Iran Disebut Kolaps, Trump Soroti Kebuntuan Negosiasi

Kabar Internasional

Iran Disebut Kolaps, Trump Soroti Kebuntuan Negosiasi

Rita Uli Hutapea - detikJabar
Rabu, 29 Apr 2026 15:30 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan resmi di Gedung Putih menyusul insiden penembakan yang terjadi saat makan malam tahunan White House Correspondents Association (WHCA), Sabtu (25/4/2026). REUTERS/Jonathan Ernst
Donald Trump. Foto: REUTERS/Jonathan Ernst
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran telah menyampaikan kondisi internal negaranya yang disebut berada dalam keadaan kolaps. Pernyataan itu muncul di tengah kebuntuan upaya penyelesaian konflik yang sedang berlangsung.

Mengutip laporan Reuters dan Al Arabiya English, Rabu (29/4/2026), Trump menyampaikan hal tersebut melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Selasa (28/4) waktu setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Iran baru saja memberi tahu kami bahwa mereka berada dalam 'Keadaan Kolaps'. Mereka ingin kami 'Membuka Selat Hormuz' sesegera mungkin, karena mereka mencoba mencari solusi untuk situasi kepemimpinan mereka (yang saya yakini akan dapat mereka lakukan). Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!," tulis Trump.

Namun, hingga kini belum ada kejelasan mengenai cara Iran menyampaikan pesan tersebut kepada pihak Amerika Serikat.

ADVERTISEMENT

Pernyataan Trump disampaikan saat upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik mengalami kebuntuan. Presiden AS itu dilaporkan tidak puas terhadap proposal terbaru dari Teheran.

Iran mengajukan usulan penyelesaian konflik dengan menunda pembahasan program nuklir hingga perang berakhir serta sengketa pengiriman barang dari kawasan Teluk terselesaikan. Sementara itu, Trump menginginkan isu nuklir dibahas sejak awal proses negosiasi, sebagaimana disampaikan seorang pejabat AS yang mengetahui pertemuan Trump dengan para penasihatnya pada Senin (27/4).

Sebagai catatan, kesepakatan nuklir Iran dengan Amerika Serikat dan sejumlah negara lain pada 2015 sebelumnya membatasi secara ketat program nuklir Teheran, yang diklaim untuk tujuan damai. Namun, kesepakatan tersebut berakhir setelah Trump menarik diri secara sepihak pada masa jabatan pertamanya.

Di sisi lain, pemerintah Iran menegaskan perlunya jaminan keamanan sebelum memastikan stabilitas kawasan Teluk. Mengutip laporan AFP, Selasa (28/4/2026), pernyataan itu disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani.

Dalam sidang Dewan Keamanan PBB yang digagas oleh Bahrain pada Senin (27/4), sejumlah negara mengecam langkah Iran yang mengambil alih kendali atas Selat Hormuz, jalur strategis distribusi minyak dunia.

Menanggapi hal itu, Iravani menegaskan bahwa stabilitas kawasan hanya dapat terwujud jika agresi terhadap Iran dihentikan dan disertai jaminan keamanan yang jelas.

"Stabilitas dan keamanan yang langgeng di Teluk Persia dan kawasan yang lebih luas hanya dapat dicapai melalui penghentian agresi yang berkelanjutan dan permanen terhadap Iran yang dilengkapi dengan jaminan yang kredibel untuk tidak terulangnya serangan dan penghormatan penuh terhadap hak dan kepentingan kedaulatan Iran yang sah," tegas Iravani di hadapan Dewan Keamanan PBB.

Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkappnya di sini.

(ita/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads