Di bawah langit panas Bundaran Adipura, Kelurahan Lemahabang, Kabupaten Indramayu, seorang pria tampak hilir-mudik di sela deru kendaraan. Namanya Tolib (45). Sejak pagi pukul 07.00 WIB hingga malam menjelang pukul 22.00 WIB, ia setia berdiri di lampu merah, menawarkan kerupuk kepada para pengendara yang berhenti.
"Kadang sampai lampu merahnya sudah tidak berfungsi, tinggal lampu kuning saja," katanya sambil tersenyum tipis, Kamis (16/4/2026) sore.
Di tangan kiri dan kanannya, Tolib menggenggam plastik berisi kerupuk. Sementara itu, dua karung besar berisi dagangan cadangan tersimpan di becak yang ia parkir di sebuah bangunan kosong pinggir jalan. Dari situlah, setiap hari ia menggantungkan harapan hidup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penghasilannya tak menentu. Saat sepi, ia hanya membawa pulang Rp25 ribu hingga Rp40 ribu. Namun jika sedang ramai, pendapatannya bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp150 ribu dalam sehari.
"Mulai jualan sekitar dua tahun lalu. Seringnya di lampu merah Bundaran Adipura, tapi kadang di lampu merah perempatan Waiki," tutur Tolib.
Sebelum berjualan kerupuk, hidupnya dihabiskan di laut. Ia pernah bekerja mencari ikan di Muara Angke, Jakarta, hingga di wilayah Karangsong, Indramayu sebagai anak buah kapal (ABK). Namun, keadaan membawanya beralih profesi menjadi pedagang kecil di jalanan.
"Pengen nyari uang di darat saja, yang dekat-dekat," katanya.
Kerupuk yang ia jual bukan hasil produksi pabrik besar. Sang ibu di rumah yang menggorengnya. Di rumah sederhana mereka di Kelurahan Paoman, kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia tak lagi bekerja. Kini, hasil jualan kerupuk Tolib menjadi satu-satunya sumber penghidupan bagi tiga orang dalam keluarganya.
Tak hanya menjajakan di lampu merah, Tolib juga menitipkan kerupuk ke warung-warung sekitar. Namun, penghasilan dari berbagai cara itu tetap saja pas-pasan.
Meski demikian, Tolib tidak banyak menuntut kepada Sang Pemberi Rezeki. Baginya, bisa makan setiap hari sudah lebih dari cukup.
"Ya, mau gimana lagi. Jualan kadang sepi, kadang ramai. Yang penting tiap hari saya bisa makan dari jualan kayak gini," ujarnya.
Di tengah kerasnya kehidupan jalanan, Tolib menjalani hari demi hari dengan ketabahan. Di antara lampu merah yang silih berganti menyala dan cuaca hujan-panas, ia terus berjalan menawarkan kerupuk sekaligus menjaga harapan agar esok masih ada rezeki untuk bertahan hidup.
(sud/sud)
