Riuh rendah kawasan Warakas, Jakarta Utara, terasa berbeda saat sesosok wajah familiar melintas di trotoar. Bukan dengan tongkat sulap atau jargon "tolong dibantu ya" yang ikonik, Pak Tarno kini muncul dengan kursi roda yang menjadi tumpuan barunya.
Pesulap senior yang dulu kerap menghiasi layar kaca ini tengah berjuang melawan dampak stroke yang menggerogoti fisiknya. Meski langkahnya terhenti dan bicaranya tak lagi selancar dulu, api semangat di matanya belum padam. Ia memilih untuk tidak menyerah pada keadaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini, di atas kursi rodanya, Pak Tarno menyulap sisa tenaganya menjadi ikhtiar. Ia menjajakan aneka mainan dan aksesori anak-anak, berkeliling menyusuri gang-gang di sekitar tempat tinggalnya demi menyambung hidup.
Dikutip dari detikHot, Jumat (10/4/2026), saat ditemui di sela aktivitasnya, pria yang dikenal dengan kesederhanaannya ini menceritakan profesi barunya dengan nada yang tenang.
"Jualan mainan," kata Pak Tarno singkat ditemui di kawasan Warakas Jakarta Utara pada Kamis (9/4/2026).
Langkah baru sebagai pedagang kaki lima ini ternyata bukan hal yang baru kemarin sore ia lakoni. Pak Tarno mengaku sudah cukup lama bergelut dengan debu jalanan Warakas demi menjajakan dagangannya.
"Ya kurang lebih setahun," ujarnya.
Pemandangan di sisi kursi rodanya menjadi bukti nyata kemandirian sang pesulap. Berbagai barang dagangan tertata rapi, menempel pada kursi roda yang ia kemudikan sendiri menyisir jalanan.
"Iya," jawabnya saat ditanya apakah ia berjualan dengan berkeliling.
Di balik keterbatasan fisik akibat stroke yang dideritanya, terselip sebuah filosofi sederhana namun mendalam. Bagi Pak Tarno, berdagang bukan sekadar mencari rupiah, melainkan sebuah terapi jiwa dan raga untuk menjemput kesembuhan.
"Pengin sembuh. Bareng sakit tetap dagang karena pengin sembuh. Pengin sembuh, pengin dagang," tuturnya.
Keteguhan hati Pak Tarno menjadi potret nyata tentang martabat seorang seniman yang menolak untuk berpangku tangan. Di tengah cobaan kesehatan yang berat, ia tetap memilih jalan mandiri, membuktikan bahwa semangat hidup adalah keajaiban yang sesungguhnya.
(fbr/orb)










































