Sebuah video yang menunjukkan seorang pasien dibawa keluar dari RSUD Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, mendadak viral di media sosial.
Dalam video tersebut, pihak keluarga menyatakan kekecewaannya karena pasien diminta pulang dan tidak mendapatkan perawatan intensif meski kondisi sedang sakit.
Perekam video tersebut, Embad, menceritakan kronologi kejadian yang dialami istrinya, Sumiyati. Menurutnya, sang istri sudah sakit selama tiga minggu dan akhirnya meminta dibawa ke rumah sakit karena merasa lemas dan pusing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pas di rumah sakit didiemin. Pas saya masuk ke dalam, saya tanya 'ini mau ditangani mau enggak? Baru datang dokter perempuan," ujar warga Desa Citepus tersebut kepada detikJabar, Rabu (6/5/2026).
Embad mengaku sempat meminta agar istrinya diberikan infus karena kondisinya yang lemas. Namun, ia merasa jawaban dari pihak dokter justru menyinggung perasaannya.
"Saya minta diinfus karena istri lemas, kurang cairan. Dokternya malah tanya, 'infusan itu fungsinya untuk apa?. Saya bilang saya orang bodoh, kalau pintar saya sudah jadi dokter. Terus dia bilang, 'kalau Bapak pengen tahu, infusan itu dibikinnya dari garam sama air'," tutur Embad menirukan ucapan dokter tersebut.
Karena merasa tidak mendapat penanganan sesuai harapan, Embad akhirnya memutuskan membawa istrinya ke Puskesmas. Di sana, sang istri langsung mendapatkan perawatan dan diinfus.
"Di Puskesmas langsung ditangani, diinfus, dikasih obat. Alhamdulillah sekarang sudah bisa jalan," tambahnya.
Penjelasan RSUD Palabuhanratu
Menanggapi hal tersebut, pihak RSUD Palabuhanratu memberikan klarifikasi. Kepala Seksi Pelayanan Medis RSUD Palabuhanratu, dr. Rizky Tanzil, menjelaskan bahwa pasien tersebut datang dengan keluhan nyeri kepala yang sudah dirasakan selama satu minggu secara hilang timbul.
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik oleh dokter jaga, kondisi pasien saat itu dinilai stabil dan tidak masuk kategori gawat darurat.
"Hasil pemeriksaan fisik tidak didapatkan tanda-tanda kegawatdaruratan. Kesadaran sadar penuh, tensi normal, nadi bagus, dan kekuatan otot juga kuat. Jadi tidak ada indikasi untuk rawat inap," jelas dr. Rizky saat ditemui di ruangannya.
Rizky menambahkan, dokter jaga telah menyarankan agar pasien melakukan rawat jalan ke poliklinik spesialis saraf. Ia juga menyebut adanya mispersepsi antara keluarga pasien dan pihak rumah sakit terkait prosedur perawatan.
"Keluarga tetap ingin dirawat, tapi secara medis tidak ada indikasi. Kami sebenarnya sudah menyarankan kalau mau diobservasi silakan mendaftar dulu, tapi mungkin keluarga sudah keburu kecewa karena tidak sesuai harapan," ungkapnya.
Terkait ucapan dokter mengenai kandungan infus, Rizky menilai hal tersebut merupakan bagian dari edukasi medis agar keluarga memahami bahwa tindakan medis seperti infus harus dilakukan berdasarkan indikasi yang tepat.
"Rumah sakit tidak pernah menolak pasien. Kita edukasi sesuai indikasi medis. Kalau tidak perlu dirawat tentu tidak akan kita rawat, kasihan juga kalau harus diinfus tanpa indikasi yang jelas," pungkasnya.
(sya/yum)
