Harapan warga Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi untuk kembali memiliki akses jalan yang layak mulai menemui titik terang.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Sukabumi, Uus Pirdaus, memastikan perbaikan Jembatan Linggamanik yang putus total menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
Sebelumnya, jembatan yang menghubungkan Kecamatan Jampangtengah dan Purabaya ini ambruk setelah diterjang banjir bandang luapan Sungai Cikurutug pada Minggu (19/4) dini hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Putusnya jembatan sepanjang 12 meter ini sempat viral karena memaksa warga, termasuk anak-anak sekolah, terpaksa melintasi jembatan dengan menggunakan tangga bambu seadanya.
Kepada detikJabar Uus Pirdaus mengaku sudah turun langsung meninjau kerusakan di ruas jalan Bojongjengkol - Miramontana tersebut.
Ia menegaskan bahwa infrastruktur ini sangat vital bagi mobilitas warga dan distribusi pertanian.
"Ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Kami pastikan prosesnya dipercepat karena jalur ini merupakan akses penting bagi masyarakat dan menjadi kewenangan kabupaten untuk segera ditangani," ujar Uus, Kamis (23/4/2026).
Uus menjelaskan, jembatan tersebut tidak lagi bisa diperbaiki secara parsial melainkan harus dibangun ulang. Pemkab Sukabumi akan menggunakan skema anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk mempercepat prosesnya.
"Langkah percepatan dimulai dari perencanaan yang ditargetkan rampung dalam sepekan. Jika semua lancar, dalam 2 sampai 2,5 bulan jembatan ini sudah bisa kembali dimanfaatkan masyarakat," jelasnya.
Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pihak PU dan otoritas setempat meminta warga untuk tidak lagi nekat memanjat tangga di titik jembatan yang putus.
Untuk sementara, kendaraan roda empat dialihkan melalui jalur Penumbangan atau Bojonglopang. Sedangkan bagi pejalan kaki, diarahkan menggunakan jembatan gantung yang berada sekitar 100 meter di sebelah hilir lokasi kejadian.
"Kami imbau warga meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi yang membawa anak-anak. Gunakan jalur alternatif yang sudah disediakan sambil menunggu proses pembangunan fisik dimulai," pungkas Uus.
Kondisi jembatan ini memang sangat memprihatinkan sejak empat hari lalu. Ketiadaan jembatan darurat yang memadai di titik utama memaksa warga menyandarkan tangga bambu pada dinding tanah yang curam hanya untuk bisa menyeberang.
"Takut jatuh, tapi mau bagaimana lagi, ini akses paling dekat," ungkap Eting (33), salah seorang warga yang setiap hari harus mengantar anaknya sekolah melewati jalur berbahaya tersebut.
Rasa trauma juga menghantui para pelajar, salah satunya Salwa, siswi kelas 2 SD Tipar. Ia yang biasanya berani berangkat sekolah sendiri, kini harus selalu digandeng orang tuanya. "Takut jatuh ke sungai," tutur Salwa singkat.
(sya/yum)
