Zaini Shofari Kritik Pemindahan Laga dan Tanpa Penonton

Zaini Shofari Kritik Pemindahan Laga dan Tanpa Penonton

Bima Bagaskara - detikJabar
Jumat, 24 Apr 2026 10:19 WIB
Zaini Shofari, Ketua Fraksi PPP DPRD Jabar.
Foto: Istimewa
Bandung -

Keputusan menggelar pertandingan tanpa penonton hingga pemindahan lokasi laga masih mewarnai jalannya Super League 2025/26. Di tengah kompetisi yang memasuki fase krusial, langkah-langkah tersebut dinilai tidak boleh diambil secara gegabah, terutama karena berpotensi menggerus esensi sepak bola sebagai hiburan publik.

Anggota DPRD Jawa Barat sekaligus Bobotoh, Zaini Shofari, menegaskan bahwa atmosfer sepak bola tidak bisa dipisahkan dari kehadiran suporter di stadion. Ia mengingatkan agar keputusan seperti laga tanpa penonton atau pemindahan lokasi pertandingan benar-benar dipertimbangkan secara matang.

"Jangan gampang vonis tim bertanding tanpa penonton atau pindah lokasi," tegas Zaini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, aparat keamanan sejatinya memiliki kapasitas mumpuni untuk mengawal jalannya pertandingan dengan baik. Koordinasi lintas sektoral, termasuk kepolisian dan penyelenggara kompetisi, dinilai mampu menjaga kondusivitas tanpa harus mengorbankan kehadiran penonton di tribun.

"Saya yakin dan optimis pihak keamanan, dalam hal ini kepolisian, mampu padu dalam melakukan koordinasi. Sehingga sepak bola Indonesia tetap dipandang bagian dari olahraga yang benar-benar populis dan populer," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Zaini menyoroti sejumlah insiden yang belakangan terjadi, mulai dari pemindahan laga PSIM melawan Persija dari Yogyakarta ke Bali, hingga pertandingan Dewa United kontra Persib di Banten yang digelar tanpa penonton. Situasi tersebut sangat disayangkan karena terjadi saat kompetisi memasuki titik paling menentukan.

"Betul, pihak keamanan dalam hal ini kepolisian memiliki penanganan terpadu dalam menjaga kondusifitas keamanan di lingkungan masyarakat termasuk juga PSSI. Tetapi dengan sisa waktu pertandingan yang enam laga lagi, tentu ini merupakan masa-masa krusial dalam kompetisi yang kompetitif," katanya.

Ia menilai setiap pertandingan di fase akhir musim memiliki bobot layaknya partai final, baik bagi tim yang tengah berburu gelar juara maupun mereka yang sedang berjuang menghindari jurang degradasi. Karena itu, atmosfer pertandingan harus tetap dijaga demi menghindari prasangka negatif di tengah publik.

"Laga setiap pertandingan bisa jadi seperti final. Final untuk merebut juara atau final terhindar degradasi. Agar atmosfer sepak bola berjalan dengan adanya, tetap terjaga, harus diminimalisir kecurigaan yang ada. Meskipun betul itu adalah bagian dari proses menuju keamanan agar semua masyarakat nyaman," jelasnya.

Zaini juga mengingatkan bahwa pengalaman sukses dalam mengelola laga berisiko tinggi sebenarnya sudah pernah terbukti. Ia mencontohkan laga panas antara Persib Bandung kontra Persija Jakarta di Stadion GBLA yang tetap berjalan kondusif berkat koordinasi matang antara aparat dan pemerintah daerah.

"Yang perlu diingat, saat pertandingan di Bulan Januari lalu, Persib menjamu Persija di GBLA, jalanan begitu lancar dan kondusif. Masuk stadion juga begitu bagus, jalanan juga tidak ada konvoi, karena di Bandung seluruh kecamatan digalakkan dan digalang untuk menonton bersama, termasuk di Kabupaten dan kota yang ada di Jabar," ungkapnya.

Menurutnya, kunci utama dari keberhasilan penyelenggaraan tersebut adalah komunikasi dan kolaborasi yang kuat antar pemangku kepentingan.

"Aparat keamanan berkoordinasi dengan bupati dan walikota dengan intensif, sehingga benar-benar pertandingan Persib lawan Persija yang biasanya panas bukan hanya di dalam lapangan tapi di luar juga, benar-benar tertangani dengan baik," tambahnya.

Di sisa kompetisi yang tinggal menyisakan enam pertandingan, Zaini berharap seluruh laga dapat digelar secara normal tanpa intervensi yang berlebihan. Ia menekankan bahwa sepak bola harus tetap berdiri di atas kepentingan publik dengan menjunjung tinggi sportivitas serta keterbukaan.

"Saya harapkan ke depan. dengan sisa enam pertandingan, berjalan semua adanya. Termasuk nanti, Persib dijamu Persija di Gelora Bung Karno, Jakarta atau di kota-kota lainnya," katanya.

"Sepak bola harus berdiri di atas kepentingan masyarakat dan termasuk dijunjung fair play di setiap pertandingan yang melibatkan penonton, suporter, dan pihak-pihak terkait," pungkasnya.




(bba/tya)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads