Pemprov Jabar Minta Perketat Layanan Kesehatan Buntut Kasus Bayi di RSHS

Pemprov Jabar Minta Perketat Layanan Kesehatan Buntut Kasus Bayi di RSHS

Rifat Alhamidi - detikJabar
Jumat, 10 Apr 2026 15:49 WIB
Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Kota Bandung.
Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Kota Bandung. Foto: Wisma Putra/detikJabar
Bandung -

Sekda Jawa Barat Herman Suryatman merespons insiden bayi yang nyaris tertukar di RSHS Bandung. Ia mengaku menyesalkan kejadian tersebut dan meminta pelayanan kesehatan di rumah sakit makin diperketat.

Sebagaimana diketahui, insiden itu viral setelah seorang ibu bernama Nina Saleha (27) membuat pengakuan di TikTok. Dia saat itu membeberkan bahwa bayinya nyaris tertukar ketika menjalani perawatan di ruang NICU RSHS Bandung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya kira tentu kita menyesalkan kejadian di RSHS. Tapi sekarang kita ambil hikmah agar di RSHS dan semua RSUD di 27 kabupaten/kota, bahkan rumah sakit swasta, kami mengimbau, kami mengharapkan agar lebih memperketat standar operasional prosedur layanan kesehatan, termasuk layanan untuk ibu dan anak," kata Herman, Jumat (10/4/2026).

Herman menekankan supaya tidak ada kekhawatiran dari masyarakat imbas insiden ini. Dia pun meminta agar kejadian tersebut tidak sampai terulang kembali di masa mendatang

ADVERTISEMENT

"Jangan sampai masyarakat ada kekhawatiran, tidak boleh itu. Ini saya kira prinsip dasar ya, masyarakat harus diberikan layanan terbaik. Kalau untuk layanan ibu dan anak, ibunya dipastikan sehat dan anaknya juga aman. Ya tidak boleh ada kejadian seperti kemarin, cukup sudah satu kali dan kita belajar dari kejadian itu," ungkapnya.

Pemprov Jabar kata Herman, sudah berkoordinasi dengan RSHS yang merupakan kewenangan Kementerian Kesehatan. Ia memastikan telah berkomunikasi dengan jajaran manajemen, sekaligus meminta supaya insiden ini tak lagi terulang.

"Kami sudah komunikasi dengan jajaran manajemen agar kejadian kemarin dijadikan cermin, tidak boleh terulang, dan lebih jauhnya semua layanan RSHS, termasuk layanan kedaruratannya, demikian juga untuk rumah sakit yang lain. Yang paling rentan itu layanan kedaruratan, dan kemudian layanan ibu dan anak. Semua harus diperhatikan, terutama layanan kedaruratan dan layanan ibu dan anak. Kita berikan layanan terbaik untuk masyarakat Jawa Barat," ucapnya.

Menutup pernyatananya, Herman meminta ada audit di RSHS. Audit tersebut untuk mengevaluasi supaya insiden tersebut tidak terulang.

"Ya, sekali lagi ini domainnya RSHS. Tetapi tentu Bu Kadis sudah kami minta komunikasi agar memastikan yang pertama tidak terulang kembali, dan yang kedua mendalami lebih jauh, mengaudit kenapa itu bisa terjadi. Kan untuk memastikan tidak terulang kembali harus diaudit dong. Yang kemarin kejadian itu, dan kemudian apakah standar operasional prosedurnya yang longgar, kita kan tidak paham nih. Apakah SOP-nya yang longgar, kurang ketat. Apakah manusia-manusia SDM-nya yang tidak taat SOP," katanya.

"Saya kira semua rumah sakit punya SOP. Tentu ya kita harus cek kembali ke RSHS. Yang jelas kami meminta untuk menelusuri, karena ini menyangkut keselamatan. Bukan hanya kesehatan, ini keselamatan rakyat. Dan tugas negara harus memberikan perlindungan," pungkasnya.

(ral/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads