Wali Kota Bandung Muhammad Farhan berencana untuk mengubah desain trotoar di wilayahnya. Rencana ini diungkapkan supaya mencegah terjadinya fenomena parkir liar di tempat yang semestinya diperuntukkan bagi pejalan kaki.
Kepada wartawan, Farhan mengaku sepakat dengan ide Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk mengubah desain trotoar. Nantinya, ia mau tinggi trotoar dinaikkan demi mencegah dipakai parkir kendaraan.
"Kalau desain trotoar itu saya sepakat dengan Pak Dedi Mulyadi agar ditinggikan dan memang aksesnya dipersulit. Tapi tujuannya agar tidak dijadikan parkir motor maupun parkir mobil. Dan apabila ada PKL pun, mohon maaf, ini jadi agak dipersulit," katanya, Selasa (21/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalahnya, Farhan mengaku belum mendiskusikan hal itu dengan para komunitas difabel. Namun ia mencontohkan, trotoar yang Farhan inginkan bisa seperti di kawasan Taman Lalu Lintas Bandung.
"Masalahnya cuma satu, saya belum konsultasi dengan teman-teman di komunitas disabilitas. Karena walaupun jarang dipakai, tapi tetap harus aksesibel. Nah, kalau teman-teman mau lihat kira-kira seperti apa sih trotoar impian seorang Farhan, Taman Lalu Lintas," ungkapnya.
Di Taman Lalu Lintas, trotoar kata Farhan tak hanya bisa dinikmati bagi pejalan kaki. Trotoar di sana juga bisa digunakan untuk keperluar olahraga warga Kota Bandung karena dibangun menggunakan aspal jalan.
"Bisa pakai olahraga, jauh dari parkir. Dan saya baru pasangin lampu, jadi malam-malam bisa jalan-jalan. Kalau dengan aspal sih lebih murah yah, tapi memang tidak seindah kalau menggunakan bahan lain," ungkapnya.
Farhan mengaku, selama ini, trotoar di Kota Bandung kerap digunakan untuk parkir kendaraan. Ia bahkan menyebut secara langsung trotoar di Jalan Ir H Juanda atau Jalan Dago hingga di Jalan LLRE Martadinata atau Jalan Riau yang malah disalahgunakan.
"Pelanggar masih sembarangan, di Dago, di Jalan Riau itu parah, para pemilik restoran mempersilahkan pengunjungnya parkir di trotoar. Jadi untuk PKL juga akan kita atur supaya PKL mau berkesepakatan dalam menentukan jam dagang dan tidak boleh semi permanen, komo permanen. Ini untuk menaikkan ke 50 cm. Karena gini, kan trotoar di Kota Bandung kemarin sangat mengedepankan estetikanya, halus, sehingga batas antara persil dengan trotoar tidak kelihatan. Eh malah dijadikan tempat parkir," pungkasnya.
Simak Video "Video: Sosialisasi Penerapan Parkir Digital di Surabaya Berujung Ricuh"
[Gambas:Video 20detik] (ral/mso)
