Hewan Ini Punya Kepala Serigala, Tubuh Harimau dan Kantong Kangguru

Kabar Sains

Hewan Ini Punya Kepala Serigala, Tubuh Harimau dan Kantong Kangguru

Aisyah Kamaliah - detikJabar
Jumat, 24 Apr 2026 14:00 WIB
Thylacine atau Harimau Tasmania dikatakan punah pada 1936. Sangat disayangkan apalagi hewan ini memiliki karakteristik unik. Bentuk kepalanya mirip serigala, badannya bergaris layaknya harimau, dan punya kantong seperti kanguru, yang pasti dia termasuk golongan hewan marsupial.
Thylacine atau Harimau Tasmania dikatakan punah pada 1936. Sangat disayangkan apalagi hewan ini memiliki karakteristik unik. (Foto: Harry Burrell)
Bandung -

Thylacine atau yang dikenal sebagai Harimau Tasmania dinyatakan punah pada tahun 1936. Kepunahannya menjadi kehilangan besar karena hewan ini memiliki ciri yang tidak biasa: kepala menyerupai serigala, tubuh bergaris seperti harimau, serta memiliki kantong layaknya kanguru, menandakannya sebagai hewan marsupial.

Pada masa lalu, spesies ini tersebar luas di Australia hingga Papua Nugini. Namun, mereka menghilang dari daratan utama sekitar 3.600 hingga 3.200 tahun silam. Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi salah satu dugaan menyebutkan bahwa mereka kalah bersaing dengan Dingo yang datang kemudian.

Populasi yang tersisa bertahan di Pulau Tasmania, memungkinkan mereka hidup lebih lama selama ribuan tahun. Namun, situasi berubah ketika kolonisasi Eropa dimulai. Aktivitas pertanian dan perburuan secara intensif membuat tekanan terhadap spesies ini semakin besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para petani menganggap thylacine sebagai ancaman bagi ternak mereka. Pada 1880-an, hewan ini bahkan menjadi target perburuan massal yang didukung pemerintah.

Meski menghadapi berbagai tekanan tersebut, thylacine diyakini masih bertahan di alam liar hingga sekitar 1930-an. Beberapa analisis berbasis pemodelan komputer dan laporan penampakan setelahnya menunjukkan kemungkinan bahwa kepunahannya terjadi lebih lambat, yakni antara 1940-an hingga 1970-an. Bahkan, ada dugaan bahwa sebagian kecil populasi mungkin masih bertahan hingga akhir abad ke-20 di wilayah terpencil Tasmania.

ADVERTISEMENT

Thylacine terakhir di dunia?

Kisah yang paling banyak dipercaya orang adalah thylacine terakhir (Thylacinus cynocephalus) mati di Kebun Binatang Beaumaris di Hobart pada tanggal 7 September 1936, hanya dua bulan setelah spesies tersebut diberi status dilindungi.

Sering dikatakan bahwa thylacine terakhir ini bernama Benjamin. Namun, para ahli thylacine kemudian mereka tak setuju dengan klaim ini. Menurut ahli, pemikiran tersebut muncul pada tahun 1960-an oleh seorang pria bernama Frank Darby yang secara palsu mengaku sebagai kurator di Kebun Binatang Hobart selama tahun 1930-an.

Malahan, kini para ahli justru percaya bahwa Benjamin mungkin adalah seekor betina.

"Itu adalah seekor betina, dan tentu saja namanya bukan Benjamin. Itu adalah mitos yang disayangkan (yang diciptakan oleh) seorang pembohong kelas kakap," kata Robert Paddle, seorang peneliti dan penulis buku The Last Tasmanian Tiger: The History and Extinction of the Thylacine, pada tahun 2022, menurut Australian Broadcasting Corporation.

Darby juga menyebarkan cerita-cerita yang menarik kepada media tentang Benjamin yang diberi hewan hidup untuk dibunuh demi hiburan para pengunjung kebun binatang. Hal ini, bersama dengan banyak hal lain yang dikaitkan dengan Darby, seharusnya dihapus sepenuhnya dari catatan, berdasarkan argumen Paddle.

"Apa yang dia katakan itu tragis, sudah saatnya untuk menghapusnya dari literatur," katanya.

Paddle adalah bagian dari kelompok yang berhasil mengidentifikasi kerangka thylacine terakhir. Awalnya diperkirakan tubuhnya telah dibuang, tetapi mereka menemukan sisa-sisa tersebut dalam sebuah kotak tanpa label di Tasmanian Museum and Art Gallery.

Menariknya, ada sejumlah orang yang menolak untuk melupakan thylacine. Bahkan ada kelompok semi-terorganisir yang terdiri dari para penggemar fanatik yang yakin bahwa hewan tersebut masih berkeliaran di hutan belantara Tasmania. Mereka secara teratur membagikan jejak kaki, jejak kotoran, dan rekaman video buram sebagai bukti keberadaannya yang berkelanjutan. Kendati demikian, sebagian besar ilmuwan tidak serius mempertimbangkan gagasan tersebut.

Artikel ini telah tayang di detikINET. Baca selengkapnya.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads