Aksi anarkistis yang tergolong brutal menimpa sebuah rumah produksi pakaian olahraga di Desa Gunajaya, Kecamatan Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya, Senin (4/5/2026) malam.
Serangan berupa penyiraman air keras atau cairan kimia berbahaya ini menyebabkan sedikitnya 9 pegawai mengalami luka-luka.
Kronologi kejadian mengerikan ini berawal sekitar pukul 19.00 WIB, ketika seorang pria datang ke tempat produksi konfeksi ini. Pria yang belakangan diketahui berinisial D ini sekonyong-konyong datang dengan amarah yang meledak-ledak. Dia datang dengan kata makian dan sumpah serapah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang membuat heran, dia datang dengan pakaian yang tak lazim. Dia mengenakan helm dan jas hujan, padahal cuaca tak hujan.
Rupanya pakaian itu menjadi APD alias alat pelindung diri atas aksi gila yang akan dilakukannya. Dia sudah menenteng 2 botol cairan kimia berbahaya.
Setelah memasuki area konfeksi, pria ini langsung melakukan aksi biadabnya. Dia menyiramkan cairan di botol itu kepada siapa saja yang ditemuinya.
Para pegawai yang tak menyangka, bahkan sebagian tak mengenal sosok pria ini. Mereka hanya bisa terdiam tanpa sempat menghindar.
Jerit kesakitan langsung memecah ketenangan tempat kerja puluhan pegawai tersebut. Sedikitnya ada 9 pegawai yang terkena cipratan cairan berbahaya itu.
Korban penyiraman air keras saat dirawat di RSUD dr Soekardjo Tasikmalaya. (Faizal Amiruddin/detikJabar) |
Ruangan pabrik yang cukup luas tersebut sampai pekat oleh asap efek reaksi kimia cairan korosif atau bersifat merusak itu.
"Tiba-tiba banyak yang menjerit. Pas saya lihat ruangan juga sampai berasap pekat, mungkin dari cairan air keras itu," kata Angga, pegawai bagian umum. Angga saat itu berada di dapur dan sempat melongok ke ruang produksi, sehingga sempat menyaksikan asap pekat menghalangi pandangannya.
Bak kesetanan, pelaku menyiramkan cairan itu kepada siapa saja yang ditemuinya di ruangan itu.
Salah satunya menimpa Wina (21), pegawai bagian administrasi, yang tersiram di bagian wajah dan badan. Perempuan muda ini harus mendapatkan perawatan intensif di RSUD dr Soekardjo Tasikmalaya akibat kulitnya melepuh dan menghitam.
"Saya lagi entry data, saya kan admin produksi. Memang pulang kerja jam 5 sore, tapi setelah Magrib saya masih kerja, ya nyicil kerjaan supaya besok pagi nggak terlalu sibuk," kata Wina.
Saat kejadian, dia mengaku tak mengira sama sekali akan mendapatkan serangan itu. Dia sedang tekun di depan komputer, fokus pada pekerjaannya. "Pokoknya si pelaku nyamperin langsung menyiramkan air keras, botolnya putih," kata Wina.
Setelah itu dia merasakan perih yang sangat di beberapa bagian tubuhnya. Pakaian yang dikenakannya pun seperti terbakar.
Hal serupa menimpa Abdul Holik alias Marcus, pegawai bagian umum atau helper.
"Si pelaku datang sudah langsung teriak-teriak, dia pakai helm, pakai jas hujan. Sudah bawa botol warna putih," kata Abdul Holik.
Marcus menyebut pelaku langsung menyerang secara acak kepada setiap orang yang ditemuinya. "Saya kena di bagian punggung dan sedikit ke wajah," kata Marcus.
Kekalutan langsung terjadi di rumah produksi itu. Jerit kesakitan, kepanikan pegawai yang berusaha menghindar hingga teriakan pelaku yang mengumbar amarah berpadu menciptakan kengerian.
Para korban berlarian sambil menjerit dan berusaha mencari air untuk membilas cairan berdaya rusak itu. Saking tak kuat menahan sakit dan ingin membilas perih, sebagian korban ada yang sampai terjun ke selokan dan sawah.
"Semua berebut keran air, akhirnya saya buka pintu belakang, mereka merendam lukanya di selokan. Direndam air selokan," kata Angga.
Setelah cairan kimia yang dibawa pelaku habis, situasi mulai berbalik. Pegawai yang semula ketakutan, berbalik menyerang pelaku. Mereka kemudian bahu membahu meringkus pelaku. Pada akhirnya pelaku berhasil diringkus oleh para pegawai dan dibantu warga sekitar. Tak lama polisi datang dan mengamankan situasi.
Namun aksi brutal itu menimbulkan kengerian yang mendalam. Betapa tidak, selain membuat 9 korban terluka serius, ceceran cairan itu juga membuat banyak pakaian dan kain di konfeksi itu rusak.
"Kain dan baju-baju yang numpuk di konfeksi banyak yang bolong dan mengkerut akibat terkena cairan itu. Nggak kebayang sakitnya ketika terkena kulit," kata saksi lainnya.
(yum/yum)

