tailed pygmy dan banyak ditemukan di wilayah Argentina serta Cile.

3. Hantaan Virus (HNTV)

Virus ini menjadi penyebab utama Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) di Asia Timur seperti China dan Korea. Penyakit yang ditimbulkan umumnya berkaitan dengan gangguan ginjal dan pembuluh darah.

4. Seoul Virus (SEOV)

Seoul Virus dapat ditemukan di berbagai belahan dunia dan ditularkan oleh tikus cokelat atau brown rats. Virus ini juga dapat menyebabkan HFRS dengan tingkat keparahan yang bervariasi.

5. Puumala Virus (PUUV)

Virus ini menjadi penyebab HFRS yang lebih ringan dan banyak ditemukan di wilayah Eropa. Penyakit akibat virus ini juga dikenal dengan istilah nephropathia epidemica.

6. Dobrava-Belgrade Virus (DOBV)

Jenis hantavirus ini dapat menyebabkan HFRS berat di wilayah Eropa dan Asia. Penularannya berkaitan dengan yellow-necked mice atau tikus leher kuning.

Mayoritas penyakit akibat virus Hanta ditularkan melalui kontak dengan hewan pengerat. Hanya Andes Virus yang sejauh ini diketahui dapat menular lewat kontak erat antara manusia yang terinfeksi dengan orang lain.

Jenis Penyakit yang Disebabkan Virus Hanta

Secara umum, virus Hanta dapat menyebabkan dua jenis penyakit utama. Ada yang menyerang pernapasan, ada pula yang menyebabkan gangguan ginjal.

1. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)

Penyakit ini banyak ditemukan di wilayah Amerika dan dapat menyebabkan gangguan paru-paru berat hingga gagal napas. Tingkat kematiannya juga cukup tinggi dan bisa mencapai 50 persen.

2. Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)

Jenis penyakit ini lebih banyak ditemukan di wilayah Eropa dan Asia. Gejalanya berkaitan dengan gangguan ginjal serta kerusakan pembuluh darah.

Keberadaan Virus Hanta di Indonesia

Dominicus menegaskan hingga saat ini Andes Virus belum pernah ditemukan di Indonesia. Menurutnya, kasus virus Hanta di Indonesia yang pernah ditemukan sejauh ini murni berasal dari penularan tikus ke manusia.

"Kita belum pernah menemukan virus Andes di Indonesia. Di Indonesia penularannya murni dari tikus," katanya.

Ia mengatakan masyarakat Indonesia sebenarnya lebih akrab dengan penyakit leptospirosis yang juga berkaitan dengan tikus dan sering meningkat saat banjir terjadi. Penyakit tersebut bahkan dinilai lebih sering ditemukan dibandingkan virus Hanta.

"Kalau banjir di Jakarta itu langganannya leptospira. Kalau gejalanya berat, biasanya bisa berakhir menjadi (penyakit) kuning," ujar Dominicus.

Apakah Virus Hanta Bisa Jadi Pandemi?

Dominicus menilai kemungkinan virus Hanta berkembang menjadi pandemi seperti COVID-19 sangat kecil. Menurutnya, penularan Andes Virus membutuhkan kontak erat dalam waktu cukup lama sehingga tidak semudah penularan virus pernapasan biasa.

"Kalau seperti COVID pasti tidak. Definisi kontak erat itu satu ruangan, sering bertemu tiap hari, banyak ngobrol, banyak kerja dekat, duduk sebelahan," ujarnya.

Ia menjelaskan, risiko penularan tidak mudah terjadi hanya karena bertemu sesekali. Kontak singkat dinilai memiliki risiko yang jauh lebih kecil dibandingkan interaksi intensif dalam waktu lama.

"Kalau cuma ketemu sekali, kecil kemungkinan tertular," katanya.

Dominicus juga menyebut kemampuan penyebaran virus Hanta jauh lebih rendah dibandingkan penyakit menular lain seperti campak atau COVID-19. Selain itu, virus ini juga dinilai tidak mudah mengalami mutasi seperti influenza maupun virus corona.

