Pemandangan yang jarang ditemui tampak di salah satu ruas jalan tol di India. Di tengah jalur yang telah beroperasi, berdiri sebuah rumah yang terlihat seolah menghalangi akses jalan.
Bangunan tersebut dikenal sebagai Rumah Swabhiman, milik Dr. Veersen Saroha. Ia adalah warga yang memilih bertahan dan menolak meninggalkan lahannya. Sikap itu sudah muncul sejak 1998, saat Dewan Perumahan Uttar Pradesh merancang pembangunan kawasan permukiman di atas tanah miliknya, jauh sebelum proyek jalan tol direncanakan.
Berdasarkan citra satelit tahun 2010, kawasan tersebut masih didominasi lahan pertanian. Petak-petak sawah dan kebun membentang luas tanpa intervensi infrastruktur besar. Namun, dalam citra 2025, lanskap berubah drastis. Jalan tol membelah kawasan secara tegas, mengubah wajah agraris menjadi koridor transportasi modern.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Program Perumahan Mandola kala itu mencakup enam desa dengan total kebutuhan lahan sekitar 2.614 hektare. Sekitar 1.000 petani dan pemilik rumah terdampak, termasuk Veersen yang lahannya masuk dalam daftar pembebasan.
Namun, Veersen menolak karena menilai nilai kompensasi yang ditawarkan terlalu rendah, yakni sekitar Rp209 ribu per meter persegi. Di sisi lain, sekitar 94 persen warga terdampak telah menerima ganti rugi tersebut.
Pada 2007, Veersen membawa persoalan ini ke Pengadilan Tinggi Allahabad dengan tuntutan kenaikan nilai kompensasi. Proses hukum berlangsung panjang. Di tengah belum adanya putusan final, Dewan Perumahan Uttar Pradesh tetap melanjutkan penetapan batas lahan.
Mengutip The Indian Express, Veersen meninggal dunia sebelum perkara tersebut selesai. Kepemilikan tanah kemudian beralih kepada cucunya, Lakshyaveer Saroha.
Beberapa tahun berselang, Otoritas Jalan Raya Nasional India (NHAI) mengumumkan proyek jalan tol yang menghubungkan Akshardham di Delhi hingga Dehradun di Uttarakhand pada 2020, dengan panjang mencapai 212 kilometer. Jalur tersebut melintasi lahan milik keluarga Saroha.
Proyek ini terdiri dari dua segmen, yakni Akshardham hingga perbatasan Uttar Pradesh di Loni sepanjang 14,7 kilometer dan ruas 16 kilometer dari Loni ke Khekra di Eastern Peripheral Expressway. Kedua segmen tersebut telah rampung, kecuali sekitar 1.600 meter persegi lahan yang menjadi lokasi rumah Veersen karena masih berstatus sengketa.
Jalan tol ini kemudian diresmikan pada Selasa, 14 April 2026, oleh Perdana Menteri India Narendra Modi. Lahan yang sebelumnya berada di bawah kewenangan Dewan Perumahan diserahkan kepada NHAI.
Lakshyaveer Saroha selaku ahli waris menggugat NHAI ke Mahkamah Agung dengan alasan tanah tersebut bukan milik negara. Perkara itu kini telah dilimpahkan ke Pengadilan Tinggi cabang Lucknow. Mahkamah Agung juga meminta agar sengketa ini segera diselesaikan demi kelancaran operasional jalan tol tanpa menimbulkan risiko.
Pembangunan Jalan Tol Delhi-Dehradun sendiri bertujuan memangkas waktu tempuh dari sekitar enam jam menjadi hanya 2 hingga 2,5 jam. Proyek ini diperkirakan menelan biaya Rp22-25 triliun, dengan enam lajur jalan berakses terbatas dan batas kecepatan hingga 100 km/jam. Koridor ini juga dilengkapi 14 fasilitas pendukung, jembatan, persimpangan, serta jalur layang kereta api.
Penampakan rumah di India yang menutupi jalan tol Foto: via News 24 Online |
Menurut laporan The Indian Express, rumah tersebut kini tidak ditempati oleh pemiliknya. Jaipal Singh (46), yang bertugas sebagai penjaga, menyebut pemilik tinggal di Noida.
Ia mengaku pekerjaannya tidak ringan, mulai dari menjaga rumah dari gangguan hewan, orang yang mencoba masuk, hingga menghadapi kebisingan kendaraan yang melintas dengan kecepatan tinggi di jalan tol.
Hingga kini, rumah tersebut masih berdiri dengan kondisi seperti bangunan era 1990-an. Jaipal menjelaskan rumah itu memiliki dua lantai dengan luas hampir 1.600 meter persegi, berlokasi di Mandola dekat Loni, Ghaziabad.
Bangunan tersebut kini diapit jalan tol di bagian depan dan belakang. Sisi kanannya dipenuhi pepohonan tinggi dan rimbun, sementara sisi kiri berupa lahan kosong yang tampak seperti bekas galian.

