Langit di wilayah Sukalarang, Kabupaten Sukabumi, masih diselimuti mendung saat kabar duka itu menyebar, Kamis (16/4/2026) petang. Hujan deras yang mengguyur sejak sore hari memicu longsoran tanah dari tebing di belakang permukiman warga.
Dalam hitungan detik, material tanah setinggi sekitar delapan meter ambruk dan menimbun dua rumah di Kampung Griya Sukamaju, RT 01/RW 02, Desa Sukamaju, Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi.
Di balik reruntuhan itu, satu nyawa tak terselamatkan. Korban diketahui bernama Apni Novianti (29), seorang buruh di salah satu pabrik sepatu. Ia ditemukan dalam kondisi tertimbun material longsor di kamar mandi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi, Eki Radiana Rizki, mengaku telah menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga korban.
"Kami mengucapkan bela sungkawa dan keprihatinan yang sangat mendalam kepada suami dan keluarganya atas musibah ini. Semoga almarhumah diterima iman Islamnya dan husnul khotimah," ujarnya saat ditemui detikJabar di RSUD Syamsudin SH, Kota Sukabumi, Kamis (16/4/2026).
Kronologis Kejadian Longsor
Eki mengungkapkan, berdasarkan informasi sementara, korban seharusnya belum berada di rumah saat kejadian. Namun dalam dua hari terakhir, aktivitas produksi di tempat kerjanya menurun sehingga korban pulang lebih cepat.
"Informasi awal, korban biasanya pada jam segitu belum pulang. Tapi dari perusahaannya, dua hari ini karena produksi berkurang, jadi korban pulang lebih cepat. Korban ditemukan di kamar mandi dalam posisi tertimbun," ungkapnya.
Proses pencarian korban pun berlangsung relatif cepat. Petugas gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, hingga relawan berhasil mengevakuasi korban dalam waktu sekitar 30 menit.
"Paling setengah jam, karena jarak longsoran dengan rumah sangat dekat," kata Eki.
Tebing di Belakang Rumah Jadi Ancaman
Dari hasil pemantauan sementara, longsor diduga dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur cukup lama. Tebing sepanjang sekitar 10 meter dengan tinggi delapan meter di belakang rumah warga tidak mampu menahan beban air dan tanah.
"Informasi sementara akibat tebing yang ada di belakang rumah yang sangat berdekatan. Ini nanti harus kita mitigasi lebih lanjut," jelas Eki.
Selain di Sukalarang, BPBD mencatat terdapat beberapa kejadian bencana lain di wilayah Kabupaten Sukabumi pada hari yang sama. Setidaknya ada empat titik terdampak, di antaranya di Kecamatan Nagrak, Sukalarang, dan Jampang Tengah yang dilaporkan cukup parah.
"Hari ini saja kalau tidak salah ada empat titik. Jampang Tengah itu yang agak parah," tutur Eki.
Ia menambahkan, kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan tersendiri. Meski secara kalender sudah memasuki masa peralihan ke musim kemarau, hujan dengan intensitas tinggi masih kerap terjadi.
"Memang diprediksi kita akan menuju musim kemarau, tapi karena perubahan iklim, kita harus tetap waspada. Keselamatan masyarakat harus diutamakan dan mengikuti arahan petugas," kata dia.
Ia pun mengimbau warga yang tinggal berdekatan dengan tebing atau yang berada di wilayah rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan turun.
"Kami menghimbau kepada warga yang rumahnya dekat dengan tebing, apabila terjadi hujan agar diwaspadai, bahkan kalau perlu sementara ditinggalkan demi keselamatan," ujarnya.
Saat ini, material longsoran dilaporkan masih menumpuk di lokasi. Satu keluarga terdampak terpaksa mengungsi, sementara kebutuhan mendesak berupa material bangunan mulai diinventarisasi oleh petugas di lapangan.
