Metode RTRGT, Cara Menyelamatkan Korban Tenggelam yang Benar

Metode RTRGT, Cara Menyelamatkan Korban Tenggelam yang Benar

Fauzan Muhammad - detikJabar
Sabtu, 18 Apr 2026 12:30 WIB
Ilustrasi menyelamatkan korban tenggelam
Ilustrasi menyelamatkan korban tenggelam (Foto: Freepik / rawpixel.com)
Bandung -

Perairan alami baik sungai maupun laut, sering kali menyuguhkan ketenangan semu yang menghanyutkan. Di balik permukaannya yang jernih atau deburan ombaknya yang indah, tersimpan fenomena yang bisa berubah menjadi perangkap maut dalam sekejap. Memahami bahaya ini bukan hanya soal kewaspadaan, melainkan pemahaman yang bisa menyelamatkan nyawa.

Tragedi di perairan sering kali terjadi bukan karena kurangnya kemampuan berenang, melainkan karena kegagalan dalam membaca tanda-tanda alam yang ekstrem. Banyak korban yang terjebak dalam kepanikan saat berhadapan dengan kekuatan arus yang tidak terduga.

Bahaya Sungai yang Sering Terjadi

Sungai memiliki karakteristik bahaya yang sangat spesifik dan sering kali terabaikan. Berbeda dengan kolam renang, sungai memiliki arus yang tidak terprediksi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu fenomena paling mematikan di sungai adalah Hydraulic Jump atau arus gulung, yang biasanya terbentuk di bawah bendungan kecil atau jeram. Fenomena ini menciptakan sirkulasi arus balik (backwash) yang dapat mengunci tubuh korban dalam putaran terus-menerus.

Selain itu, terdapat ancaman Strainer, yakni hambatan berupa akar pohon, bebatuan, atau tumpukan sampah yang membiarkan air lewat namun menahan benda padat. Tekanan ribuan liter air per detik akan menjepit tubuh korban dengan sangat kuat sehingga sulit melepaskan diri tanpa bantuan.

ADVERTISEMENT

Belum lagi risiko perubahan suhu yang seringkali terjadi di sungai daerah pegunungan. Masuk ke dalam sungai yang cenderung memiliki suhu rendah dapat memicu tarikan napas spontan yang membuat air masuk ke paru-paru sebelum korban sempat mulai berenang.

Bahaya Rip Current dan Undertow di Laut

Kekuatan arus yang tidak searah serta luasnya medan menjadi tantangan yang berbeda dengan sungai. Ancaman utamanya adalah fenomena rip current atau arus pecah, yang merupakan bentuk aliran air kuat dengan pergerakan sangat cepat dari pantai menuju ke tengah laut melalui celah sempit di antara gelombang. Kecepatan arus ini sering kali membuat korban tenggelam akibat kelelahan saat mencoba melawan arus secara lurus menuju daratan.

Fenomena undertow atau arus bawah permukaan yang kuat juga menjadi bayang-bayang kala berwisata di pantai. Fenomena ini terjadi saat ombak pecah dan air kembali ke laut di sepanjang dasar, sering kali menyeret perenang di bagian kaki. Tidak seperti rip current, undertow terjadi di sepanjang garis pantai dan umumnya lebih berbahaya bagi anak-anak atau perenang yang tidak siap.

Penyelamatan Korban Tenggelam

Bagaimana jika melihat langsung korban yang tengah tenggelam? Melakukan penyelamatan perlu menilai risiko yang akurat sebelum menyentuh air atau menjangkau korban. Penting untuk ditekankan bahwa fase Pra-Penyelamatan adalah tahap yang paling menentukan apakah sebuah insiden akan berakhir dengan penyelamatan yang sukses atau justru penambahan jumlah korban.

Β· Penolong harus tetap aman: Prinsip utama penyelamatan adalah jangan pernah menjadi korban berikutnya. Jika tidak memiliki pelatihan khusus dalam penyelamatan air atau tidak memiliki kemampuan renang yang mumpuni di arus deras, dilarang keras untuk terjun langsung ke dalam air. Sebaiknya mencari bantuan untuk membantu pertolongan.

Β·Pastikan lokasi pertolongan kondusif: Amati apakah tepian sungai tempat berdiri cukup kokoh atau justru rawan longsor akibat pengikisan air. Memastikan lingkungan aman berarti meminimalkan segala rintangan fisik seperti bebatuan tajam, licinnya lumut, atau hambatan sampah yang dapat menghambat proses evakuasi. Jika terjadi di laut, perhatikan jalur rip current yang bisa menarik saat proses penyelamatan sewaktu-waktu.

Meminimalisir Risiko dengan Metode Reach, Throw, Row, Go, Tow (RTRGT)

RTRGT dirancang sebagai panduan pengambilan keputusan bagi penolong untuk memilih tindakan dengan risiko terkecil namun efektivitas terbesar. Urutan ini bersifat kaku, dimana penolong dilarang melompat ke urutan bawah sebelum memastikan metode di atasnya tidak memungkinkan untuk dilakukan.

Singkatnya, RTRGT adalah jembatan antara niat baik untuk menolong dengan perhitungan untuk menyelamatkan. Berikut adalah penjelasan terperinci dari setiap poin dalam metode tersebut:

1. Reach (Jangkau)

Jika korban masih berada di dekat tepian (dermaga, pinggir sungai, atau kolam), jangan langsung melompat. Gunakan benda apa pun yang panjang untuk menjangkau mereka, seperti:

  • Galah atau bambu.
  • Dayung.
  • Pakaian atau handuk yang disambung.

Pastikan posisi tetap kokoh (tiarap atau berpegangan pada benda diam) agar tidak ikut tertarik masuk ke dalam air oleh beban korban.

2. Throw (Lempar)

Jika korban di luar jangkauan fisik, carilah benda yang dapat mengapung. Keuntungan dari metode ini adalah memberikan daya apung instan bagi korban untuk bernapas tanpa membahayakan penolong.

Benda yang disarankan: Ban pelampung, jerigen kosong yang tertutup rapat, botol plastik besar, atau bahkan bola.

Jika menggunakan tali, lemparkan sedikit melewati bahu korban agar tali tersebut mengenai tubuh mereka dan mudah diraih.

3. Row (Mendayung/Menggunakan Alat)

Apabila tersedia perahu, kano, atau papan selancar, gunakan alat tersebut untuk mendekati korban. Ini jauh lebih aman daripada berenang manual. Dekati korban dari arah yang tidak melawan arus agar perahu tidak menabrak mereka.

4. Go (Pergi Membantu/Masuk ke Air)

Ini adalah opsi terakhir dan hanya boleh dilakukan oleh mereka yang memiliki kemampuan renang mumpuni serta pelatihan penyelamatan air.

Jangan biarkan korban memeluk: Korban yang panik memiliki kekuatan luar biasa dan akan mencoba memanjat tubuh penolong untuk mendapatkan udara, yang justru akan menenggelamkan.

Bawa alat apung: Selalu bawa sesuatu (baju, pelampung) sebagai pembatas antara penolong dan korban. Jangan pernah mendekati korban yang panik tanpa membawa alat bantu sebagai pembatas.

5. Tow (Bawa/Tarik ke Darat)

Jika harus melakukan kontak fisik, dekati korban dari belakang. Pegang dagu atau ketiak mereka, pastikan wajah korban tetap berada di atas permukaan air, lalu berenanglah menuju tepian dengan satu tangan atau kaki.

Halaman 2 dari 2
(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads