Peristiwa memprihatinkan yang melibatkan sembilan siswa SMAN 1 Purwakarta memantik perhatian publik. Aksi mengejek hingga mengacungkan jari tengah kepada guru di dalam kelas dinilai bukan sekadar pelanggaran disiplin, melainkan cerminan krisis etika di kalangan pelajar.
Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Barat turut angkat suara. Manager Program LPA Jabar Diana Wati menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut, meskipun para siswa diketahui telah meminta maaf.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sangat prihatin dengan kejadian tersebut, meskipun saat ini anak-anak sudah meminta maaf pada guru tersebut, betapa pentingnya pendidikan terkait etika/adab disampaikan kepada anak-anak kita saat ini," ujar Diana, Senin (20/4/2026).
Menurutnya, persoalan etika tidak bisa hanya dibebankan kepada anak-anak semata. Orang dewasa, baik orang tua maupun guru, memiliki tanggung jawab besar sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.
"Dan bukan hanya disampaikan pada anak-anak, tetapi juga kita sebagai orang dewasa harus menjadi teladan terkait etika-etika tersebut," tegasnya.
Diana juga menyinggung kemungkinan adanya pengaruh penggunaan gawai terhadap perilaku anak. Namun ia menekankan, hal tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya alasan.
"Barangkali bisa jadi salah satu dampak dari penggunaan handphone namun kita sebagai pendidik pertama di rumah maupun sebagai pendidik di sekolah pasti punya cara dalam memberikan informasi etika/adab kepada anak-anak kita yang saat ini sedang mengalami krisis etika," jelasnya.
Ia mendorong agar pendidikan etika dimasukkan secara lebih serius dalam kurikulum pendidikan nasional, mulai dari jenjang paling dasar hingga menengah.
"Kami berharap kepada kementerian pendidikan untuk memasukan pembelajaran etika ini pada kurikulum di semua tingkatan sekolah dari mulai PAUD sampai SMA sehingga anak-anak kita memiliki karakter yang kuat bukan hanya pinter tapi juga cageur, bageur, pinter, singer dan bener," ungkapnya.
Di sisi lain, Diana mengingatkan bahwa perkembangan teknologi digital membawa dua sisi bagi anak-anak. Di satu sisi membuka akses luas terhadap informasi, namun di sisi lain juga menyimpan risiko terhadap pembentukan karakter.
"Di genggaman handphone anak-anak kita bisa melihat dunia, tapi di genggaman handphone anak-anak kita juga terjebak banyak hal dan dunia digital tidak mengajarkan adab etika yang baik," katanya.
Karena itu, ia mengajak semua pihak untuk lebih aktif dalam mendampingi anak-anak, termasuk membatasi penggunaan gawai dan memperkuat kedekatan emosional dalam keluarga.
"Mari kita batasi anak-anak kita dalam menggunakan handphone, waktunya kita berperan lebih banyak, dekat, dan menjadi contoh anak-anak kita agar mereka siap menghadapi masa depan," ujarnya.
Diana pun menutup dengan ajakan reflektif bagi semua pihak agar bersama-sama membentuk karakter generasi muda yang beretika dan berintegritas.
"Mari kita bersama mengajarkan anak-anak kita agar memahami terkait dengan adab/etika yg bisa membuat karakter anak-anak kita menjadi generasi emas di tahun 2045," pungkasnya.
(bba/sud)
