Jerat Hubungan Seks dalam Kasus HIV di Bandung

Jerat Hubungan Seks dalam Kasus HIV di Bandung

Wisma Putra - detikJabar
Selasa, 14 Apr 2026 19:00 WIB
Ilustrasi HIV
Ilustrasi HIV. (Foto: iStock)
Bandung -

Hubungan seksual mendominasi 86 persen penyebab penularan HIV/AIDS di Kota Bandung. Sebagai langkah preventif, penggunaan kondom secara medis terbukti efektif menekan risiko infeksi hingga 95 persen. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Panel Ahli Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung, dr. Agung Firmansyah Sumantri.

Dalam upaya mengantisipasi penularan HIV/AIDS di Kota Bandung, Agung menyebutkan bahwa KPA juga gencar melakukan sosialisasi mengenai penggunaan kondom sebagai alat proteksi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita selalu mencoba pendekatan edukasi ke masyarakat tentang bahaya dan resiko HIV dan tentunya juga salah satu program dari KPA Kota Bandung itu ada program sosialisasi penggunaan kondom. Secara medis penggunaan kondom terbukti 95% bisa mencegah penurunan infeksi HIV," kata Agung saat dijumpai di Kantor KPA Kota Bandung, belum lama ini.

Agung berujar, edukasi penggunaan kondom ini bukan bertujuan untuk melegalkan perilaku seksual tertentu, melainkan murni untuk kepentingan kesehatan masyarakat.

ADVERTISEMENT

"Jadi kita bukan promosi perilaku seksualnya dan kita tidak mempromosikan kondom ini terhadap masyarakat luas, jadi hanya terhadap kelompok-kelompok yang beresiko. Kelompok beresiko itu siapa saja, pekerja seksual, seks laki, pengguna narkoba suntik, dan tempat-tempat yang memang kita anggap berisiko lah menularkan infeksi virus HIV," ungkapnya.

Agung menjelaskan bahwa pencegahan HIV tidak hanya bertumpu pada kondom, melainkan terdapat berbagai metode lainnya yang saling terintegrasi.

"Prinsipnya sih, strateginya ada istilah-istilah strategi pencegahan, A, B, C, D, E. Abstinence, tidak melakukan hubungan sama sekali. B, be faithful, jadi hanya ke satu orang saja, setia. C, use condom, terus D-nya itu don't use drugs, dan E-nya edukasi," terang Agung.

Agung menegaskan penggunaan kondom telah terbukti secara medis mampu mencegah penularan HIV hingga 95 persen.

"Cuman perlu ditekankan bahwa penggunaan kondom ini dalam kerangka kesehatan masyarakat gitu, kita bukan promosi perilaku seksual kepada masyarakat, apalagi pada remaja gitu untuk kita menggunakan kondom, tapi benar-benar memang selektif terhadap kerangka kesehatan masyarakat," tegasnya.

Disinggung mengenai banyaknya penularan melalui hubungan seks akibat mengabaikan penggunaan kondom, Agung mengamini hal tersebut.

"Iya, karena dari data pun, kasus terbanyak penularan HIV kan melalui hubungan seksual. Sampai dengan 86 persen. Sosialisasi ada. Malah kita disosialisasi untuk pembagian kondom gratis," ujarnya.

Kondom Kerap Dianggap Tabu

Menurut penuturan Agung, stigma negatif terhadap kondom masih melekat kuat di tengah masyarakat karena dianggap sebagai hal yang tabu. Namun, ia menekankan bahwa pemahaman terhadap kesehatan reproduksi sangatlah penting, mengingat kondom merupakan alat proteksi efektif untuk mencegah transmisi berbagai virus dan menjaga keamanan kesehatan jangka panjang.

"Kalau dikatakan tabu, mungkin masih ada ya. Cuma bahwa penekanananya di sini bahwa kita berusaha pendekatannya itu yang bersifat persuasif tadi. Terus tadi juga disebutkan berbasis komunitas. Sehingga yang diharapkan adalah perubahan perilaku terhadap komunitas atau orang yang memiliki resiko penularan," jelasnya.

"Jadi intinya dalam penanggulangan HIV ini tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah saja. Tapi harus dengan komunitas dan masyarakat juga harus ikut terlibat dalam penanggulangan HIV," sambungnya.

Terkait masih banyaknya masyarakat yang menyepelekan penggunaan kondom, Agung menilai hal tersebut kembali pada persoalan edukasi. "Mungkin kalau dibilang masih banyak, ya buktinya dengan angka HIV yang cukup tinggi, dengan resiko penularan seksual, kalau ini masih dari masyarakat, masih banyak yang menyepelekan juga sih penggunaan kondom," tuturnya.

Suami-Istri ODHIV Harus Pakai Kondom?

Pertanyaan mengenai kewajiban penggunaan kondom bagi pasangan suami istri dengan status ODHIV (Orang dengan HIV), baik salah satu maupun keduanya, masih sering menjadi perhatian masyarakat. Menurut Agung, penggunaan kondom tetap menjadi langkah pencegahan yang wajib dilakukan, terutama jika status kesehatan belum terkontrol sepenuhnya. Hal ini penting untuk meminimalisir risiko penularan yang tidak terduga dalam hubungan intim.

Meski demikian, terdapat kondisi tertentu yang memungkinkan pasangan tersebut untuk tidak menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Fleksibilitas ini bergantung pada pemahaman mendalam mengenai status kesehatan masing-masing dan efektivitas pengobatan yang sedang dijalani. Namun, keputusan tersebut tetap memerlukan edukasi medis yang tepat.

"Kalau misalkan salah satu pasangannya ada yang positif, kalau tidak diketahui itu beresiko. Tapi kalau memang salah satu pasangannya dia dengan kesadaran dirinya mau berobat, sampai dengan virusnya tidak terdeteksi, itu bisa tanpa kondom," tuturnya.

"Jadi resikonya akan semakin menurun. Jadi orang-orang dengan HIV yang sudah mendapatkan terapi ARV, kalau dia konsisten dan terus pengobatan, dia bisa hidup seperti orang normal dan bisa memiliki resiko penularannya sangat minim sekali," tambahnya.

Selain itu, Agung menekankan bahwa terapi ARV (Antiretroviral) sangat krusial bagi setiap ODHIV.

"Sangat-sangat penting. Ini kan termasuk dalam salah satu program ya, yang tadi kan temukan, suluh, obati, pertahankan. Ini masih bagian dari pengobatan tata laksana atau pencegahan dalam tata laksana sampai dengan pencegahan untuk pasien-pasien dengan HIV," tuturnya.

Dalam penanganan kasus HIV/AIDS, Agung menyatakan KPA Kota Bandung terus melakukan upaya penjangkauan secara konsisten. Tingginya temuan kasus saat ini membuktikan bahwa sistem deteksi di lapangan sudah berjalan masif. Agung pun mengajak masyarakat yang memiliki perilaku berisiko untuk segera melakukan pemeriksaan sedini mungkin.

"Ya, jadi kalau untuk masyarakat pada umumnya jangan ada stigma. Jangan ada stigmatisasi untuk pasien-pasien dengan HIV. Ataupun stigmatisasi terhadap populasi-populasi beresiko. Kita harus mnjangkau mereka, kita harus mendekatkan kepada mereka supaya mereka mau datang untuk berobat, mau datang untuk melakukan tes pemeriksaan HIV," terangnya.

"Nah, untuk orang-orang yang sudah dengan HIV positif, harus tetap semangat, harus tetap berobat, tidak boleh kutus berobatnya karena orang dengan HIV bisa hidup secara normal," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(wip/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads