Kemacetan di jalur Leuwiliang, Bogor sore itu tidak hanya memperlambat kendaraan. Di pinggir jalan, seorang pria berjalan kaki sambil membawa tas, sesekali menatap kendaraan yang melintas. Ia bukan sekadar berjalan, tapi sedang mencoba menghentikan nasibnya sendiri dengan cara menyegat tumpangan menuju Ibu Kota, Jakarta.
Pemandangan itu membuat Aiptu Suanthie John Letelay menepi. Dalam perjalanan pulang dari Babakan Sadeng, Minggu (12/4/2026). Polisi berpangkat bintara tinggi itu menghentikan motor di dekat pom bensin Cibanteng.
"Saya tanya, mau ke mana. Dia jawab, 'mau ke Jakarta'," ujar John memulai kisahnya kepada detikJabar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tawaran untuk dibonceng sempat ditolak pejalan kaki tersebut, namun akhirnya dia ikut motor yang dikendarai John.
"Awalnya enggak mau, tapi pas lihat pelat dinas dia mau," kata John.
Motor pun kembali melaju, membawa dua orang dengan tujuan yang berbeda, tapi untuk sementara berada di jalur yang sama. John sore itu lepas bersilaturahmi ke seorang rekannya di kawasan Dramaga.
Di atas motor, percakapan terbuka. Pria itu bernama Anggi, 31 tahun. Ia berjalan sejak selepas zuhur dari kampungnya di pedalaman Leuwiliang, Puraseda, Kabupaten Bogor. Jarak Puraseda ke Cibanteng dimana John dan Anggi bertemua adalah sekitar 22 kilometer. Waktu tempuh dengan berjalan kaki empat jam lebih, menurut aplikasi google map.
Rencana Anggi, yang bercerita ke John, cukup sederhana alasan dia berjalan kaku. "Dia bilang mau nyambung, nyegat kendaraan yang lewat," tutur John.
Tujuan akhirnya adalah Pasar Senen. Anggi ingin kembali ke toko kue yang pernah ia kenal.
"Sudah pernah kerja di sana, di seberang stasiun Pasar Senen," kata John menirukan cerita Anggi.
Setahun lalu ia sempat berada di sana, lalu pulang. Kini ia mencoba lagi, tanpa kepastian.
Perjalanan mereka sempat berhenti di Terminal Bubulak. John turun ke swalayan untuk menumpang buang air di kamar kecil swalayan. Di situ, rasa penasaran muncul.
"Saya minta lihat tasnya. Isinya cuma pakaian sama kue Lebaran setoples, enggak ada yang lain," ujar John.
Isi tas itu seperti menggambarkan perjalanan tanpa banyak cadangan. Tidak ada bekal cukup, selain niat untuk sampai.
Dalam obrolan di jalan, Anggi juga bercerita tentang kesehariannya. "Di kampung dia ikut orang, ke gunung gali lubang cari emas, kerja serabutan," kata John.
Desa Puraseda memang berada di punggung Gunung Pongkor tempat emas-emas dieksplor negara oleh perusahaan pelat merah. Namun, kata John, kadang penggalian itu membuahkan hasil, tapi lebih banyak pulang dengan tangan hampa.
Kepada John, Anggi bercerita bahwa orang tuanya masih ada. Namun ia tetap memilih pergi, menempuh jalan panjang meskipun tidak pasti. Jakarta satu-satunya harapan Anggi untuk bertahan hidup dari penghasilan sebagai penjaga toko kue.
John lalu memutuskan tidak sekadar memberi tumpangan. Ia memastikan perjalanan Anggi tidak kembali terputus di jalan.
"Saya kasih ongkos dan minta dia naek kereta (commuter line) saja. Tiketnya cuma Rp6.500," katanya.
Anggi akhirnya diantar hingga stasiun, agar bisa melanjutkan perjalanan dengan kereta.
Sebelum berpisah, ada nasihat sederhana yang disampaikan. "Saya sempat bilang, rapihin rambut dulu kalau mau cari kerja," ucap John.
Bagi anggota Bhabinkamtibmas Kelurahan Bojongkerta, Polsek Bogor Selatan ini, pertemuan dengan orang-orang baru seperti itu bukan pertama kali terjadi.
"Saya sering lihat orang jalan kaki. Saya suka kasih tumpangan ke mereka yang jalan, gratis," kata John.
Dia mengatakan, terkadang dari orang-orang yang baru dikenal itu dia banyak mendapat cerita dan perjalan hidup. Baginya, cerita setiap orang, apalagi yang baru dikenal, kerap membawa pada perenungan.
"Di balik pertemuan sederhana selalu ada pelajaran tentang perjuangan hidup dan kepedulian," kata John menutup ceritanya.
(yum/yum)
