Kecelakaan maut yang melibatkan kereta Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam, menyisakan duka mendalam. Sebanyak 14 orang dilaporkan meninggal dunia dalam insiden tersebut.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berencana meninjau langsung lokasi kejadian guna memantau kondisi terkini sekaligus menjamin penanganan korban berjalan maksimal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah ini saya jam 12 akan ke Bekasi. Saya tadi sudah menyampaikan duka, kemudian menyampaikan santunan, dan ke depan harus terjadi percepatan pembangunan flyover," ujar Dedi saat diwawancarai di Gedung Pakuan, Bandung, Selasa (28/4/2026).
Menurutnya, rencana pembangunan flyover di kawasan tersebut telah masuk dalam perencanaan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Namun, prosesnya masih dalam tahap revisi Detail Engineering Design (DED). Pascatragedi ini, percepatan pembangunan menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda.
"Sebenarnya kan rencananya sudah ada di provinsi, sedang revisi dari DED-nya. Ya kita percepat saja, mudah-mudahan bisa tahun ini kita dorong untuk segera teralokasikan dengan baik," ujarnya.
"Alokasi awalnya kan sudah teralokasikan. Nah, alokasi awalnya segera dilelang, berikutnya disusul alokasi berikutnya di (anggaran) perubahan," jelasnya.
Selain akselerasi infrastruktur, Dedi menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam penanganan korban. Ia menjamin santunan diberikan kepada seluruh korban meninggal dunia tanpa memandang asal daerah, selama insiden terjadi di wilayah Jawa Barat.
"Kita memberikan santunan bagi yang meninggal itu Rp50 juta, warga mana pun. Karena itu terjadinya locus-nya di Jawa Barat. Kemudian yang di rumah sakit saya sudah ngomong ke Wali Kota, sudah biar rumah sakitnya kita tanggung bersama," tegasnya.
(bba/orb)