"Basic reproduction number penyakit paling tinggi itu campak. Bisa sampai 1:19. Sedangkan Hantavirus mungkin tidak sampai 1:2, bahkan mendekati nol. Risiko untuk meluas sangat kecil," jelasnya.

Gejala Infeksi Virus Hanta

Dominicus menjelaskan, gejala virus Hanta sering kali sulit dikenali karena mirip penyakit umum lainnya seperti flu atau demam biasa. Masa inkubasinya juga cukup panjang sehingga pasien sering kali tidak menyadari kapan pertama kali terpapar virus tersebut.

"Gejala bisa muncul sampai dua bulan setelah kontak. Paling sering satu sampai enam minggu," kata Dominicus.

Ia menjelaskan, gejala awal biasanya berupa demam, nyeri otot, tubuh lemas, dan rasa ingin tidur terus. Namun pada kondisi berat, pasien dapat mengalami sesak napas hingga gangguan ginjal serius.

"Penurunan fungsi ginjal yang paling nyata. Demam, nyeri, kelelahan, kemudian enggak kencing. Biasanya fungsi ginjal sudah sangat terpengaruh," ujarnya.

Dominicus mengatakan diagnosis virus Hanta tidak mudah dilakukan hanya berdasarkan gejala. Bahkan kasus pasangan asal Belanda yang meninggal dunia dalam wabah terbaru awalnya tidak langsung terdeteksi sebagai infeksi hantavirus.

"Orang Belanda yang meninggal itu awalnya juga enggak diketahui Hanta karena tidak dites. Setelah istrinya memburuk sampai meninggal baru dilakukan tes dan ketahuan Hanta," katanya.

Lebih jauh, ia juga menyoroti keterbatasan fasilitas pemeriksaan laboratorium di Indonesia. Menurutnya, banyak laboratorium sebenarnya sudah tersedia di berbagai provinsi, tetapi masih terkendala ketersediaan reagen pemeriksaan.

"Salah satu kelemahan di Indonesia fasilitas lab masih sangat terbatas. Lab di tiap provinsi ada, tapi reagennya sering enggak ada. Perlu dukungan pemerintah untuk pengadaannya," ujarnya.

Cara Mencegah Penularan Virus Hanta

Untuk mencegah infeksi yang disebabkan virus Hanta, Dominicus mengingatkan masyarakat untuk tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat dalam aktivitas sehari-hari. Langkah sederhana seperti penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) disebut sangat efektif untuk mencegah infeksi virus.

"Tetap PHBS untuk kondisi apa pun. Itu menurunkan risiko berbagai penyakit," ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya membersihkan kotoran tikus dengan benar menggunakan cairan disinfektan, bukan hanya disapu biasa. Rumah juga perlu diupayakan bebas tikus dan area berdebu yang sering menjadi sarang tikus harus rutin dibersihkan.

"Hindari kontak dengan hewan pengerat, terutama tikus. Bersihkan kotoran dan kencing tikus dengan desinfektan, jangan hanya disapu," katanya.

Ia menegaskan, hingga saat ini belum ada vaksin untuk virus Hanta. Meski begitu, ia meminta masyarakat tetap bersikap proporsional dan tidak mengabaikan ancaman penyakit lain yang justru lebih sering terjadi di Indonesia.

"Ini mungkin akan semakin sering kita hadapi dan kita enggak boleh lengah. Tapi jangan sampai menggeser prioritas bahwa masalah kesehatan di Indonesia masih banyak yang jauh lebih sering terjadi dan sebenarnya bisa dicegah," ujarnya.

Ia mencontohkan penyakit seperti campak, difteri, tetanus, dan pertusis yang hingga kini masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Menurutnya, cakupan perlindungan masyarakat terhadap penyakit-penyakit tersebut juga masih belum optimal.

"Pencegahan campak, difteri, tetanus, pertusis itu lebih penting karena kasusnya jauh lebih banyak. Sangat banyak masyarakat yang belum terlindungi dengan memadai. Jadi tetap waspada dengan yang terjadi di luar, tapi kebakaran di rumah sendiri juga perlu dipadamkan," pungkasnya.

Halaman 2 dari 3
(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads