Upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu. Perundingan yang digelar di Pakistan tidak menghasilkan kesepakatan apa pun untuk mengakhiri konflik yang tengah berlangsung.
Pembicaraan yang berlangsung maraton selama hampir satu hari penuh itu dinilai intens, namun belum mampu menjembatani perbedaan kedua pihak. Melansir detikNews, Wakil Presiden AS, JD Vance, mengakui bahwa diskusi yang dilakukan cukup substantif, meski hasilnya belum sesuai harapan.
"Kami telah melakukannya selama 21 jam, dan kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan pihak Iran. Itu kabar baiknya," kata Vance dalam konferensi pers di Islamabad.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, ia menegaskan bahwa hingga akhir pertemuan, belum ada kesepakatan yang tercapai.
"Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat. Jadi kita kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan," ujarnya.
Dari pihak Iran, juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei, menyebut perundingan berlangsung intensif. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan negosiasi sangat bergantung pada sikap Amerika Serikat.
Ia menyerukan agar Washington menahan diri dari tuntutan yang dinilai berlebihan dan tidak sesuai hukum internasional. Baqaei juga meminta agar AS menghormati hak serta kepentingan Iran.
Sejumlah isu krusial menjadi pokok pembahasan dalam perundingan tersebut, termasuk kontrol atas Selat Hormuz, program nuklir Iran, hingga upaya penghentian total perang.
Konflik antara Iran dan koalisi AS-Israel sendiri telah berlangsung sejak 28 Februari 2026. Serangan awal yang dilancarkan menyebabkan tewasnya Ayatollah Ali Khamenei, yang saat itu menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Sejak saat itu, eskalasi konflik terus meningkat. Iran melancarkan serangan balasan ke Israel dan berbagai fasilitas militer AS di kawasan Teluk.
Data korban menunjukkan dampak besar dari konflik ini. Di Iran, tercatat 2.076 orang tewas dan 26.500 lainnya terluka. Sementara di Israel, serangan balasan Iran menewaskan 26 orang dan melukai 7.451 orang.
Selain itu, sebanyak 13 tentara AS dilaporkan tewas dan sekitar 200 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Gagalnya perundingan ini menandai bahwa jalan menuju perdamaian masih panjang. Ketegangan antara kedua negara pun berpotensi terus berlanjut, seiring belum adanya titik temu dalam isu-isu utama yang menjadi sumber konflik.
Artikel ini sudah tayang di detikNews
