Kasus Bayi Nyaris Tertukar, Ortu Somasi RSHS dan Ajukan Tes DNA

Kasus Bayi Nyaris Tertukar, Ortu Somasi RSHS dan Ajukan Tes DNA

Wisma Putra - detikJabar
Senin, 13 Apr 2026 19:52 WIB
Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Kota Bandung.
Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Kota Bandung. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Jakarta -

Kasus bayi nyaris tertukar di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Hasan Sadikin (RSHS) Bandung berbuntut panjang. Nina Saleha, ibu dari bayi tersebut, resmi melayangkan somasi kepada rumah sakit milik Kemenkes RI itu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun detikJabar, Nina didampingi tim kuasa hukumnya mendatangi RSHS pada Senin (13/4/2026). Kedatangan mereka bertujuan menemui Direktur Utama RSUP Dr Hasan Sadikin, Rachim Dinata Marsidi, namun yang bersangkutan dilaporkan tidak berada di tempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi kami, tim kuasa hukum ke RSHS untuk bertemu dengan dirut, terkait kasus ini kita ingin bertukar pikiran, memberikan info dan kita ingin mencari tahu," kata kuasa hukum Nina Saleha, Mira Widyawati saat dihubungi detikJabar via sambungan telepon.

"Tapi karena Dirutnya dibilang oleh bagian Biro Hukum masih ada acara, sehingga tidak bisa hadir, kita diskusi dengan pihak rumah sakit dan diwakili Biro Hukum, tapi tidak ada solusi, sehingga kita melayangkan surat somasi untuk pihak rumah sakit yang sudah kita siapkan," tambahnya.

ADVERTISEMENT

Mira menyebutkan, pihak Nina memberikan tenggat waktu kepada RSHS hingga tiga hari ke depan untuk menanggapi surat somasi tersebut. Jika tidak direspons, pihaknya mengancam akan melaporkan kejadian ini ke kepolisian.

"Surat somasi ini isinya poin-poin penting yang belum terungkap, dan kita kasih waktu 3x24 jam. Kalau tidak merespon maka kami akan melakukan pelaporan ke Bareskrim atau Polda Jabar," ungkap Mira.

Mira menegaskan bahwa Nina menuntut transparansi penuh dari pihak RSHS dalam menangani kasus ini agar peristiwa serupa tidak terulang.

"Maunya diungkap, dia tahu persis, dia mau tahu suster yang mana, satpamnya juga. Peristiwa ini ingin diusut," tegasnya.

Nina Ajukan Tes DNA

Selain somasi, Nina juga berencana mengajukan tes DNA. Hal ini dipicu oleh banyaknya pesan yang masuk melalui media sosialnya mengenai pengalaman serupa yang dialami orang lain di rumah sakit tersebut. Nina ingin memastikan bayi yang hampir berpindah tangan itu adalah benar darah dagingnya.

"Betul, kita mau ajukan tes DNA, sejak peristiwa ini mencuat banyak DM yang lahir di RSHS bertanya-tanya soal anaknya dan banyak sekali kasus yang tidak terungkap. Kita juga minta korban bersuara terkait masalah bayi tertukar," jelasnya.

Mira juga menyayangkan sikap Dirut RSHS yang tidak menemui mereka secara langsung untuk memberikan penjelasan.

"Kita merasa tidak puas, direspons seperti itu, tapi tak masalah, tapi bagi kami ini merupakan sikap yang tidak gantle dari pihak rumah sakit, kenapa dirutnya tidak mau menemui kita, padahal ini kesempatan besar mau sepeti apa?" ujarnya.

Meski Nina secara pribadi telah memaafkan pihak RSHS, Mira menekankan bahwa pemberian maaf bukan berarti kasus ini berakhir damai secara hukum. "Mereka menganggap ini sudah damai, perdamaian itu punya produk, damai itu ada dua belah pihak menyatakan sepakat bahwa kasus ini berhenti, tidak akan menuntut secara perdata atau pidana di kemudian hari," tuturnya.

"Tapi nyatanya mereka datang, minta maaf. Oke minta maaf? Dimaafkan, waktu itu mereka awam hukum, belum punya pengacara dan bentrok ada tim KDM yang memberikan bantuan, masih ngehang, rumah sakit sepihak, apakah permintaan maaf dan damai sama? Jadi pihak Bu Nina tidak mau dianggap seperti itu dan menolak damai," sambungnya.

Hingga saat ini, Mira menyatakan bahwa oknum perawat maupun sekuriti yang terlibat dalam insiden tersebut belum pernah menemui kliennya secara langsung. Hal ini memperkuat dugaan adanya kejanggalan dalam peristiwa tersebut.

"Belum. Belum pernah ada suster, satpam dan orang yang menerima bayi, tidak ada, hanya pihak rumah sakit aja," pungkasnya.

(wip/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads