Jepang benar-benar sedang dipusingkan oleh krisis pernikahan dan merosotnya angka kelahiran. Berbagai cara ekstrem pun ditempuh, termasuk di Prefektur Kochi. Tak tanggung-tanggung, pemerintah setempat kini menawarkan insentif uang tunai demi mendorong para lajang muda berburu jodoh lewat aplikasi kencan.
Para penduduk berusia 20 hingga 39 tahun di wilayah tersebut berkesempatan menerima subsidi hingga 20.000 Yen atau sekitar Rp 2,1 jutaan. Dana segar ini dialokasikan untuk menutupi biaya langganan aplikasi pencari jodoh yang telah disetujui pemerintah, termasuk platform populer seperti Tapple.
Pejabat setempat menjelaskan bahwa nilai subsidi tersebut dirancang untuk menutupi hampir seluruh biaya keanggotaan tahunan di situs kencan. Tak sekadar memberi uang, para pengguna nantinya akan disurvei untuk mengukur sejauh mana efektivitas skema ini dalam mempertemukan pasangan. Diketahui, Prefektur Kochi telah menjalin kerja sama dengan Tapple sejak Desember lalu demi menjamin ekosistem kencan online yang lebih aman dan terpercaya.
"Harga rata-rata untuk biaya keanggotaan tahunan sedikit di atas 20.000 yen, jadi kami menetapkan jumlah tersebut untuk menutupi sebagian besar biayanya," kata seorang pejabat, dikutip detikINET dari Independent.
Langkah Kochi ternyata bukan satu-satunya. Wilayah lain seperti Prefektur Miyazaki juga mencoba memberikan dukungan serupa, meski dengan nominal yang lebih kecil yakni sekitar 10.000 yen.
Meski terlihat inovatif, reaksi netizen di dunia maya rupanya terbelah. Sebagian menyambut baik bantuan finansial tersebut, namun tak sedikit yang melontarkan kritik pedas. Banyak yang berpendapat bahwa masalah intinya jauh lebih mendasar, mulai dari tekanan finansial yang mencekik, jam kerja yang kelewat panjang, hingga tingginya biaya membesarkan anak yang membuat urusan asmara dan pernikahan terasa seperti beban berat.
Artikel ini sudah tayang di detikInet, baca selengkapnya di sini.
Simak Video "Aplikasi Kencan Populer di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
