Bau Menusuk Hidung di Tengah 'Gunungan' Sampah Jalan Makam Caringin

Bau Menusuk Hidung di Tengah 'Gunungan' Sampah Jalan Makam Caringin

Bima Bagaskara - detikJabar
Selasa, 21 Apr 2026 11:35 WIB
Tumpukan sampah di Jalan Makam Caringin, Bandung
Tumpukan sampah di Jalan Makam Caringin, Bandung (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar).
Bandung -

Persoalan sampah di Kota Bandung seolah tak pernah benar-benar selesai. Di Jalan Makam Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, tumpukan sampah bukan lagi sekadar pemandangan kumuh, melainkan sudah menjadi penghalang aktivitas warga.

Pantauan detikJabar, Selasa (21/4/2026) pagi, sampah menggunung hingga menutup hampir setengah badan jalan sepanjang kurang lebih 100 meter.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Plastik, sisa makanan, hingga limbah rumah tangga bercampur menjadi satu. Aroma tak sedap pun menyeruak kuat dari lokasi. Bau busuk menyengat hidung, terutama saat siang hari, memperparah ketidaknyamanan bagi siapa pun yang melintas.

Sampah bahkan meluber dan menutup separoh aspal jalan. Kondisi memaksa kendaraan melintas secara bergantian. Warga pun tak tinggal diam, secara sukarela, mereka turun tangan mengatur lalu lintas agar kendaraan tetap bisa lewat.

ADVERTISEMENT

Dudung, pengelola TPS Makam Caringin, mengungkapkan tumpukan sampah ini bukan persoalan baru. Kondisinya sudah terjadi sejak sebelum Ramadan dan terus berulang hingga sekarang.

"Dari sebelum puasa ada tumpukan. Mau Lebaran tumpukannya makin banyak. Setelah itu diambil dulu terus habis, terus ada tumpukan lagi. Saya akalin, tapi numpuk lagi," ujarnya.

Menurut Dudung, persoalan utama ada pada pengangkutan yang tidak berjalan optimal. Mobil pengangkut sampah datang tidak rutin, bahkan sempat terhenti beberapa hari karena keterbatasan kuota.

"Mobilnya mentok lagi, kehabisan kuota. Habis kuota 4 hari, gak ada yang angkut. Sekarang mau diangkut, cuma semobil mobil saja," katanya.

Padahal, kapasitas maksimal TPS hanya sekitar 12 kubik (ton). Namun, volume sampah yang terus berdatangan jauh melampaui batas tersebut, hingga akhirnya meluber ke jalan.

"12 kubik kuotanya," ucap Dudung.

Kondisi ini diperparah dengan banyaknya warga dari luar wilayah yang ikut membuang sampah ke lokasi tersebut. Meski tidak diperbolehkan, praktik itu terus terjadi karena minimnya alternatif tempat pembuangan.

"Warga sini dan luar juga. Nggak dibolehkan, tapi kan masyarakat gimana. Ke mana buangnya," keluhnya.

Dengan keterbatasan yang ada, pihak pengelola hanya bisa menunggu armada dari Dinas Lingkungan Hidup untuk melakukan pengangkutan, meski itu pun tidak mampu mengatasi seluruh tumpukan.

"Iya nunggu dari dinas aja, ada mobil terus angkut. Ada mobil juga nggak bisa keangkut semua," katanya.

Dampak paling terasa dirasakan langsung oleh warga yang setiap hari harus melintasi jalan tersebut. Rudi, salah seorang warga, mengaku terganggu dengan kondisi ini, baik dari sisi bau maupun akses jalan.

"Iya mengganggu kalau lewat sini ya bau, ya ganggu juga pas lewat harus gantian kan soalnya jalannya kecil," ujarnya.

Ia berharap ada penanganan cepat dari pemerintah agar kondisi ini tidak terus dibiarkan berlarut-larut. "Ya harus segera dibersihkan, masa mau didiemin gini aja, segera dibersihkan harapannya," singkatnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: 'Revolusi Pengelolaan Sampah' ala Walkot Solo Respati Ardi"
[Gambas:Video 20detik] (bba/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads